Cara Membuat
Angket
Angket
merupakan suatu cara untuk mendapatkan data dalam usaha memecahkan suatu
permasalahan dalam penelitian, karnanya untuk membuat suatu angket perlu
memperhatikan hal-hal berikut :
1.
menggunakan bahasa yang sederhana, dengan pertimbangan yang dihadapi adalah
orang-orang yang berbeda karakteristik maupun pengetahuan, sehingga hindari
istilah –istilah teknis, serta pilih kata-kata yang mengandung arti sama bagi
semua orang.
2.
menggunakan kalimat yang pendek, dengan pertimbangan kalimat majemuk, panjang,
dan berbelit-belit akan membuat responden kesulitan mengerti.
3.
Jauhi pertanyaan yang berhubungan dengan harga diri dan bersifat pribadi dari
responden.
4.
Menyusun angket dengan sesingkat, sehingga tidak akan memakan waktu yang lama.
5.
Dalam daftar pertanyaan jauhi kata-kata yang menyinggung perasaan responden
(narasumber) atau usaha untuk memberikan pemahaman (read : menggurui) kepada
responden terhadap angket yang kita buat.
Untuk
membuat sebuah angket yang valid perlu mempertimbangkan beberapa hal, antara
lain :
1.
Pertanyaan haruslah mudah dipahami dan tidak menimbulkan tafsiran yang
berbeda-beda.
2.
Pertanyaan harus berhubungan dengan topik permasalahan.
3.
Pertanyaan harus menarik sehingga responden merasa senang untuk menjawabnya.
4.
Jawaban responden diusahakan bisa konsisten sejak pertanyaan pertama hingga
akhir.
5.
Alternative Jawaban yang diberikan harus beragam (variatif) agar responden
tidak kebosanan.
Sugiyono
(2005), mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket sebagai teknik
pengumpulan data yaitu:
1) Isi dan tujuan pertanyaan.
2) Bahasa yang digunakan.
3) Tipe dan bentuk pertanyaan.
4) Pertanyaan tidak mendua.
5) Tidak menanyakan yang sudah lupa.
6) Pertanyaan tidak menggiring.
7) Panjang pertanyaan.
8) Urutan pertanyaan.
9) Prinsip pengukuran.
10) Penampilan fisik angket.
Validitas
dan reliabilitas Instrumen
Sugiyono(2002),
menyatakan instrument yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk
mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrument tersebut dapat
digunakan untuk mengukur apa yang hendak diukur. Sedangkan instrument yang
reliable berarti instrument yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur
obyek yang sama akan menghasilkan data yang sama pula.
Kualitas
instrumen ditentukan oleh dua kriteria utama, yaitu validitas dan reliabilitas.
Validitas suatu instrumen menunjukkan seberapa jauh ia dapat mengukur apa yang
hendak diukur. Sedangkan reliabilitas menunjukkan tingkat konsistensi dan
akurasi hasil pengukuran. Dengan menggunakan instrument yang valid dan reliable
dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan
reliable. Instrumen yang valid dan reliable merupakan syarat mutlak untuk
mendapatkan hasil penelitian yang benar-benar akurat.
- Pengujian Validitas Instrumen
Sugiyono
(2002), menyatakan ada tiga jenis pengujian Validitas instrument, yaitu:
1.
Pengujian Validitas kontruksi (Contruct Validity)
Untuk
menguji validitas kontruksi maka dapat digunakan pendapat dari ahli (judgment
expert). Instrumen dikatakan mempunyai validitas konstruk jika instrumen
tersebut dapat digunakan untuk mengukur gejala teori tertentu, yang selanjutnya dikonsultasikan kepada ahli. Para ahli
diminta pendapatnya tentang instrument yang telah disusun. Misalnya akan
mengukur efektivitas kerja, maka perlu didefinisikan terlebih dahulu apa itu
efektivitas kerja. Setelah itu disiapkan instrumen yang digunakan untuk
mengukur efektivitas kerja sesuai dengan definisi.
Setelah
pengujian kontruksi dengan ahli, maka diteruskan dengan uji coba instrumen.
Setelah data ditabulasi, maka pengujian validitas kontruksi dilakukan dengan
analisis faktor, yaitu dengan mengkorelasikan antar skor item instrumen.
2.
Pengujian Validitas Isi (Content Validity)
Instrumen
yang harus memiliki validitas isi adalah instrumen yang berbentuk test.
Instrumen test ini biasanya digunakan untuk mengukur prestasi belajar dan
mengukur efektivitas pelaksanaan program dan tujuan. Untuk menyusun instrumen
prestasi belajar yang mempunyai validitas isi, maka instrumen harus disusun
berdasarkan materi pelajaran yang telah diajarkan. Sedangkan instrumen yang
digunakan untuk mengetahui pelaksanaan program, maka instrumen disusun
berdasarkan program yang telah direncanakan.
Untuk
instrumen yang berbentuk tes, maka pengujian validitas isi dapat dilakukan
dengan membandingkan antara isi instrumen dengan materi pelajaran yang telah
diajarkan. Jika tutor/nara sumber memberikan ujian di luar materi pelajaran
yang telah ditetapkan, berarti instrumen ujian tersebut tidak mempunyai
validitas isi.
Secara
teknis, pengujian validitas kontruksi dan validitas isi dapat dibantu dengan
menggunakan kisi-kisi instrumen. Dalam kisi-kisi itu terdapat variabel yang
diteliti, indikator sebagai tolok ukur, dan butir (item) pertanyaan atau
pernyataan yang telah dijabarkan dari indikator. Dengan kisi-kisi instrumen
itu, maka pengujian validitas dapat dilakukan dengan mudah dan sistematis.
3.
Pengujian Validitas Eksternal
Validitas
eksternal instrumen diuji dengan cara membandingkan (untuk mencari kesamaan)
antara kriteria yang ada pada instrumen dengan fakta-fakta empiris yang terjadi
di lapangan. Misalnya instrumen untuk mengukur kinerja peserta pelatihan,
instrument untuk mengukur kemampuan penyaji materi atau nara sumber. Maka
kriteria kinerja peserta pelatihan ataupun kemampuan nara sumber dalam
menyampaikan materi pelatihan pada
instrumen tersebut dibandingkan dengan catatan-catatan di lapangan (empiris)
tentang kinerja yang baik. Bila telah terdapat kesamaan antara kriteria dalam
instrumen dengan fakta di lapangan, maka dapat dinyatakan instrumen tersebut
mempunyai Validitas eksternal yang tinggi.
- Pengujian Reliabilitas Instrumen
Pengujian
reliabilitas instrumen menurut Sugiyono (2002) dapat dilakukan secara eksternal
dan internal. Secara eksternal, pengujian dilakukan dengan test – retest
(stability), equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal pengujian
dilakukan dengan menganalisis konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen
dengan teknik-teknik tertentu.
1.
Test retest
Instrumen
penelitian dicobakan beberapa kali pada responden yang sama dengan instrumen
yang sama dengan waktu yang berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien
korelasi antara percobaan pertama dengan yang berikutnya. Bila koefisien
korelasi positif dan signifikan, maka instrumen tersebut sudah dinyatakan
reliabel.
2.
Ekuivalen
Instrumen
yang ekuivalen adalah pertanyaan yang secara bahasa berbeda, tetapi maksudnya
sama. misalnya, berapa tahun pengalaman Anda bekerja di lembaga ini? Pertanyaan
tersebut ekuivalen dengan tahun berapa Anda mulai bekerja di lembaga ini?
Pengujian
dengan cara ini cukup dilakukan sekali, tetapi instrumennya dua dan berbeda, pada
responden yang sama. Reliabilitas diukur dengan cara mengkorelasikan antara
data instrumen yang satu dengan instrumen yang dijadikan ekuivalennya. Bila
korelasi positif dan signifikan, maka instrumen dapat dinyatakan reliabel.
3.
Gabungan
Pengujian
dilakukan dengan cara mencobakan dua instrumen yang ekuivalen beberapa kali ke
responden yang sama. cara ini merupakan gabungan dari test-retest (stability)
dan ekuivalen. Reliabilitas instrumen dilakukan dengan mengkorelasikan dua
instrumen, setelah itu dikorelasikan pada pengujian kedua dan selanjutnya
dikorelasikan secara silang. Jika dengan dua kali pengujian dalam waktu yang
berbeda, maka akan dapat dianalisis keenam koefisien reliabilitas. Bila keenam
koefisien korelasi itu semuanya positif dan signifikan, maka dapat dinyatakan
bahwa instrumen itu reliabel.
4.
Internal Consistency
Pengujian
reliabilitas dengan internal consistency, dilakukan dengan cara mencobakan
instrumen sekali saja, kemudian data yang diperoleh dianalisis dengan
teknik-teknik tertentu. Hasil analisis dapat digunakan untuk memprediksi
reliabilitas instrumen. Pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan dengan
teknik belah dua dari Spearman Brown (Split half), KR20, KR21 dan Anova Hoyt.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar