Sabtu, 26 Mei 2018

PROPOSAL PTK



UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X MIPA 4 DI SMAN 2 MUARA JAMBI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM ACCELERATED INSTRUCTION  PADA MATERI IMPULS DAN MOMENTUM

PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan untuk menyusun SKRIPSI pada Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh
Yuhani Agustri
A1C315034

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI

2018

BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Fisika merupakan ilmu yang mempelajari tentang fenomena alam. Kajian fisika meliputi hal yang besar dan yang kecil, yang lama dan yang baru. Dari atom hingga galaksi, fisika menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari.  Oleh karenanya fisika dipelajari sejak Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Semakin tinggi jenjang pendidikan akan semakin dalam pula bahasan fisikanya. Sehingga kenyataannya semakin tinggi jenjang pendidikan, pelajaran fisika dianggap semakin sulit.
Salah satu materi yang dipelajari dalam pembelajaran Fisika di tingkat SMA adalah impuls dan momentum. Materi ini mempelajari mengenai konsep Momentum, Impuls, Tumbukan lenting sempurna, lenting sebagian, dan tidak lenting. Materi ini merupakan salah satu materi yang sulit dipahami oleh siswa kelas X Mipa 4.
Berdasarkan observasi penulis ketika memberikan angket motivasi kepada siswa kelas X Mipa 4 di SMA Negeri 2 Muara Jambi bahwa sebagian siswa kelas X Mipa 4 masih beranggapan bahwa fisika sebagai mata pelajaran yang paling sulit atau membosankan diantara sekian banyak mata pelajaran sehingga kurang diminati. Guru yang mengajar fisika juga menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas X Mipa 4 tergolong rendah dibanding kelas X Mipa lainnya.
Hal ini berawal dari proses pembelajaran bersifat teacher centered bukan student centered yaitu guru sebagai sumber informasi dan sumber pengetahuan. Hal ini berarti proses pembelajaran didominasi penyampaian informasi oleh guru, bukan pada pemrosesan informasi yang diterima siswa sehingga pembelajaran kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dan menunjukkan kemampuan yang beragam sehingga belum tercipta suasana yang demokratis. Akibatnya siswa kurang berperan aktif dalam proses pembelajaran.
Kurangnya keaktifan siswa pada mata pelajaran fisika tidak hanya disebabkan oleh siswa sendiri, namun kesulitan guru dalam memilih model pembelajaran untuk penyampaian materi juga merupakan salah satu masalah yang dihadapi guru di SMA Negeri 2 Muara Jambi dalam proses pembelajaran di kelas. Dikarenakan kurang tepatnya model pembelajaran yang dipilih oleh guru sehingga menciptakan suasana yang membuat siswa cepat merasa bosan terhadap pelajaran fisika. Contohnya guru yang sering menggunakan model pembelajaran langsung, ketika kegiatan belajarnya bisa dilihat  siswa asyik sibuk sendiri, mulai dari mengobrol, atau menggambar sehingga kurangnya siswa yang memperhatikan penjelasan guru dan akhirnya siswa menjadi tidak paham dengan materi yang telah disampaikan.
Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk masalah tersebut, maka guru dapat menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa diharapkan sistwa termotivasi dalam belajar. Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan keaktifan siswa dan diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar adalah model pembelajaran Kooperatif tipe Team Accelerated Instruction (TAI).
Pembelajaran kooperatif merupakan model belajar yang menempatkan siswa pada kelompok-kelompok yang berkategori. Dalam pembelajaran kelompok setiap anggota akan bekerja sama dalam memahami suatu bahan pelajaran dan belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompoknya belum menguasai bahan pelajaran tersebut.
Menurut Slavin model pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa tipe, salah satu diantaranya adalah Team Accelerated Instruction (TAI). Tipe Team Accelerated Instruction (TAI) bertujuan untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara individual. Kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan masalah, ciri khas pada tipe Team Accelerated Instruction (TAI)  ini adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang sudah  dipersiapkan oleh guru. Motivasi belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Setelah melalui proses belajar siswa diharapkan motivasi belajar siswa meningkat.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan Alsa (2011) yang berjudul Pengaruh Model Pembelajaran  Team Accelerated Instruction (TAI) terhadap Motivasi Belajar Fisika diperoleh motivasi bahwa adanya perbedaan motivasi belajar fisika yang sangat signifikan antara kelompok yang diajar dengan model pembelajaran Team Accelerated Instruction (TAI) dan kelompok yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Kelompok yang diajar dengan model pembelajaran Team Accelerated Instruction (TAI) rata-rata motivasi fisikanya lebih tinggi daripada kelompok yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Berdasar kenyataan tersebut, model pembelajaran Team Accelerated Instruction (TAI) tidak hanya efektif meningkatkan motivasi belajar fisika, tapi juga efektif untuk meningkatkan motivasi belajar mata pelajaran lain, sepanjang karakteristik materinya dapat dirancang dalam bentuk tugas-tugas yang menciptakan iklim saling ketergantungan positif dan konstruktif di antara siswa, sehingga menuntut mereka harus bekerjasama secara optimal di dalam masing-masing kelompok belajar untuk mencapai tujuan atau target pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan diatas, peneliti akan melakukan penelitian yang berjudul Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas X MIPA 4 di SMAN 4 Muara Jambi dengan Menggunakan Model Pembelajaran Team Accelerated Instruction  Pada Materi Impuls dan Momentum.

1.1              Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.                  Bagaimanakah penerapan model pembelajaran Team Accelerated Instruction sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar siswa di kelas X Mia 4 SMAN 2 Muara Jambi pada materi Impuls dan Momentum?
2.                  Apakah penerapan model pembelajaran Team Accelerated Instruction dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X Mia 4 SMAN 2 Muara Jambi pada materi Impuls dan Momentum?

1.2              Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan, maka tujuannya adalah:
1.                  Untuk mengetahui penerapan model pembelajaran Team Accelerated Instruction sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar siswa di kelas X Mia 4 SMAN 2 Muara Jambi pada materi Impuls dan Momentum.
2.                  Untuk mengetahui peran model pembelajaran Team Accelerated Instruction dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X Mia 4 SMAN 2 Muara Jambi pada materi Impuls dan Momentum.

1.3              Manfaat Penelitian
1.                  Bagi Siswa
1.1              Selama proses pembelajaran siswa lebih aktif.
1.2              Menumbuhkan kemampuan kerjasama, komunikasi, serta mengembangkan keterampilan berfikir siswa.
1.3              Siswa merasa senang karena dilibatkan selama proses pembelajaran.
1.4              Meningkatkan aktifitas belajar siswa dalam memecahkan masalah fisika.
1.5              Meningkatkan motivasi belajar fisika siswa.

2.                  Bagi Guru
2.1              Sebagai motivasi untuk meningkatkan keterampilan mengajar dengan memilih model pembelajaran yang bervariasi.
2.2              Meningkatkan kinerja profesionalisme guru.
2.3              Guru termotivasi melakukan penelitian sederhana yang bermanfaat bagi perbaikan selama proses pembelajaran.

3.                  Bagi Sekolah
Meningkatkan mutu pendidik khususnya pada mata pelajaran fisika.

4.                  Bagi Peneliti
Dapat mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran Team Accelerated Instruction dalam meningkatkan hasil belajar fisika siswa.

BAB II
KAJIAN TEORITIK
1.1          Kajian Teori dan hasil penelitian yang relevan
1.1.1        Kajian Teori
2.1.1.1 Defenisi Belajar
Menurut Susanto(2013) belajar adalah suatu aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan seseorang terjadinya perubahan perilaku yang relative tetap baik dalam berpikir, merasa, maupun dalam bertindak.
Menurut Purnami(2012) belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai motivasi interaksi dengan lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sedangkan Afifah(2013) mendefenisiskan belajar merupakan kegiatan bagi setiap orang. Ketrampilan, kebiasaan, kegemaran dan sikap seseorang terbentuk, dimodifikasi dan berkembang disebabkan belajar. Seseorang dikatakan belajar bila seseorang tersebut mengalami perubahan dalam tingkah lakunya.
Menurut Suroto(2012) belajar adalah  perubahan yang terjadi da- lam tingkah laku manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada suatu yang mendorong pribadi yang bersangkutan
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku, dan keterampilan dengan cara mengolah bahan belajar. Para ahli psikologi dan guru-guru pada umumnya memandang belajar sebagai kelakuan yang berubah, pandangan ini memisahkan pengertian tegas antara pengertian proses belajar dengan kegiatan yang semata-mata bersifat hafalan. 

2.1.1.2 Defenisi Motivasi Belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan tujuan tertentu. Atau usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Menurut Kompri (2015: 4), motivasi adalah suatu dorongan dalam diri individu untuk melakukan suatu tindakan dengan cara tertentu sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Motivasi disini merupakan suatu alat kejiwaan untuk bertindak sebagai daya gerak atau daya dorong untuk melakukan pekerjaan.
Menurut Sardiman (2011: 73) dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu dapat tercapai.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan kekuatan/ dorongan dalam diri seseorang secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan cara tertentu sehingga tercapai tujuan sesuai yang dikehendaki.
Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan. Menurut Hamalik (2011: 161) motivasi sangat menentukan tingkat keberhasilan atau gagalnya perbuatan belajar siswa. Belajar tanpa adanya motivasi kiranya akan sangat sulit untuk berhasil. Sebab, seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya. Secara alami, motivasi siswa sesungguhnya berkaitan erat dengan keinginan siswa untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Motivasi sangat diperlukan bagi terciptanya proses pembelajaran di kelas secara efektif. Motivasi memiliki peranan yang sangat penting dalam pembelajaran, baik dalam proses maupun dalam pencapaian hasil. Seorang siswa yang memiliki motivasi yang tinggi, maka pada umumnya mampu meraih keberhasilan dalam proses maupun output pembelajarannya.
Menurut Kompri (2015: 247) ada sejumlah indikator untuk mengetahui siswa yang memiliki motivasi dalam proses pembelajaran diantaranya adalah: (a) memiliki gairah yang tinggi, (b) penuh semangat, (c) memiliki rasa penasaran atau rasa ingin tahu yang tinggi, (d) mampu jalan sendiri ketika guru meminta siswa mengerjakan sesuatu, (e) memiliki rasa percaya diri, (f) memilliki daya konsentrasi yang lebih tinggi, (g) kesulitan dianggap sebagai tantangan yang harus diatasi, dan (h) memiliki kesabaran dan daya juang yang tinggi.
Sedangkan menurut Uno (2013: 23) indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (a) adanya hasrat dan keinginan, (b) adanya dorongan kebutuhan dalam belajar, (c) adanya harapan dan citacita masa depan, (d) adanya penghargaan dalam belajar, (e) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, dan (f) adanya lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan peserta didik dapat belajar dengan baik.
Dalam penelitian ini, motivasi yang diukur terdiri dari lima aspek motivasai. Aspek-aspek yang diukur antara lain: (a) tekun, (b) semangat, (c) minat, (d) stimulus, dan (e) tanggung jawab.

2.1.1.3   Masalah-Masalah dalam Pembelajaran
            Menurut Soejana dalam Haerana (2016), terdapat beberapa faktor yang dapat menghambat kegitaan proses pembelajaran, diantaranya:
a.             Faktor Guru
Agar guru dapat menyajikan bahan pelajaran dengan menarik dan berhasil, maka perlu menguasai beberapa  teknik sistem penyajian. Juga dapat memilih sistem penyajian yang tepat untuk setiap materi tertentu yang akan disajikan ataupun dapat membuat variasi dalam menyajikan bahan  tersebut, namun demikian dalam pengamatan pelaksanaan pengajaran itu para guru menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
Guru kurang menguasai beberapa sistem penyajian yang menarik dan efektif
1.      Pemilihan metode kurang relevan dengan tujuan pembelajaran dan materi pelajaran.
2.      Kurang terampil dalam menggunakan metode.
3.      Kurang bervariasi dalam menggunakan metode.
4.      Cara menyajikan kurang membangkitkan motivasi.
5.      Sangat terikat pada satu metode.
Guru tidak memberikan feedback pada tugas yang dikerjakan siswa. Menurut Sudjana dalam Haerana (2016) dalam pelaksanaan pengajaran guru kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya adalah:
1.       Banyak guru kurang menggunakan perpustakaan sebagai sumber belajar.
2.      Guru kurang membimbing bagaimana seharusnya tata cara belajar efektif itu.
3.      Guru kurang kompeten.
4.      Guru kurang memperhatikan dan memanfaatkan assessment siswa.
5.      Guru belum menggunakan media dengan tepat.
6.      Guru kurang mempertimbangkan latar belakang siswa yang tidak sama.
7.      Guru kurang mengerti kemampuan dasar siswa yang kurang.
8.      Kurangnya buku-buku bacaan ilmiah.
9.      Keadaan sarana yang kurang.
10.  Jumlah buku-buku yang berbahasa Indonesia masih terbatas.
11.  Guru dan murid kurang mampu dalam menguasai bahasa Inggris.
      Dengan menemukan hambatan-hambatan itu, maka dalam pembelajaran menjadi kurang lancar. Guru mengalami kesulitan dalam meningkatkan proses belajar mengajar, agar hasilnya efektif dan efisien.
b.            Faktor Siswa
Dalaam mencapai hasil belajar yang maksimal, menurut sudjana dalam Haerana (2016) dipengaruhi oleh faktor dari dalam diri siswa berupakemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa yang dicapai. Rendahnya kemampuan siswa dapat menjadi faktor penghambat dalam proses pembelajaran.
Di samping  faktor rendahnya kemampuan yang dimiliki siswa sebagai faktor penghambat, juga ada faktor lain seperti rendahnya motivasi belajar, kurangnya minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, kurangnya ketekunan, social ekonomi, faktor fisik dan psikis.
c.             Faktor Sarana dan Prasarana
… Kurangnya ketersediaan sarana dan prasarana akan sangat memengaruhi kesuksesan proses belajar mengajar.
d.            Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang kurang kondusif akan menghambat pelaksanaan pembelajaran. Faktor lingkungan dapat memberikan pengaruh yang positif dan pengaruh negative terhadap siswa.

2.1.1.4   Model Pembelajaran Kooperatif Team Accelerated Instruction (TAI)
Menurut Mulyatiningsih (2013:227), model pembelajaran merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan penyelenggaraan proses belajar mengajar dari awal sampai akhir. Dalam model pembelajaran sudah mencerminkan penerapan suatu pendekatan, metode, teknik, atau taktik pembelejaran sekaligus.
Model pembelajaran berisi unsur tujuan dan asumsi, tahap-tahap kegiatan, setting pembelajaran (situasi yang dikehendaki pada model pembelajaran tersebut), kegiatan guru dan siswa, perangkat pembelajaran (sarana, bahan, dan alat yang diperlukan), dampak belajar atau motivasi belajar yang akan dicapai langsung dan dampak pengiring atau motivasi belajar secara tidak langsung sebagai akibat proses belajar mengajar.
Model pembelajaran berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam merencanakan aktifitas belajar mengajar.

Pada dasarnya kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya empat tujuan pembelajaran yaitu motivasi belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan keterampilan sosial disamping juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Pembelajaran kooperatif juga memberi peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama lain.
Menurut Abidin (2013:241) pembelajaran kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam tugas-tugas terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok, tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat interdepensi efektif di antara anggota kelompok. Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat dilakukan siswa untuk mencapai kebermotivasian belajar berdasarkan kemampuan dirinya dan andil dari anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam kelompok.
Dengan demikian, di dalam pembelajaran kooperatif harus adanya kerjasama dan tujuan yang sama antar anggota kelompok, karena sangat dibutuhkan untukdapat mencapai motivasi kerja yang maksimal.
Dari pendapat diatas maka dapat dikemukakan  bahwa Pembelajaran kooperatif merupakan model belajar yang menempatkan siswa pada kelompok-kelompok yang berkategori. Dalam pembelajaran kelompok setiap anggota akan bekerja sama dalam memahami suatu bahan pelajaran dan belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompoknya belum menguasai bahan pelajaran tersebut.

2.1.1.5 Penelitian yang Relevan
Mengenai tipe Team Accelerated Instruction (TAI ) pada dasarnya adalah model Cooperative Learning. Pada model ini pembelajaran dilakukan dengan membagi siswa menjadi tiga atau empat kelompok belajar yang disusun berdasar kemampuan campuran (kemampuan anggota dalam satu kelompok adalah heterogen). Sesama anggota kelompok saling membantu satu sama lain, saling mengoreksi, dan saling memberi semangat untuk bekerja secara cepat dan akurat. Rewards diberikan kepada tim berdasar atas benar dan banyaknya tugas yang diselesaikan anggota tim secara keseluruhan.
Slavin (2005:187) berpendapat dasar pemikiran dibalik team assisted individualization bahwa para siswa memasuki kelas dengan pengetahuan, kemampuan, dan motivasi yang sangat beragam.
Alsa (2011:83) berpendapat tentang Team Assisted Individualization (TAI), yang seringkali disebut juga sebagai Team Accelerated Instruction, adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan di Johns Hopkins University oleh satu tim yang dipimpin oleh Robert E. Slavin dan Nancy Madden. Siswa dimasukkan dalam beberapa kelompok, yang masing- masing kelompok terdiri atas empat atau lima siswa dengan kemampuan yang heterogen. Setelah mengajar suatu materi pelajaran, guru memberikan tugas kepada kelompok, yang masing-masing anggota setiap kelompok harus saling bantu satu sama lain dalam mengerjakan dan menyelesaikan latihan atau tugas tersebut. Siswa diberi tugas pada level tertentu yang ditetapkan berdasar skor yang mereka per-oleh pada initial test. Para siswa selanjutnya dites secara individual. Kelompok memperoleh penghargaan melalui rewards mingguan untuk performansi keseluruhan kelompok.
Shoimin (2013:200) berpendapat Team Assisted Individualization (TAI) memiliki dasar pemikiran yaitu mengadaptasi pembelajaran terhadap perbedaan individual berkaitan dengan kemampuan maupun pencapaian prestasi siswa. Model ini termasuk dalam pembelajaran kooperatif. Dalam model pembelajaran ini, siswa ditempatkan dalam kelompok kecil (4 sampai 5 siswa) yang heterogen dan selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara individu bagi siswa yang memerlukannya. Dengan pembelajaran kelompok, diharapkan para siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat dikemukakan bahwa  Team Assisted Individualization (TAI) merupakan pembelajaran individual yang dibawa kedalam pembelajaran kelompok yang mana kelompok terdiri dari anggota yang heterogen, dan setiap anggota bertanggung jawab atas kelompoknya.
Alsa (2011:83) berpendapat tentang Model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) memiliki delapan komponen, yaitu:
1.        Teams, adalah kelompok yang kemampuan anggotanya heterogen, terdiri dari empat sampai dengan enam siswa
2.         Placement test, yaitu tes awal atau prestasi harian siswa pada suatu mata pelajaran untuk melihat kelemahan siswa pada pelajaran tersebut
3.      Student Creative, yaitu pemberian tugas kepada siswa dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana kebermotivasian individu ditentukan atau dipengaruhi oleh kebermotivasian kelompoknya
4.    Team Study, yaitu aktivitas belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok. Di sini guru bertugas memberikan bantuan kepada siswa yang membutuhkan
5.       Team Scores and Team Recognition, yaitu memberi skor terhadap kinerja kelompok dan memberikan penghargaan terhadap kelompok yang bermotivasi maupun kelompok yang dipandang kurang bermotivasi dalam menyelesaikan tugas
6.        Teaching Group, yakni pemberian materi singkat oleh guru menjelang pemberian tugas kepada semua kelompok
7.        Facts Test, yaitu memberi tes-tes kecil kepada siswa atas informasi yang diperoleh
8.     Whole Class Units, yaitu pemberian bahan oleh guru di akhir sesi pembelajaran dengan langkah pemecahan masalah.
Rohendi (2010 : 34) menyatakan Tahapan TAI adalah sebagai berikut : (1) Tes penempatan. (2) Membentuk kelompok heterogen. (3) Memberikan bahan ajar. (4) Belajar dalam kelompok. (5) Kelompok pengajaran. (6) Penilaian dan penghargaan kelompok.  (7) Informasi materi esensial. (8) Tes formatif.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merumuskan langkah-langkah pembelajaran model TAI sebagai berikut :
1.          Placement test
Para siswa diberi tes pada permulaan program. Soal yang diberikan berkenaan dengan materi yang akan diajarkan. Hali ini dianggap perlu untuk kebermotivasian suatu pengajaran yang direncanakan.. Tujuannya untuk mengetahui kelemahan siswa pada bidang tertentu dan memudahkan guru dalam memberikan bantuan jika diperlukan.
2.          Teams
Kelompok yang dibentuk beranggotakan 4 atau 6 orang siswa. Kelompok tersebut merupakan kelompok heterogen yang mewakili motivasi-motivasi akademik dalam kelas. Fungsi kelompok adalah untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok ikut belajar dan lebih khusus adalah mempersiapkan anggotanya untuk mengerjakan tes dengan baik.
3.          Student Creative
Pemberian tugas kepada siswa dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana kebermotivasian individu ditentukan atau dipengaruhi oleh kebermotivasian kelompoknya.
4.          Teaching Group
Pemberian materi singkat oleh guru menjelang siswa bekerja kelompok.
5.          Team Study.
Para siswa mengerjakan tugas dalam kelompok masing-masing.
6.          Team Scores and Team Recognition.
Pada tahapan ini guru menghitung skor kelompok. Kriteria dianut untuk prestasi kelompok. Kriteria yang tinggi dibuat untuk kelompok-kelompok super, kriteria menengah dengan kelompok hebat dan kriteria minimum untuk kelompok baik.
7.          Whole Class Units.
Diakhir kegiatan pembelajaran, guru membahas  materi yang dianggap sulit oleh siswa.
8.          Facts Test
Tes fakta ini merupakan tes yang dilakukan setelah subpokok bahasan diajarkan.

2.1            Kerangka Berfikir
Semakin tinggi jenjang pendidikan akan semakin dalam pula bahasan fisikanya. Sehingga kenyataannya semakin tinggi jenjang pendidikan, pelajaran fisika dianggap semakin sulit.
Salah satu materi yang dipelajari dalam pembelajaran Fisika di tingkat SMA adalah impuls dan momentum. Materi ini merupakan salah satu materi yang sulit dipahami oleh siswa kelas X Mipa 4.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi berhasil atau tidaknya pembelajaran Fisika diantaranya yaitu dari segi siswa, guru maupun interaksi antara guru dan siswa. Faktor dari segi siswa yaitu seperti minat dan motivasi belajar, dari segi guru yaitu cara guru dalam menyampaikan pembelajaran seperti metode dan model pembelajaran, sedangkan dari segi interaksi guru dan siswa adalah seperti keaktifan siswa dalam pembelajaran. Jika ketiga faktor tersebut berfungsi dengan baik maka tujuan pembelajaran akan tercapai dengan baik pula. Namun faktanya, banyak hambatan dalam ketiga faktor diatas kerap terjadi dalam proses belajar mengajar di kelas sehingga menyebabkan tujuan pembelajaran tidak tercapai.
Berdasarkan observasi penulis ketika memberikan angket motivasi kepada siswa kelas X Mipa 4 di SMA Negeri 2 Muara Jambi bahwa sebagian siswa kelas X Mipa 4 masih beranggapan bahwa fisika sebagai mata pelajaran yang paling sulit atau membosankan diantara sekian banyak mata pelajaran sehingga kurang diminati. Guru yang mengajar fisika juga menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas X Mipa 4 tergolong rendah dibanding kelas X Mipa lainnya.
Hal ini berawal dari proses pembelajaran bersifat teacher centered bukan student centered yaitu guru sebagai sumber informasi dan sumber pengetahuan. Hal ini berarti proses pembelajaran didominasi penyampaian informasi oleh guru, bukan pada pemrosesan informasi yang diterima siswa sehingga pembelajaran kurang memberi kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan dan menunjukkan kemampuan yang beragam sehingga belum tercipta suasana yang demokratis. Akibatnya siswa kurang berperan aktif dalam proses pembelajaran.
Kurangnya keaktifan siswa pada mata pelajaran fisika tidak hanya disebabkan oleh siswa sendiri, namun kesulitan guru dalam memilih model pembelajaran untuk penyampaian materi juga merupakan salah satu masalah yang dihadapi guru di SMA Negeri 2 Muara Jambi dalam proses pembelajaran di kelas. Dikarenakan kurang tepatnya model pembelajaran yang dipilih oleh guru sehingga menciptakan suasana yang membuat siswa cepat merasa bosan terhadap pelajaran fisika. Contohnya guru yang sering menggunakan model pembelajaran langsung, ketika kegiatan belajarnya bisa dilihat  siswa asyik sibuk sendiri, mulai dari mengobrol, atau menggambar sehingga kurangnya siswa yang memperhatikan penjelasan guru dan akhirnya siswa menjadi tidak paham dengan materi yang telah disampaikan.
Adapun upaya yang dapat dilakukan untuk masalah tersebut, maka guru dapat menggunakan model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa diharapkan sistwa termotivasi dalam belajar. Salah satu model pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan keaktifan siswa dan diharapkan dapat meningkatkan motivasi belajar adalah model pembelajaran Kooperatif tipe Team Accelerated Instruction (TAI).
Pembelajaran kooperatif merupakan model belajar yang menempatkan siswa pada kelompok-kelompok yang berkategori. Dalam pembelajaran kelompok setiap anggota akan bekerja sama dalam memahami suatu bahan pelajaran dan belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompoknya belum menguasai bahan pelajaran tersebut. Dengan adanya penerapan model pembelajaran Team Accelerated Instruction (TAI) di kelas X MIPA 4 SMAN 2 Muara Jambi diharapkan motivasi belajar Fisika siswa meningkat. 

2.3            Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah bahwa penerapan model pembelajaran Team Accelerated Instruction (TAI) dapat meningkatkan motivasi belajar fisika siswa kelas X MIPA 4 di SMAN 2 Muara Jambi.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1              Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Muara Jambi. Waktu penelitian ini dilaksanakan pada semester 2 tahun pelajaran 2017/2018 pada bulan Maret- April 2018.

3.2      Subjek Penelitian
Kelas yang diteliti adalah kelas yang memiliki motivasi yang lebih rendah dibandingkan dengan kelas lainnya yaitu kelas X Mia 4 SMA 2 Muara Jambi.
3.3       Data dan Sumber Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yakni angket motivasi siswa kelas X Mipa 4 terkait penerapan model pembelajaran TAI (Team Accelerated Instruction) pada materi impuls dan momentum.

3.4                           Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh dari angket motivasi belajar fisika siswa.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan angket motivasi. Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk mendapatkan data penelitian adalah sebagai berikut:
a.                   Tahap Persiapan
Pada tahap ini penulis mempersiapkan semua yang berhubungan dengan pelaksanaan antara lain:
1.                  Melakukan survei tempat pelaksanaan penelitian
2.                  Mengambil data jumlah siswa dan nilai ulangan harian kelas X SMA Negeri 2 Muaro Jambi Tahun Ajaran 2017/2018.
3.                  Menganalisis hasil nilai ulangan harian dan menentukan kelas sampel yaitu kelas yang nilai ulangan paling rendah dan motivasi yang rendah.
4.                  Mempersiapkan jadwal penelitian setelah peneliti mendapatkan informasi tentang alokasi waktu pelajaran.
5.                  Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan kurikulum mata pelajaran fisika SMA dan menyiapkan lembar kerja siswa yang akan digunakan di kelas penelitian.
6.                  Mempersiapkan pembelajaran dengan TAI (Team Accelerated Instruction) dengan pendekatan saintifik pada kelas eksperimen dan model pembelajaran langsung dengan pendekatan saintifik pada kelas kontrol.
7.                  Mempersiapkan instrumen penelitian (soal uji coba).

b.                  Tahap Pelaksanaan
Peneliti memberikan pengajaran pada tiga kelas sampel. Materi yang diajarkan untuk ketiga kelas sampel adalah materi yang sama yaitu perbandingan. Pada kelas eksperimen, peneliti menggunakan pembelajaran dengan model TAI (Team Accelerated Instruction ) dengan pendekatan saintifik saat proses pembelajaran. Sedangkan untuk kelas kontrol, peneliti menggunakan model pembelajaran langsung.

c.                   Tahap Akhir
1.                  Melakukan uji coba tes akhir
2.                  Memberikan tes akhir kepada siswa dalam waktu yang ditentukan.
3.                  Menganalisis nilai tes akhir fisika siswa dari motivasi posttest dan mengambil kesimpulan.

3.5              Teknik Uji Validitas Data
Validitas adalah mengukur atau menentukan apakah suatu tes sungguh mengukur apa yang mau diukur, yaitu apakah sesuai dengan tujuan. Validitas menunjuk pada kesesuaian, penuh arti, bergunanya kesimpulan yang dibuat peneliti berdasarkan data yang dikumpulkan (Suparno, 2010: 67-68 dalam Josephine, 2015: 34).
Validitas data yang dipilih peneliti adalah uji validitas data triangulasi. Validitas data ini merujuk pada pendapat Hopkins (dalam Josephine, 2015: 28). Triangulasi yaitu memeriksa kebenaran data yang diperoleh peneliti dengan membandingan terhadap hasil yang diperoleh dengan mitra peneliti secara kolaboratif.
Dalam uji validitas triangulasi, peneliti membandingkan serta mendiskusikannya dengan guru fisika kelas X MIA 4. Misalnya dalam pemilihan kelas yang nilai rata-ratanya paling rendah. Dari penelitian ini, data yang diambil yaitu hasil jawaban angket motivasi belajar siswa dan juga hasil tes soal pilihan ganda mengenai hukum newton tentang gerak. Peneliti juga mendapatkan data berupa catatan, foto, dan observasi terhadap fenomena, peristiwa, atau kejadian di lokasi penelitian.

1.5              Teknik Analisis Data
Data motivasi penelitian ini dianalisis dengan analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif adalah suatu teknik analisis yang penganalisisannya dilakukan dengan perhitungan matematis. Analisis hasil pengisian angket motivasi dilakukan dengan memberi skor pada masing-masing butir pada lembar angket.


Keterangan :

SS = Sangat Setuju
S = Setuju
KS = Kurang Setuju
TS = Tidak Setuju
STS = Sangat Tidak Setuju
Selanjutnya cari rata-rata angket motivasi dengan cara statistik kuantitatif deskriptif :
a. Menghitung banyaknya siswa yang melakukan aktivitas sesuai indikator yang diamati.
b. Mencari besar persentase skor aktivitas belajar-belajar siswa setiap indikator yang diamati pada setiap siklus dengan cara :

c. Menghitung rata-rata persentase keaktifan belajar siswa pada setiap indikator yang diamati pada setiap siklus.

d. Mengkategorikan rata-rata keaktifan belajar siswa pada setiap indikator yang diamati pada setiap siklus, sesuai dengan kategori yang telah ditentukan untuk membuat kesimpulan mengenai aktivitas belajar siswa.
Menurut Riduwan (2007), kriteria persentase untuk skor hasil angket motivasi siswa terhadap pelajaran fisika, sebagai berikut :
Tabel.2 Kriteria persentase untuk skor hasil angket motivasi siswa
3.7       Indikator Capaian Penelitian
Indikator pencapaian dalam penelitian tindakan kelas ini adalah apabila motivasi dan hasil belajar fisika siswa kelas X MIA 4 SMA 2 Muara Jambi menuju kearah perbaikan, dan sekurang-kurangnya:
1.      70% siswa dari total keseluruhan siswa dikelas menunjukkan motivasi dalam mengikuti pembelajaran fisika.
2.      70% siswa dari total keseluruhan siswa dikelas menunjukkan adanya interaksi dalam mengikuti kegiatan pembelajaran kelompok.
3.      70% siswa dari total keseluruhan siswa dikelas menunjukkan adanya partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran.

3.8       Prosedur Penelitian
Penelitian yang dilakukan berupa penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini terfokus pada praktik pembelajaran model kooperatif tipe TAI. Diharapkan hasil yang diperoleh yaitu dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar di kelas X MIA 4 SMAN 2 Muara Jambi.
Penelitian ini merupakan suatu penelitian yang mengkaji tentang permasalahan dengan ruang lingkup yang tidak terlalu luas yang berkaitan dengan  perilaku seseorang atau kelompok tertentu, ditujukan untuk menentukan memecahkan suatu masalah pemebalajaran didalam kelas agar tercapainya hasil belajar yang optimal. Penelitian ini berkolaborasi dengan, kepala sekolah dan guru di SMAN 2 Muara Jambi. Peneliti dan mitra yang diteliti senantiasa mengharapkan hasil yang efektif dalam penelitian ini. Apabila tidak didapatkan hasil yang optimal dalam satu kali penelitian, ada kemungkinan peneliti merevisi dan kemudian menggunakan cara atau prosedur yang berbeda sampai tercapainya hasil yang efektif.
Prosedur peneltiian yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1.      Ide awal/tugas dari dosen pembimbing
2.      Pra-survei
3.      Analisa data pra-survei
4.      Perencanaan peneltian tindakan
5.      Pelaksanaan peneltian tindakan
6.      Observasi/pengamatan
7.      Analisa data penelitian tindakan
8.      Refleksi

 DAFTAR RUJUKAN

Alsa, Asmadi. 2011. Pengaruh Metode belajar Team Assisted Individualization (TAI) Terhadap Prestasi Belajar Statistika Pada Mahasiswa Psikologi, 30(1):82-83.

Abidin, Yunus. 2013. Desain Sistem Pembelajaran Dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung : Aditama.

Afifah, Dian. 2013. Perbedaan Motivasi Belajar Fisika  Peserta Didik yang Menggunakan Cara Belajar Latihan dengan Belajar Kelompok. 01 (1):109.

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.

Arikunto, S. 2013. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.

Fauziah, Resti. 2013. Pembelajaran Saintifik Elektronika Dasar Berorientasi Pembelajaran Berbasis Masalah. 02(1):166-168.

Mulyatiningsih, Endang. 2013. Metode Penelitian Terapan Bidang Pendidikan. Bandung : Alfabeta.

Ngalimun. 2012. Strategi dan Model Pembelajaran. Yogyakarta : Aswaja.
Riduwan, Dr. 2014. Pengantar Statistika Sosial. Bandung : Alfabeta.

Rohendi, Dedi. 2010. Penerapan Metode Pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI)Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. 3(1):33-34.

Shoimin, Aris. 2013. 68 Model Pembelajaran  Inovatif dalam Kurikiulum 2013. Bandung : Ar-RuzMedia

Slavin, Robert E. 2005. Cooperatife Learning Teori, Riset, dan Praktik. Bandung : Nusamedia.

Solihatin, Etin dkk. 2013. Hubungan Antara Keterampilan Dasar Guru dalam Mengajar dengan Motivasi Belajar PKN Siswa. 02(4):4

Sudjana, Nana. 2005. Metoda Statistika. Bandung : Tarsito.

Sugiyono, Dr. Prof. 2013. Metode Penelitian Administrasi di lengkapi dengan Metode R&D. Bandung : Alfabeta.

Sugiyono, Dr. Prof. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif,,Kualitatif, dan R & D. Bandung : Alfabeta.

Suprijono, Agus. 2013. Cooperative Learning Teori & Aplikasi PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Suroto. 2012.  Pembelajaran Fisika Model Kooperatif Tipe Jigsaw. 01(1):53

Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta : Kencana

Purnami,Tri Wulaning.  2012. Peningkkatan Motivasi Belajar Siswa Melalui Penerapan Metode Jigsaw. 01(1):3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar