Minggu, 22 September 2024
makalah SUHU
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kalor adalah energi yang bisa merambat. Kapasitas kalor adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu benda satu satuan suhu. Perpindahan Kalor ada tiga macam yaitu Konduksi, Konveksi, dan Radiasi. Konduksi (hantaran panas) adalah rambatan kalor yang tidak di ikuti perpindahan massa. Konveksi (aliran panas) adalah rambatan kalor yang mengikuti perpindahan partikel-partikel zat perantara.Radiasi (pancaran kalor) adalah perpindahan kalor yang tidak memerlukan zat perantara.
Suhu merupakan salah satu jenis kalor. Suhu adalah tingkat derajat untuk menentukan seberapa panas atau dinginnya suatu benda. Suhu memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap mahkluk–mahkluk hidup sehingga pertumbuhannya benar–benar seakan tergantung padanya, terutama dalam kegiatan pertanian. Kita ambil contoh tumbuhan–tumbuhan dimana tanaman layaknya mempunyai keinginan akan suhu tertentu, artinya tanaman itu tidak akan tumbuh dengan baik bila syaratnya tidak terpenuhi, juga berpengaruh pada proses pematangan buah makin tinggi suhu makin cepat proses pematangan buah.
Untuk kepentingan ilmu dan teknologi ilmu dan teknologi, pengukuran suhu harus dilakukan dengan menggunakan alat ukur agar hasilnya akurat. Alat ukur suhu yang dapat memberikan hasil akurat adalah termometer. Secara Umum skala pada termometer terbagi empat, yaitu skala termometer Celcius, skala termometer Reamur, skala termometer Kelvin dan skala termometer Fahrenheit. Untuk menentukan sistem skala suhu digunakan titik acuan bawah dan titik acuan atas. Kita pasti sudah sering mendengar istilah termometer bahkan sudah pernah melihatnya atau menggunakannya. Prinsip kerja termometer memanfaatkan sifat-sifat fisis benda atau zat akibat perubahan suhu. Perubahan ini, yaitu perubahan volume karena proses pemuaian dan penyusutan. Pemuaian dan penyusutan akan kita pelajari lebih jauh pada kesempatan yang akan datang dalam bahasan khusus tentang pemuaian.
Pada umumnya termometer dibuat dengan memanfaatkan gejala perubahan volume suatu zat cair yang ditempatkan di dalam pipa kapiler.Untuk mengetahui seberapa besar pemuaian atau penyusutan yang terjadi pada zat cair tersebut ketika terjadi perubahan suhu dibuat skala pada pipa kapiler tersebut. Pembuatan skala pada termometer diawali dengan menetapkan dua titik tetap sebagai acuaan, yaitu titik bawah dan titik atas.Kemudian jarak diantara dua titik acuan tersebut dibagi menjadi satuan derajat atau persepuluhan derajat disesuaikan dengan tingkat ketelitian.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Apa pengertian suhu?
2. Apa sajakah jenis-jenis termometer ?
3. Apa saja jenis-jenis skala pada suhu ?
4. Bagaimana cara mengkonversi skala suhu satu ke skala suhu lainnya ?
5. Apa akibat dari perubahan suhu ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Dapat memahami pengertian suhu.
2. Dapat mengetahui jenis-jenis termometer.
3. Dapat menunjukkan jenis-jenis skala pada suhu.
4. Dapat memahami cara mengkonversi skala suhu satu ke skala suhu lainnya.
5. Dapat menjelaskan dampak dari perubahan suhu.
BAB II
ISI
2.1 Keluasan Materi Suhu dan Perubahannya
Keluasan cakupan materi berarti menggambarkan seberapa banyak materi-materi yang harus dimasukkan dalam suatu materi pembelajaran. Pada keluasan materi dari suhu dan perubahannya. Adapun keluasan materi dari suhu dan Perubahannya berdasarkan KI dan KD yang diambil dari lampiran PermenDikbud No. 21 tahun 2016. Materi suhu dan perubahannya ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Disini dijelaskan pula pula bahwa kompetensi dasar yang harus dicapai siswa yakni untuk dapat mengkonversikan atau merubah skala suhu satu ke skala suhu yang lainnya. Diketahui bahwa skala suhu ada empat, yakni skala Celcius, Fahrenheit, Reamur dan Kelvin.
Secara kualitatif, kita dapat mengetahui bahwa suhu adalah sensasi dingin atau hangatnya sebuah benda yang dirasakan ketika menyentuhnya. Secara kuantitatif, kita dapat mengetahuinya dengan menggunakan termometer. Suhu dapat diukur dengan menggunakan termometer yang berisi air raksa atau alkohol. Kata termometer ini diambil dari dua kata yaitu thermo yang artinya panas dan meter yang artinya mengukur (to measure).
Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut.
Suhu sebuah benda adalah tingkat (derajat) panas suatu benda. Benda yang panas mempunyai derajat panas lebih tinggi daripada benda yang dingin. Hasil kegiatan penyelidikanmu menunjukkan bahwa indra perasa memang dapat merasakan tingkat panas benda. Akan tetapi, indra perasa bukan pengukur tingkat panas yang andal. Benda yang tingkat panasnya sama dirasakan berbeda oleh tangan kanan dan kirimu. Jadi, suhu benda yang diukur dengan indra perasa menghasilkan ukuran suhu kualitatif
yang tidak dapat dipakai sebagai acuan. Suhu harus diukur secara kuantitatif dengan alat ukur suhu yang disebut termometer.
Alat pengukur suhu adalah termometer. Secara umum termometer terbagi tiga, yaitu termometer Celcius, termometer Reamur, termometer Kelvin dan termometer Fahrenheit.Untuk menentukan sistem skala suhu digunakan titik acuan bawah dan titik acuan atas.
Guru memberikan keluasan materi pada siswa yakni:
• Apa itu suhu
• Jenis-jenis termometer
• Macam-macam skala suhu
• Cara pengkonversian skala suhu satu ke skala suhu lainnya
• Akibat perubahan suhu
2.2 Kedalaman Materi Suhu dan Perubahannya
A. Apa itu Suhu
Suhu adalah tingkat derajat panas suatu benda. Benda yang panas memiliki suhu yang tinggi, dan benda yang dingin memiliki suhu yang rendah. Jika suatu benda mendapat panas (kalor), maka suhu benda akan naik, sebaliknya jika benda didinginkan maka suhu benda akan turun (rendah).
B. Jenis-Jenis Termometer
Suhu harus diukur secara kuantitatif dengan alat ukur suhu yaitu termometer. Termometer pertama kali ditemukan oleh Galileo Galilei (1564-1642). Zat cair pengisi termometer yang sering digunakan adalah air raksa dan alkohol.
1. Macam-macam termometer berdasarkan jenis zat ukur yang digunakan.
a. Termometer raksa
Termometer raksa dibuat dari tabung kaca yang berisi air raksa. Prinsip kerjanya, jika suhu naik maka air raksa dalam tabung akan ikut naik begitu juga sebaliknya.
Keuntungan termometer raksa adalah:
• Mudah dilihat skalanya karena air raksa mengkilat
• Cepat bereaksi dengan perubahan suhu
• Berubah secara teratur saat suhu berubah
• Tidak membasahi dinding kaca
• Rangkaian suhunya -38°C sampai dengan 350°C
Kelemahan termometer air raksa:
• Tidak bisa mengukur suhu dibawah -38°C.
• Termasuk zat cair yang beracun, sehingga jika kaca pecah akan berbahaya.
• Harga lebih mahal
b. Termometer alkohol
Termometer alkohol adalah termometer yang bahan pengukur skalanya dari alkohol. Prinsip kerjanya, jika suhu naik maka alkohol yang berada didalam tabung kaca akan ikut naik.
Kelebihan termometer alkohol
• Titik beku lebih rendah daripada titik beku raksa, sehingga cocok digunakan untuk mengukur suhu yang rendah.
• Alkohol tidak berbahaya , sehingga relative lebih aman digunakan untuk pengisi termometer.
Kelemahan termometer alkohol
• Alkohol membasahi dinding (menempel) pada dinding kaca, sehingga mengganggu peglihatan.
• Tidak bewarna, sehingga tidak mudah dilihat dari luar.
• Pemuaian tidak merata.
• Titik didih rendah, sehingga tidak mampu mengukur suhu yang terlalu tinggi.
1. Macam-macam termometer berdasarkan cara memakainya.
Berdasarkan penggunaannya, termometer dibedakan menjadi
a. Termometer laboratorium
• Alat ini biasanya digunakan untuk mengukur suhu yang air yang dingin atau suhu air yang sedang dipanaskan.
b. Termometer ruang
• Dipasang pada tembok ruang digunakan unutuk mengukur suhu udara pada suatu saat.
• Skala termometer ruang adalah -50°C karen ada suhu udara yang dibawah 0°C dan suhu udara tidak pernah melebihi dari 50°C.
c. Termometer klinis
• Digunakan untuk mengukur suhu tubuh manusia.
• Pada keadaan sehat suhu tubuh kita sekitar 37°C
• Skala termometer klinis sekitar 35°C sampai 42°C karena suhu tubuh kita tidak mungkin dibawah 35°C dan tidak pernah melebihi 42°C.
• Termasuk termometer maksimum, karena selalu menunjukkan suhu tertinggi yang diukur.
• Pipa di bagian bawah dekat labu dibuat sempit sehingga pengukuran lebih teliti akibat raksa yang tidak segera turun ke labu.
• Termometer biasanya dijepitkan pada ketiak, da nada pula yang ditempelkan pada dahi dalam penggunaannya.
d. Termometer six-Bellani (termometer maksimum-minimum)
• Termometer ini dapat mencatat suhu tinggi dan suhu terendah pada jangka waktu tertentu.
• Zat ukur suhunya menggunakan alkohol.
2. Macam-macam termometer berdasarkan penemuannya.
No Jenis termometer Penemu Titik tetap Jumlah skala satuan
Bawah Atas
1 Celcius Andreas Celcius 0° 100° 100 Derajat Celcius (°C)
2 Reamur Reamur Lprancis 0° 80° 80 Derajat Reamur (°R)
3 Fahrenheit Gabriel D. Fahrenheit 32° 212° 180 Derajat Fahrenheit (°F)
4 Kelvin Lord Kelvin 273° 373° 100 Kelvin (°K)
C. Macam-macam skala suhu
1. Skala Fahrenheit
Termometer yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah termometer yang memanfaatkan sifat pemuaian zat cair khususnya air raksa. Termometer jenis air raksa ini pertama kali dibuat oleh seorang ahli fisika berkebangsaan Jerman bernama Gabriel Daniel Fahrenheit (1686-1736). Fahrenheit membuat skala termometer dengan menggunakan titik tetap bawahnya adalah suhu es yang sedang mencair diberi batas 32 dan titik tetap atasnya adalah suhu air sedang mendidih pada tekanan udara 1 atmosfer yang diberi batas 212.Jadi, menurut Fahrenheit jarak antara titik tetap bawah dan titik tetap atas termometer adalah 180 satuan skala (180= 212-32).Selanjutnya skala ini disebut skala Fahrenheit.
2. Skala Celcius
Seorang astronom berkebangsaan Swedia bermawa Anders Celcius (1701-1744) juga membuat termometer dengan menetapkandua titik acuan. Titik tetap bawah dari suhu es yang sedang mencair diberi batas 0 dan titik tetap atas dari suhu air yang sedang mendidih diberi batas 100. Catatan, tekanan udara ketika air mendidih sebesar 1 atmosfer (atm).Jadi, menurut skala Celcius jarak antara titik tetap bawah dan titik tetap atas adalah (100= 100-0). Selanjutnya skala ini diebut skala Celcius. Skala Fahrenheit pada awalnya banyak digunakan di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, namun saat ini sudah mulai diganti dengan skala Celcius.
3. Skala Kelvin
Meskipun sudah ada dua skala suhu, yaitu skala Fahrenheit dan skala Celcius, namun dalam bidang keilmuan para ilmuwan telah lebih sering menggunakan skala Kelvin. Seorang ahli fisika berkebangsaan Skotlandia bernama Sir William Thomas Kelvin (1824-1907) juga membuat skala termometer. Pada skala ini, cara penetapan titik acuan bawah tidak menggunakan suhu es yang sedang mencair akan tetapi berdasarkan keadaan titik nol mutlak. Keadaan nol mutlak (absolute zero) menyatakan bahwa benda pada suhu tersebut tidak emiliki energi sama sekali. Dengan kata lain, molekul-molekul penyusun benda tidak bergetar sama sekali.
Menurut skala Kelvin, es mencair pada suhu 273 K dan air mendidih pada suhu 373 K dengan tekanan udara sebesar 1 atmosfer. Jadi, skala Kelvin memiliki jarak skala yang sama dengan skala Celcius, yaitu 100 satuan skala (373-273= 100). Namun, perhatikan cara penulisan satuan skala Kelvin , yaitu penulisan satuan skala Kelvin ditulis tanpa simbol derajat ( contoh 50 K). adapun untuk skala Celcius, skala Fahrenheit dan skala Reamur ditulis dengan simbol derajat ( contoh 0°C, 0°R dan 50°F).
4. Skala Reamur
Skala Reamur adalah skala suhu yang dinamakan oleh Rene Antonie Ferchault de Reamur, yang pertama mengusulkannya pada 1731. Titik beku air adalah 0 derajat Reamur, titik didih air 80 derajat Reamur, ditulis 40°R untuk penulisan 40 derajat Reamur. Skala ini mulanya dibuat dengan alkohol, jadi termometer Reamur yang dibuat dengan raksa sebenarnya bukan termometer Reamur sejati. Skala Reamur digunakan secara luas di Eropa, terutama di Perancis dan Jerman, tapi kemudian digantikan oleh Celcius. Saat ini skala Reamur jarang digunakan kecuali di industri permen dan keju.
Table 1. Skala Pada Termometer
Skala Termometer Titik Tetap Bawah Titik Tetap Atas Selang Perbandingan
(Suhu es mencair) (suhu air mendidih)
Fahrenheit 32° 212° 180° 9
Celcius 0° 100° 100° 5
Kelvin 273 373 100 5
Reamur 0° 80° 80° 4
Cara pengkonversian skala suhu satu ke skala suhu lainnya
Pengubahan atau konversi dari satu skala ke skala yang lain dapat dilakukan dengan membandingkan selang setiap skala tersebut sehingga diperoleh persamaan-persamaan tertentu. Misalnya, jika mengubah dari skala Fahrenheit ke skala Celcius, cukup membandingkan skala Celcius dengsn skala Fahrenheit. Satu satuan skala Celcius sesuai dengan 180/100=9/5 satu satuan skala Fahrenheit. Jadi, 1 skala C= 9/5 skala F.
Penentuan konversi antarskala termometer dapat dilakukan dengan membandingkan selang titik atas dan titik bawah skala.Perlu diingat, untuk skala yang titik bawahnya tidak nol, nilainya harus dikurangi dengan titik bawah skala. Misalnya, untuk konversi Fahrenheit ke Kelvin dapat dilakukan dengan cara:
(TK-273)/(T°F-32)= 100/180 atau (TK-273)/(T°F-32)= 5/9
Perhatikan persamaan antara skala termometer Celcius, Fahrenheit, Reamur, dan Kelvin.
Celcius, Reamur, Fahrenheit, dan Kelvin memiliki perbandingan:
Skala C: skala R: skala F: skala K= 100: 80: 180: 100
(C-0): (R-0): (F-32): (K-273)= 5: 4: 9: 5
Maka, perbandingan skalanya menjadi:
C: R: (F-32): (K-273)= 5: 4: 9: 5
E. Akibat perubahan suhu
Jika suhu naik, secra umum ukuan benda akan bertambah. Peristiwa ini disebut pemuaian. Pemuaian terjadi zat padat, cair dan gas.
1. Pemuaian pada zat padat
a. Pemuaian panjang
Pemuian panjang adalah pertambahan panjang batang logam karena mendapat panas.
Rumus pertambahan panjang
∆l=αl_0 ∆T
Rumus panjang akhir setelah batang logam dipanaskan pada suhu t°C
l_0=l_0 (1+α∆T)
Keterangan
l_0= panjang batang logam mula-mula ( m atau cm)
l= panjang batang logam setelah dipanaskan ( m atau cm)
∆l=l-l_0= pertambahan panjang( m atau cm)
∆T=T-T_0= perubahan suhu (°C)
α= koefisien muai panjang
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertambahan panjang adalah:
Sebanding dengan kenaikan suhu
Sebanding dengan panjang batang mula-mula.
Tergantung pada jenis logam.
Pemuaian Luas
Pemuaian luas adalah pertambahan luas logam bila dipanaskan
persamaan/rumus yang berlaku pada pemuaian luas :
∆A=βA_0.∆T
∆A=2αA_0.∆T
Karena ∆A=A_t-A_0
A=A_0 (1+β.∆T)
Atau
∆A=A_0 (1+2α.∆T)
Keterangan:
A_0= luas mula-mula ( cm2 atau m2)
A_t= luas akhir setelah dipanasi ( cm2 atau m2)
∆A= pertambahan panjang( cm2 atau m2)
∆T=T-T_0= perubahan suhu (°C)
α= koefisien muai panjang
β= koefisien muai luas
Pemuiaian Volume
Permauian volume adalah logam yang mnegalami pertambahan panjang, lebar dan tinggi.
Dirumuskan :
∆V=γ.V_0.∆T
atau
∆V=3α.V_0.∆T
Karena ∆A=A_t-A_0
V=V_0 (1+γ.∆T)
Atau
V_t=V_0 (1+3α.∆T)
Keterangan:
V_0= luas mula-mula ( cm 3 atau m3)
V_t= luas akhir seelah dipanasi ( cm 3 atau m3)
∆V= pertambahan panjang( cm 3 atau m3)
∆T=T-T_0= perubahan suhu (°C)
α= koefisien muai panjang
γ= koefisien muai volume
Pemuaian pada zat cair
Zat cair tidak mengalami perubahan panjang. Karena bentuknya tidak tetap zat cair umumnya mengalami pertambahan volume. Contoh: jika memasukkan air ke ceret dan dipanaskan maka air dicerek tadi akan tumpah.
Pemuaian gas
Gas mmemuai jika dipanaskan, pemanasan terhadap gas dapat dilakukan dengan kondisi: tekanan tetap, volume tetap, serta tekanan dan volume tidak tetap.
Pemanasan gas pada tekanan tetap
Rumus:
V_1/T_1 =V_2/T_2
Keterangan :
V1 = volume awal (m3)
V¬2 = volme akhir (m3)
T1 = suhu awal (Kelvin)
T¬2 = suhu akhir (Kelvin)
Urutan Penyajian (Sequence) Materi Suhu dan Perubahannya
Urutan penyajian berguna untuk menentukan urutan proses pembelajaran. Tanpa urutan yang tepat, jika di antara beberapa materi pembelajaran mempunyai hubungan yang bersifat prasyarat (prerequisite) akan menyulitkan peserta didik dalam mempelajarinya.
Pendekatan prosedural
Pendekatan prosedural adalah kedudukan beberapa kompetensi yang menunjukkan satu seri urutan penampilan kompetensi, tetapi tidak ada yang menjadi kompetensi prasyarat untuk yang lainnya. Contoh: dalam memberi materi seorang guru harus memberi materi yang sesuai dengan proseduralnya.
Pendekatan hierarkis
Pendekatan ini dikembangkan oleh Robert Gagne (1965), hierkaki menggambarkanurutan kemampuan bawahan apa yang mula-mula harus dikuasai siswa, berturut-turut sampai pada kemampuan bawahan terakhir. Urutan materi pembelajaran secara hirarkis menggambarkan urutan yang
bersifat dari bawah ke atas atau dari atas ke bawah. Materi sebelumnya harus dipelajari dulu sebagai prasyarat untuk mempelajari materi berikutnya.
Materi suhu dan perubahannya ini termasuk dalam pembahasan kalor. Yakni BAB-nya adalah kalor dan Sub-Babnya adalah suhu dan perubahannya. Adapun urutan penyajian materi untuk materi suhu dan perubahannya tentunya peserta didik harus mengetahui apa itu kalor lalu memahami bahwa suhu adalah salahsatu jenis kalor. Selain itu peserta didik juga tentu harus memahami pengertian suhu.
Pembelajaran materi terkait suhu dan perubahannya ini didapatkan saat belajar di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) tepatnya kelas VII semster ganjil atau gasal. Setelah peserta didik mengetahui pengertian suhu, urutan selanjutnya adalah apa alat yang biasa digunakan untuk mengukur suhu lalu menyebutkan jenis-jenis termometer (alat pengukur suhu), kemudian macam-macam skala pada suhu. Adapula hal lain yang akan dibahas selanjutnya adalah bagaimana cara mengkonversi atau mengubah skala suhu satu ke skala suhu lainnya dan yang terakhir yaitu akibat atau dampak dari perubahan suhu.
2.4 Penerapan (Application) Suhu dan Perubahannya
Penerapan materi suhu dan perubahannya di kehidupan sehari-hari tentu sangat banyak dan sangat sering ditemui. Namun sebenarnya terkait dengan suhu dan perubahannya ini kalimat yang tepat untuk menggambarkannya adalah bagaimana kejadian atau contohnya dalam kehidupan nyata. Karena suhu maupun perubahannya ini sangat dekat sekali dengan kehidupan sehari-hari maka mungkin akan lebih mudah untuk memahaminya.
Contoh kejadian nyata dalam kehidupan sehari-hari terkait dengan suhu dan perubahanya adalah pemuaian. Pemuaian adalah hal yang terjadi akibat pertambahan panjang dan volume pada benda. Pemuaian pun ada pengklasifikasiannya lagi. Seperti pemuaian pada zat cair, pemuaian pada zat padat dan pemuaian pada gas. Sedangkan lebih spesifik lagi penjelasan terkait pemuaian zat cair yang kejadiannya sangat dekat dengan kehidupan adalah saat kita memanaskan air. Saat memanaskan air otomatis yang terjadi suhunya adalah naik. Saat itu pula terjadi proses pemuaian pada maupun air. Tetapi pemuaian pada panci lebih kecil dibandingkan pemuaian pada air.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Suhu adalah derajat panas atau dingin yang ditimbulkan oleh suatu benda.
2. Alat pengukur suhu yang digunakan yaitu termometer. Berdasarkan jenis zat ukur yang digunakan termometer dibedakan menjadi dua, yakni termometer raksa dan termometer alkohol. Sedangkan macam-macam termometer berdasarkan cara pemakaiannya yaitu termometer laboratorium, termometer ruang dan termometer klinis. Adapula macam-macam termometer berdasarkan penemuannya yaitu termometer Celcius, termometer Reamur, termometer Fahrenheit, dan termometer Kelvin.
3. Skala pada termometer terbagi empat, yaitu skala termometer Celcius, skala termometer Reamur, skala termometer Kelvin dan skala termometer Fahrenheit.
4. Cara mengkonversi skala suhu dari Celsius, Fahrenheit, dan Reamur adalah dengan mengingat perbandingan C:F:R= 5:9:4. Caranya, adalah (Skala tujuan)/(Skala awal)xSuhu.
5. Perubahan yang ditimbulkan akibat suhu diantaranya adalah: jika suhu naik, secara umum ukuran benda akan bertambah. Peristiwa ini disebut pemuaian. Permuaian dibedakan lagi menjadi: pemuaian pada zat padat, pemuaian pada zat cair dan pemuaian gas.
3.2 Saran
Berdasarkan uraian pada makalah ini, kami selaku penulis menyarankan kepada pembaca agar memahami hal-hal yang berkenaan dengan suhu dan perubahannya. Setelah alat ukur suhu, bagaimana cara mengukur suhu dan mengkonversikannya ke bentuk skala yang lain, pembaca hendaknya benar-benar memahami dan dapat menerapkan di kehidupan sehari-hari. Ada juga pembahasan mengenai akan dampak dari perubahan suhu, hal ini dimaksudkan agar pembaca memahami bahwa suhu dan perubahnnya memang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Hajid, Muhammad. 2015. Buku Master SMP-MTS. Jakarta: Puspa Swara
Hartanto, Hendri.2015. Mini Smart Book Fisika SMP. Yogyakarta: Indonesia Tera
Mundilarto, Istiyono, Edi. 2007. Fisika 1 Kelas VII. Jakarta: Yudhistira
Wahono, Widodo dkk. 2013. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang
Wahono, Widodo dkk. 2013. Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Politeknik Negeri Media Kreatif
Winarsih, Anni dkk. 2008. IPA Terpadu SMP/MTs Kelas VII. Jakarta: Grasindo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar