Minggu, 27 Mei 2018

PEER TEACHING


PEER TEACHING



1.      Sebutkan dan jelaskan keterampilan – keterampilan yang dibutuhkan dalam mengajar!
Jawab:
Dalam mengajar, seorang guru dituntut untuk memiliki ilmu dan wawasan yang luas. Namun disisi lain, memahami dan memiliki ilmu/ wawasan yang luas saja tidak cukup untuk bisa mengajar dengan baik. Diperlukan beberapa keterampilan agar ilmu dan wawasan luas yang guru miliki bisa tersampaikan dan diterima oleh siswa secara optimal dan efisien. Seringkali dalam pendidikan kita mendengar masalah kurangnya motivasi siswa dalam belajar, siswa takut kepada guru, siswa kesulitan memahami apa yang diajarkan oleh guru. Sebenarnya salah satu penyebab dari masalah yang terjadi tersebut adalah karena kurangnya keterampilan guru dalam mengajar. berikut ini adalah beberapa keterampilan - keterampilan yang dibutuhkan dalam mengajar:
a.       Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
Keterampilan membuka dan menutup pelajaran. Guru harus terampil dalam membuka dan menutup pelajaran. Keberhasilan pembelajaran sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam membuka dan menutup pelajaran. Keterampilan membuka pelajaran misalnya dalam mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pelajaran berikutnya/agar pikiran siswa tidak lagi berfokus pada pelajaran sebelumnya. Dalam membuka pelajaran terdapat beberapa prinsip teknis dalam membuka pelajaran yaitu singkat, padat dan jelas, keterampilan tidak diulang-ulang atau berbelit-belit, menggunakan bahasa yang mudah dipahami siswa, disertai ilustrasi atau contoh seperlunya, dan mengikat perhatian anak.  Komponen dalam ketrampilan membuka belajaran antara lain: 1) menarik minat siswa; 2) menimbulkan motivasi bagi siswa; 3) memberi acun tentang apa yang akan dipelajari; dan 4) menunjukkan kaitan antara pengetahuan yang dimiliki siswa dengan materi pelajaran. Selanjutnya, dalam menutup pelajaran guru dapat meninjau kembali materi yang telah dipelajari misalnya dengan meminta siswa membuat rangkuman inti pelajaran. Selanjutnya, guru memberikan evaluasi kepada siswa untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi misalnya dengan soal-soal lisan ataupun tertulis. Kemudian guru dapat memberikan dorongan psikologi atau sosial. Dorongan tersebut dapat berupa pujian terhadap hasil belajar siswa, motivasi untuk lebih semangat belajar, atau meyakinkan potensi yang dimiliki oleh siswa.
Membuka Pelajaran
Yang dimaksud dengan membuka pelajaran (set induction) ialah usaha atau kegiatan yang dilakukan oleh guru dalam proses KBM untuk menciptakan prokondusi bagi siswa agar mental maupun perhatian terpusat pada apa yang akan dipelajari, dan  usaha tersebut diharapkan akan memberikan efek positif terhadap kegiatan belajar. Komponen ketrampilan membuka pelajaran meliputi: menarik perhatian siswa, menimbulkan motivasi, memberi acuan melalui berbagai usaha, dan membuat kaitan atau hubungan di antara materi-materi yang akan dipelajari. Kalimat-kalimat awal yang diucapkan guru merupakan penentu keberhasilan jalannya seluruh pelajaran. Tercapainya tujuan pengajaran bergantung pada metode mengajar guru di awal pelajaran. Seluruh rencana dan persiapan sebelum mengajar dapat menjadi tidak berguna jika guru gagal dalam memperkenalkan pelajaran.
Menutup Pelajaran
Menutup pelajaran (closure) ialah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mengakhiri proses K BM.  Jangan akhiri pelajaran dengan tiba-tiba. Penutup harus dipertimbangkan dengan sebaik mungkin agar sesuai. Guru perlu merencanakan closing yang baik dan tidak tergesa-gesa. Jangan lupa sertakan pula doa. “Komponen-komponen dan prinsip-prinsip dalam menutup pelajaran: Merangkum Pelajaran. Sebagai penutup, hendaknya guru memberikan ringkasan dari pelajaran yang sudah disampaikan. Ringkasan pelajaran sudah tidak lagi berupa diskusi kelas atau penyampaian garis besar pelajaran, tetapi berisi ringkasan dari hal-hal yang disampaikan selama jam pelajaran dengan menekankan fakta dasar pelajaran tersebut. Menyampaikan Rencana Pelajaran Berikutnya. Waktu menutup pelajaran merupakan saat yang tepat untuk menyampaikan rencana pelajaran berikutnya. Guru dapat memberikan kilasan pelajaran untuk pertemuan berikutnya. Diharapkan hal ini dapat merangsang keinginan belajar mereka. Sebelum kelas dibubarkan, ungkapkanlah pelajaran yang akan disampaikan minggu depan dan kemukakan rencana-rencana di mana murid dapat mengambil bagian dalam pelajaran mendatang. Bangkitkan minat. Guru tentu ingin murid-muridnya kembali di pertemuan berikutnya dengan penuh semangat. Oleh karena itu, biarkan murid pulang ke rumah mereka dengan satu pertanyaan atau pernyataan yang mengesankan, yang dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu mereka. Sama seperti seorang penulis yang mengakhiri sebuah bab dalam cerita bersambung, yang membuat pembaca ingin segera tahu bab berikutnya. Dengan cara yang sama, guru dapat mengakhiri pelajarannya dengan penutup yang “berklimaks” sehingga seluruh kelas menantikan pelajaran berikutnya dengan tidak sabar. Memberikan tugas. Tugas-tugas harus direncanakan dengan saksama. Perlu diingat pula sikap guru yang bersemangat dalam memberikan tugas akan mempengaruhi minat dan semangat para anggota kelas.

b.      keterampilan menjelaskan
Kegiatan menjelaskan merupakan aktivitas yang tidak dapat dihindari oleh guru. Penjelasan diperlukan karena tidak terdapat dalam buku, sehingga harus dikemukakan secara lisan. Dalam keterampilan menjelaskan guru perlu membuat perencanaan dan pelaksanaan kegiatan menjelaskan. Yang perlu diperhatikan dalam kegiatan perencanaan yaitu isi penjelasan dan untuk siapa penjelasan tersebut.  Selanjutnya adalah tahapan pelaksanaan. Tahapan pelaksanaan yang baik maka materi yang disampaikan akan lebih mudah dimengerti oleh siswa.
“Menjelaskan” adalah menyajikan informasi secara lisan, dengan sistematika yang runut untuk menunjukkan adanya korelasi/hubungan antara yang satu dengan yang lainnya. Ada 2 komponen dalam ketrampilan menjelaskan, yaitu : Merencanakan, hal ini mencakup penganalisaan masalah secara keseluruhan, penentuan jenis hubungan yang ada diantara unsur-unsur yang dikaitkan dengan penggunaan hukum atau rumus-rumus yang sesuai dengan hubungan yang telah ditentukan. Dan penyajian, merupakan  suatu penjelasan, dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: kejelasan, penggunaan contoh dan ilustrasi, pemberian tekanan, dan penggunaan balikan/feedback. Kegiatan “menjelaskan” dalam proses KBM bertujuan untuk membantu siswa memahami berbagai konsep, hukum, prosedur, dll, secara obyektif; membimbing siswa memahami pertanyaan; meningkatkan keterlibatan siswa; memberi kesempatan pada siswa untuk menghayati proses penalaran serta memperoleh feedback tentang pemahaman siswa. Apabila seorang guru menguasai “keterampilan menjelaskan” maka guru akan lebih mudah mengelola waktu dalam menyajikan materi, sehingga menjadi lebih efektif memanage waktu.  Selain itu penjelasan yang runut dan sistematis akan memudahkan siswa dalam memahami materi, yang pada gilirannya akan memperluas cakrawala pengetahuan siswa, bahkan mungkin penjelasan guru yang sistematis dan mendalam akan dapat membantu mengatasi kelangkaan buku sebagai sarana dan sumber belajar (mengingat guru adalah salah satu sumber belajar bagi siswa).
c.       keterampilan bertanya
Keterampilan bertanya adalah suatu pengajaran itu sendiri. Keterampilan bertanya guru meliputi aspek isi pertanyaan maupun aspek teknik. Aspek isi pertanyaan yaitu pertanyaan yang diajukan harus jelas. Sedangkan dari segi teknisnya guru harus dapat mengemukakan pertanyaan dengan penuh kehangatan. Keterampilan bertanya guru perlu ditingkatkan.
“Bertanya” adalah bahasa verbal untuk meminta respon siswa baik berupa pengetahuan, pendapat, atau pun sekedar mengembalikan konsentrasi siswa yang terdestruc oleh berbagai kondisi selama KBM berlangsung. Dalam proses belajar mengajar, “Bertanya” memainkan peranan penting sebab “Bertanya” dapat menjadi stimulus yang efektif untuk mendorong kemampuan berpikir siswa. Untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, guru perlu menunjukkan sikap yang baik ketika  mengajukan pertanyaan maupun menerima jawaban siswa. Hendaklah guru menghindari kebiasaan seperti: menjawab pertanyaan sendiri, mengulang jawaban siswa, mengulang pertanyaan sendiri, mengajukan pertanyaan dengan jawaban serentak, menentukan siswa yang harus menjawab sebelum bertanya, dan mengajukan pertanyaan ganda. Kegiatan bertanya dalam KBM ini akan lebih efektif bila pertanyaan yang diajukan cukup berbobot, mudah dimengerti atau relevan dengan topik yang dibicarakan. Tujuan guru mengajukan pertanyaan antara lain adalah :
• Menimbulkan rasa ingin tahu
• Merangsang fungsi berpikir
• Mengembangkan keterampilan berpikir
• Memfokuskan perhatian siswa
• Mendiagnosis kesulitan belajar siswa
• Menkomunikasikan harapan yang diinginkan oleh guru dari siswanya

d.      keterampilan guru dalam memberikan penguatan
Dalam proses belajar mengajar siswa yang berprestasi akan mempertahankan prestasinya apabila guru memberikan penghargaan. Akibat dari penghargaan tersebut akan timbul motivasi yang kuat untuk meningkatkan prestasi. Menyadari pentingnya peranan penghargaan atas prestasi siswa, guru atau calon guru perlu menguasai keterampilan dalam memberi penghargaan yang dalam bahasan buku disebut keterampilan penguatan.
Penguatan (reinforcement) adalah segala bentuk respons, baik bersifat verbal maupun non verbal, yang merupakan bagian dari modifikasi tingkah laku guru terhadap tingkah laku siswa, bertujuan memberikan informasi atau umpan balik (feed back) bagi si penerima (siswa), atas perbuatannya sebagai suatu dorongan atau koreksi. Penguatan juga merupakan respon terhadap tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Teknik pemberian penguatan dalam KBM yang bersifat verbal dapat dinyatakan melalui pujian, penghargaan atau pun persetujuan, sedangkan penguatan non verbal dapat dinyatakan melalui gesture, mimic muka (ekspresi), penguatan dengan cara mendekati, penguatan dengan sentuhan (contact), penguatan dengan kegiatan yang menyenangkan, dll. Dalam rangka pengelolaan kelas, dikenal penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif bertujuan untuk mempertahankan dan memelihara perilaku positif, sedangkan penguatan negatif merupakan penguatan perilaku dengan cara menghentikan atau menghapus rangsangan yang tidak menyenangkan. Manfaat penguatan bagi siswa adalah untuk meningkatkan perhatian (fokus) siswa dalam belajar, membangkitkan dan memelihara perilaku, menumbuhkan rasa percaya diri, dll.

e.       keterampilan menggunakan variasi
Keterampilan variasi harus dapat dikuasai oleh guru. Variasi mengajar bertujuan untuk menarik perhatian siswa agar tidak bosan maupun memberikan peembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual siswa dalam gaya belajarnya.
“Variasi” dalam kegiatan belajar mengajar dimaksudkan sebagai perubahan dalam proses interaksi belajar mengajar. Dalam konteks ini, “variasi” merujuk pada tindakan dan perbuatan guru, yang disengaja ataupun secara spontan, yang dimaksudkan untuk meningkatkan dan mengikat perhatian siswa selama pembelajaran berlangsung. Tujuan utama dari “variasi” dalam kegiatan pembelajaran ini adalah untuk mengurangi rasa boring yang membuat siswa tidak lagi fokus pada prose KBM yang sedang berlangsung. Untuk itu guru perlu melakukan berbagai “variasi” sehingga perhatian siswa tetap terpusat pada pelajaran. Beberapa “variasi” yang dapat dilakukan guru selama proses KBM diantaranya adalah: penggunaan variasi suara (teacher voice), pemusatan perhatian siswa (focusing), kesenyapan/kebisuan guru (teacher silence), kontak pandang dan gerak (eye contact and movement), gesture/gerak tubuh, ekspresi wajah guru, pergantian posisi guru dalam kelas dan gerak guru (teachers movement), variasi penggunaan media dan alat pengajaran, dll.
f.       keterampilan mengaktifkan belajar siswa
Guru harus dapat merancang pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa baik fisik maupun mental untuk melatih kemampuan berpikir  dan keterampilannya. Untuk merancang pembelajaran yang mengaktifkan siswa, guru dapat memilih strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran dan karakteristik siswa. Pada bab ini juga dibahas beberapa strategi pembelajaran.
Diskusi kelompok merupakan salah satu variasi kegiatan pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses KBM. Dalam diskusi kelompok, siswa dalam tiap kelompok kecil dapat bertukar informasi dan pengalaman, melakukan pengambilan keputusan bersama, serta belajar melakukan pemecahan masalah (problem solving). Diskusi kelompok merupakan strategi yang memungkinkan siswa menguasai suatu konsep atau memecahkan suatu masalah melalui satu proses yang memberi kesempatan untuk berpikir, berinteraksi sosial, serta berlatih bersikap positif. Dengan demikian diskusi kelompok dapat meningkatkan kreativitas siswa, serta membina kemampuan berkomunikasi termasuk di dalamnya ketrampilan berbahasa.
Suasa belajar mengajar yang baik sangat menunjang efektifitas pencapaian tujuan pembelajaran. Seorang guru harus mampu menjadi manager yang baik dalam sebuah proses KBM. Hal ini berarti bahwa guru harus terampil menciptakan suasana belajar yang kondusif serta mampu menjaga dan mengembalikan kondisi belajar yang optimal, meminimalisir gangguan yang mungkin terjadi selama proses KBM, sehingga siswa dapat fokus pada KBM yang berlangsung. Dalam melaksanakan keterampilan mengelola kelas, guru perlu memperhatikan komponen ketrampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal (bersifat prefentip seperti: kemampuan guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran) dan keterampilan yang bersifat represif, yaitu keterampilan yang berkaitan dengan respons guru terhadap gangguan siswa yang berkelanjutan dengan maksud agar guru dapat mengadakan tindakan remedial untuk mengembalikan kondisi belajar yang optimal.
Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan
Jumlah siswa dalam bemtuk pengajaran seperti ini berkisar 3 sampai 8 orang untuk setiap kelompok kecil, dan 1 orang untuk perseorangan. Terbatasnya jumlah siswa dalam pengajaran bentuk ini memungkinkan guru memberikan perhatian secara optimal terhadap setiap siswa. Hubungan antara guru dan siswa pun menjadi lebih akrab, demikian pula hubungan antar siswa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa format mengajar seperti ini ditandai oleh adanya hubungan interpersonal yang lebih akrab dan sehat antara guru dengan siswa, adanya kesempatan bagi siswa untuk belajar sesuai dengan kemampuan, minat, cara, dan kecepatannya, adanya bantuan dari guru, adanya keterlibatan siswa dalam merancang kegiatan belajarnya, serta adanya kesempatan bagi guru untuk memainkan berbagai peran dalam kegiatan pembelajaran. Setiap guru dapat menciptakan format pengorganisasian siswa untuk kegiatan pembelajaran kelompok kecil dan perorangan sesuai dengan tujuan, topik (materi), kebutuhan siswa, serta waktu dan fasilitas yang tersedia. Komponen-komponen dan prinsip-prinsip ketrampilan ini adalah: Ketrampilan mengadakan pendekatan secara pribadi, Ketrampilan mengorganisasi, ketrampilan membimbing dan memudahkan belajar, Ketrampilan merencanakan dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar, Keterampilan merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Dari keterampilan-keterampilan mengajar yang telah diuraikan  di atas, yang paling penting bagi seorang guru adalah bagaimana guru menerapkan keterampilan tersebut sehingga proses pembelajaran dapat berjalan baik. Adalah sebuah kebanggaan dan kepuasan batin tersendiri bagi seorang guru, bila siswa didiknya mampu memahami berbagai konsep yang disampaikan untuk kemudian mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian perlu diingat oleh para guru, bahwa karena proses pembelajaran yang dilakukan tidak semata-mata merupakan kegiatan transfer of knowledge namun juga transfer of moral value, maka setiap guru wajib kiranya menyisipkan pesan moral dalam setiap event tatap muka dengan siswa didiknya selama proses KBM.

2.      Jelaskan kriteria pembelajaran yang baik menurut anda!
Jawab:
Kegiatan belajar mengajar (KBM) dirancang mengikuti prinsip-prinsip belajar-mengajar. Belajar mengajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pemahaman. Dengan demikian, guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritas atau haknya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar berada pada diri siswa, tetapi guru bertangung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat. Berikut dikemukakan ciri-ciri Kegiatan Belajar Mengajar yang memberdayakan potensi siswa.
a.        Pembalikan Makna Belajar
Makna dan hakikat belajar seringkali hanya diartikan sebagai penerimaan informasi dari sumber informasi (guru dan buku pelajaran). Akibatnya, guru masih memaknai kegiatan mengajar sebagai kegiatan transfer informasi dari guru ke siswa. Guru perlu melakukan pembalikan makna dan hakikat belajar. Pada pandangan dan paradigm ini, makna dan hakikat Belajar diartikan sebagai proses membangun makna/pemahaman terhadap informasi dan/atau pengalaman. Proses membangun makna tersebut dapat dilakukan sendiri oleh siswa atau Bersama orang lain. Proses itu disaring dengan persepsi, pikiran (pengetahuan awal), dan perasaan siswa. Belajar bukanlah proses menyerap pengetahuan yang sudah jadi bentukan guru.
Akibat logis dari pengertian belajar di atas, maka mengajar merupakan kegiatan partisipasi guru dalam membangun pemahaman siswa. Partisipasi tersebut dapat berwujud sebagai bertanya secara kritis, meminta kejelasan, atau menyajikan situasi yang tampak bertentangan dengan pemahaman siswa sehingga siswa ‘terdorong’ untuk memperbaiki pemahamannya. Mengingat belajar adalah kegiatan aktif siswa, yaitu membangun pemahaman, maka partisipasi guru jangan sampai merebut otoritas atau hak siswa dalam membangun gagasannya. Dengan kata lain, partisipasi guru harus selalu menempatkan pembangunan pemahaman itu adalah tanggung jawab siswa itu sendiri, bukan guru. Misal, bila siswa bertanya tentang sesuatu, maka pertanyaan itu harus selalu dikembalikan dulu kepada siswa itu atau siswa lain, sebelum guru memberikan bantuan untuk menjawabnya. Seorang siswa bertanya, “Pak/Bu, apakah tumbuhan punya perasaan?” Guru yang baik akan mengajukan balik pertanyaan itu kepada siswa lain sampai tidak ada seorang pun siswa dapat menjawabnya. Guru kemudian berkata, “Saya sendiri tidak tahu, tetapi bagaimana jika kita melakukan percobaan?”

b.      Berpusat pada Siswa
Siswa memiliki perbedaan satu sama lain. Siswa berbeda dalam minat, kemampuan, kesenangan, pengalaman, dan cara belajar. Siswa tertentu lebih mudah belajar dengan cara dengar-baca, siswa lain lebih mudah dengan melihat (visual), atau dengan cara kinestetika (gerak). Oleh karena itu kegiatan pembelajaran, organisasi kelas, materi pembelajaran, waktu belajar, alat belajar, dan cara penilaian perlu beragam sesuai karakteristik siswa. KBM perlu menempatkan siswa sebagai subyek belajar. Artinya KBM memperhatikan bakat, minat, kemampuan, cara dan strategi belajar, motivasi belajar, dan latar belakang sosial siswa. KBM perlu mendorong siswa untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Kata lain yang dapat diambil dari penjelasan di atas adalah siswa belajar sesuai dengan gaya belajarnya bukan mengikuti gaya belajar guru.

c.       Belajar dengan Mengalami
KBM perlu menyediakan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari dan atau dunia kerja yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah dan prinsip ilmu yang dipelajari. Karena itu, semua siswa diharapkan memperoleh pengalaman langsung melalui pengalaman indrawi yang memungkinkan mereka memperoleh informasi dari melihat, mendengar, meraba/menjamah, mencicipi, dan mencium. Dalam hal ini, beberapa topik tidak mungkin disediakan pengalaman nyata, guru dapat menggantikannya dengan model atau situasi buatan dalam wujud simulasi. Jika ini juga tidak mungkin, sebaiknya siswa dapat memperoleh pengalaman melalui alat audio-visual (dengar pandang). Pilihan pengalaman belajar melalui kegiatan mendengar adalah pilihan terakhir. Pada saat ini sudah disosialisasikan suatu model pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk mengalami yaitu model CTL.

d.      Mengembangkan Keterampilan Sosial, Kognitif, dan Emosional
Siswa akan lebih mudah membangun pemahaman apabila dapat mengkomunikasikan gagasannya kepada siswa lain atau guru. Dengan kata lain, membangun pemahaman akan lebih mudah melalui interaksi dengan lingkungan sosialnya. Interaksi memungkinkan terjadinya perbaikan terhadap pemahaman siswa melalui diskusi, saling bertanya, dan saling menjelaskan. Interaksi dapat ditingkatkan dengan belajar kelompok. Penyampaian gagasan oleh siswa dapat mempertajam, memperdalam, memantapkan, atau menyempurnakan gagasan itu karena memperoleh tanggapan dari siswa lain atau guru. KBM perlu mendorong siswa untuk mengkomunikasikan gagasan hasil kreasi dan temuannya kepada siswa lain, guru atau pihak-pihak lain. Dengan demikian, KBM memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan (pendapat, sikap, kemampuan, prestasi) dan berlatih untuk bekerjasama. Artinya, KBM perlu mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya sehingga dapat terjalin saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya.

e.       Mengembangkan Keingintahuan, Imajinasi, dan Fitrah Ber-Tuhan
Siswa dilahirkan dengan memiliki rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan. Rasa ingin tahu dan imajinasi merupakan modal dasar untuk bersikap peka, kritis, mandiri, dan kreatif. Sementara, rasa fitrah ber-Tuhan merupakan embrio atau cikal bakal untuk bertaqwa kepada Tuhan. KBM perlu mempertimbangkan rasa ingin tahu, imajinasi, dan fitrah ber-Tuhan agar setiap sesi kegiatan pembelajaran menjadi wahana untuk memberdayakan ketiga jenis potensi ini.

f.       Belajar Sepanjang Hayat
Siswa memerlukan kemampuan belajar sepanjang hayat untuk bias bertahan (survive) dan berhasil (sukses) dalam menghadapi setiap masalah sambil menjalani proses kehidupan sehari-hari. Karena itu, siswa memerlukan fisik dan mental yang kokoh. KBM perlu mendorong siswa untuk dapat melihat dirinya secara positif, mengenali dirinya baik kelebihan maupun kekurangannya untuk kemudian dapat mensyukuri apa yang telah dianugerahkan Tuhan YME kepadanya. Demikian pula KBM perlu membekali siswa dengan keterampilan belajar, yang meliputi pengembangan rasa percaya diri, keingintahuan, kemampuan memahami orang lain, kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama supaya mendorong dirinya untuk senantiasa belajar, baik secara formal di sekolah maupun secara informal di luar kelas.

g. Perpaduan Kemandirian dan Kerjasama
Siswa perlu berkompetisi, bekerjasama, dan mengembangkan solidaritasnya. KBM perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan semangat berkompetisi sehat untuk memperoleh penghargaan, bekerjasama, dan solidaritas. KBM perlu menyediakan tugas-tugas yang memungkinkan siswa bekerja secara mandiri.


3.      Jelaskan prosedur atau langkah – langkah mengembangkan desain pembelajaran !
Jawab:
Pengembangan desain pembelajaran memiliki beberapa model yaitu Banathy, PPSI dan Dick and Carey. Berikut ini akan dipaparkan pengembangan langkah – langkah desain pembelajaran menurut Banathy, PPSI dan Dick and Carey.
1)      Model Pengembangan Desain Pembelajaran menurut Banthy
Gambar 1.Model pengembangan desain pembelajaran menurut Banathy
Pada model pengembangan desain pembelajaran menurut Banathy terdapat enam tahapan, yaitu:
Tahap 1: Merumuskan Tujuan (Formulate Objectives)
Yang kita harapkan pada tahap pertama dapat dikerjakan oleh siswa :
1)      Maksud sistem
Identifikasi masalah merupakan proses membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan yang seharusnya. Hasilnya akan menunjukkan kesenjangan antara kedua keadaan tersebut. Kesenjangan ini disebut kebutuhan (needs). Bila kesenjangan ke dua keadaan tersebut besar, kebutuhan itu perlu diperhatikan atau di selesaikan. Kebutuhan yang besar dan di tetapkan untuk diatasi itu di sebut masalah, sedangkan kebutuhan yang lebih kecil mungkin untuk sementara atau seterusnya diabaikan. Ia merupakan kebutuhan yang tidak dianggap sebagai masalah. Hasil akhir dari identifikasi masalah adalah perumusan tujuan umum, dalam model desain pembelajaran menurut Banathy menggunakan istilah maksud sistem.
2)      Spesifikasi tujuan
Tujuan merupakan sesuatu yang akan dapat dikerjakan oleh peserta didik setelah menyelesaikan proses belajar dan merupakan tujuan yang bermanfaat bagi peserta didik. Tujuan ini kemudian diuraikan menjadi tujuan-tujuan khusus, yaitu tujuan yang lebih rinci dan spesifik. Selanjutnya tujuan khusus ini disusun dalam urutan yang logis. Atas dasar tujuan inilah isi pelajaran dipilih dan disajikan kepada peserta didik kelak. Dalam Model Banathy menggunakan istilah spesifikasi tujuan.
3)      Tes acuan patokan
Tes acuan patokan dalam istilah umum adalah pembuatan prototipe. Pembuatan prototipe merupakan permulaan produksi untuk menghasilkan barang yang sesungguhnya. Di samping itu, pada kesempatan ini pula dimulai pengembangan desain evaluasi dan permulaan reviu teknis terhadap sistem tersebut oleh para ahli serta penyusunan tes yang akan digunakan untuk mengukur perilaku peserta didik, baik sebelum maupun setelah uji coba nanti.
Tahap 2 : Mengembangkan Tes (develop test)
Tahap kedua Mengembangkan tes yang didasarkan pada tujuan yang diinginkan dan digunakan  untuk mengetahui kemampuan yang diharapkan dapat di capai sebagai hasil dari pengalaman belajarnya. Dengan mengembangkan tes pada tahap awal bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Siswa yang sekolah masing-masing sudah memiliki kemampuan awal yang berbeda-beda yang di dapatkan sebelum masuk sekolah . Sehingga, salah apabila menganggap siswa kosong dan tidak memiliki kemampuan awal sebelum peserta didik masuk sekolah.
Tahap 3 : Menganalisis Kegiatan Belajar (analyze learning task)
Dalam menganalisis kegiatan belajar menggunakan hasil pengembangan tes yang dilakukan pada tahap kedua, yaitu berupa kemampuan awal siswa. Kemampuan awal siswa di analisis atau di nilai. Dari analisis kemampuan awal siswa akan di ketahui apa yang perlu di pelajari dan yang tidak perlu di pelajari. Kemampuan yang sudah dimiliki oleh siswa tidak perlu di pelajari, hal yang perlu dipelajari kemampuan yang belum dimiliki atau di kuasai oleh siswa. Sehingga akan lebih efektif dan efisisen dalam proses pembelajaran. 
Pada tahap ini dirumuskan untuk:
1)      Menentukan tugas-tugas belajar
2)      Menilai kompetensi masukan
3)      Melakukan tes masukan
4)      Mengidentifikasi dan karakterisasi tugas-tugas belajar yang aktual
Tahap 4 : Mendesain sistem Instruksional (design system)
Setelah itu di pertimbangkan alternatif-alternatif dan identifikasi apa yang harus dikerjakan untuk menjamin bahwa siswa akan menguasai kegiatan-kegiatan yang telah di analisis pada tahap 3 (hal ini di sebut oleh Banathy dengan istilah function analysis). Juga perlu di tentukan siapa atau apa yang mempunyai potensi paling baik untuk mencapai fungsi-fungsi tersebut (disebut component analysis) dan di tentukan pula kapan dan dimana fungsi-fungsi tersebut harus dilaksanakan (disebut design of the system)
Tahap mendesain sistem intruksional merupakan penentuan metode dan media intruksional yang sangat penting untuk memungkinkan peserta didik mencapai tujuan intrusional, yang meliputi:
1)      Analisis fungsi, isi dan urutan
2)      Analisis komponen
3)      Distribusi fungsi antar komponen
4)      Penjadwalan
Metode yang diidentifikasi dapat lebih dari satu, atau beberapa alteratif metode, karena dalam uji coba ada kemungkinan metode yang digunakan tidak efektif sehingga perlu diganti dengan metode lain. 
Tahap 5 : Melaksanakan  Kegiatan dan Mengetes Hasil
Dalam tahap melaksanakan dan mengetes hasil ini, sistem yang sudah di desain sekarang dapat di ujicobakan atau di tes dan di laksanakan. Apa yang dapat dilaksanakan atau dikerjakan siswa sebagai hasil implementasi sistem, harus di nilai agar dapat di ketahui seberapa jauh siswa telah menunjukan tingkah laku seperti yang dimaksudkan dalam rumusan tersebut.
Tahap 6 :  Mengadakan perbaikan (change to improve)
Berdasakan hasil yang diperoleh dari interpretasi data hasil uji coba revisi dilakukan dari revisi kecil sampai revisi total. Untuk mengakhiri uji coba ulang yang kemudian akan diimplementasikan harus di ambil suatu keputusan.
Hasil-hasil yang diperoleh dari evaluasi merupakan umpan balik (feedback) untuk keseluruhan sistem sehingga perubahan-perubahan, jika di perlukan dapat dilakukan untuk memperbaiki sistem instruksional
2)      Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional)
Gambar 2. Model PPSI
Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional (PPSI) digunakan sebagai metode penyampaian dalam kurikulum 1975 utuk SD, SMP, SMA, dan kurikulum 1976 untuk sekolah-sekolah kejuruan. PPSI menggunakan pendekatan sistem yang mengutamakan adanya tujuan yang jelas sehingga dapat dikatakan bahwa PPSI menggunakan pendekatan yang berorientasi pada tujuan.
Sistem Intrusional dalam PPSI menunjukan pada pengertian pengajaran sebagai suatu sistem, yaitu sebagai suatu kesatuan yang terorganisasi, yang terdiri atas sejumlah komponen yang saling berhubungan satu sama lain dalam rangka mencapai tujuan yang diinginkan.
Sebagai suatu sistem, pengajaran mengandung sejumlah komponen, antara lain: materi pelajaran, metode, alat evaluasi, yang kesemuanya itu berinteraksi satu sama lain di dalam rangka mencapai tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Antara komponen satu dengan komponen lainnya tidak dapat berdiri sendiri, mereka saling menpengaruhi satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu dalam sistem intruksional tidak boleh hanya memperhatikan dari komponen materi pelajaran saja, dari metodenya saja atau dari alat evaluasinya saja. Komponen materi pembelajaran, metode dan alat evaluasi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat di pisah-pisahkan, karena antara satu dengan komponen lainnya saling terkait, saling mempengaruhi dan saling berhubungan.
Dalam memberikan pengajaran mengenai suatu topik pelajaran kepada muridnya, para guru dihadapkan pada sejumlah persoalan, antara lain:
a.       Tujuan-tujuan apa yang ingin dicapai
b.      Materi-materi pelajaran apa yang perlu diberikan untuk mencapai tujuan diatas?
c.       Metode/alat mana yang digunakan?
d.      Bagaimana prosedur mengevaluasinya?
PPSI merupakan langkah-langkah pengembangan dan pelaksanaan pembelajaran suatu sistem untuk mencapai tujuan secara efisien dan efektif.
Langkah-langkah pokok dalam model PPSI terdapat lima langkah, yaitu:
1.      Merumuskan tujuan instruksional khusus
2.      Menyusun alat evaluasi
3.      Menentukan kegiatan belajar dan materi pelajaran
4.      Merencakan program kegiatan
5.      Melaksanakan program
Langkah pertama sampai keempat merupakan langkah pengembangan, sedangkan langkah kelima merupakan langkah pelaksanaan program yang telah tersusun. Dibawah ini akan dijabarkan penjelasan untuk masing-masing langkah pada model PPSI, sebagai berikut:
Langkah 1: Merumuskan Tujuan Instruksional Khusus
Tujuan instruksional khusus  adalah rumusan yang jelas tentang kemampuan atau tingkah laku yang diharapkan dimiliki siswa sesudah mengikuti suatu program pembelajaran tertentu. Perumusan tingkah laku atau kemampuan siswa merupakan syarat mutlak dalam tujuan instruksional. Dalam merumuskan kemampuan siswa harus dirumuskan secara jelas dan spesifik sehingga tidak menimbulkan tafsiran yang berbeda. Untuk merumuskan secara jelas dan spesifik menggunakan istilah-istilah tertentu yang operasional sehingga dapat diukur.
Contoh istilah-istilah yang operasional : menuliskan, menyebutkan, menyebutkan, memiliki, membedakan, memecahkan, membandingkan, menghitung dan istilah-istilah yang sejenisnya. Contoh-contoh istilah yang kurang operasional, sehingga dapat menimbulkan berbagai interprestasi yang berbeda-beda : memahami, mengetahui, menikmati, menghargai, mempercayai, meyakinkan dan sebagainya.
Dalam menyusun tujuan-tujuan instruksional perlu diperhatikan beberapa kriteria, sebagai berikut:
1)      Menggunakan sistem yang operasional
Menggunakan sistem yang operasional supaya tidak menimbulkan tafsiran yang berbeda, seperti yang sudah di jelaskan pada bagian awal.
2)      Berbentuk hasil belajar
Pada perumusan tujuan instruksional menggambarkan hasil belajar yang diharapkan pada diri siswa setelah ia menempuh suatu kegiatan belajar tertentu, jadi yang dilukiskan di sini bukan apa-apa yang ia pelajari, tapi hasil apa yang ia peroleh setelah mempelajari sesuatu.
3)      Berbentuk perilaku
Isi perumusan tujuan instruksional hendakya berpijak  pada perubahan tingkah laku siswa yang diharapkan, bukan pada tingkah laku guru (proses mengajar). Sehingga guru yang meyesuaikan dengan kebutuhan siswanya. Untuk guru yang belum mengusai tidak menjadikan alasan belum mengusai, namun dapat dilakukan dengan mempelajari apa yang belum dikuasai oleh guru tersebut.
4)      Hanya ada satu perilaku
Perumusan tujuan hendaknya meliputi hanya satu jenis kemampuan/tingkah laku saja sehingga cukup terbatas. Bila berisi lebih dari satu kemampuan dalam suatu perumusan tujuan sering timbul kesulitan dalam mengevaluasi sampai dimana tujuan tersebut telah tercapai, sebab mungkin salah satu aspek kemampuan lainnya belum tercapai. Maka cukup dengan satu kemampuan saja.
Langkah 2 : Menyusun alat evaluasi
Setelah merumuskan tujuan instruksional, langkah selanjutnya yaitu menyusun alat evaluasi. Alat evaluasi bertujuan untuk menilai atau mengukur sampai dimana tujuan-tujuan yang telah dirumuskan telah tercapai.
Hal pertama yang perlu dilakukan dalam menyusun alat evaluasi adalah menentukan jenis tes apa yang akan digunakan untuk menilai tercapai tidaknya tujuan-tujuan tersebut. Jenis-jenis tes tersebut meliputi tes tertulis, tes lisan dan tes perbuatan. Untuk menentukan jenis tes apa yang akan digunakan di sesuaikan dengan tujuan yang telah dirumuskan di langkah awal.
Dapat disimpulkan pada langkah kedua dalam menyusun alat evaluasi;
1). Menentukan jenis tes yang akan di gunakan untuk menilai tercapai tidaknya tujuan
2). Menyusun tes untuk menilai masing-masing tujuan
Langkah 3 : Menentukan Kegiatan Belajar dan Materi Pelajaran
Pada langkah ketiga yaitu menentukan kegiatan belajar dan materi pelajaran dengan merumuskan kegiatan-kegiatan belajar apakah yang perlu ditempuh oleh siswa agar outputnya siswa dapat berbuat sesuai dengan apa yang tercantum dalam tujuan yang sudah dirumuskan di awal.
Untuk menentukan kegiatan belajar dan materi pelajaran perlu diperhatikan langkah-langkah berikut:
1)      Merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar yang perlu untuk mencapai tujuan.
Langkah pertama dengan merumuskan semua kemungkinan yang perlu untuk mencapai tujuan. Untuk lebih jelasnya di uraikan pada langkah berikutnya.

2)      Menetapkan mana dari sekian kegiatan belajar tersebut yang tidak perlu ditempuh lagi oleh siswa.
Untuk mengetahui kegiatan belajar yang tidak perlu ditempuh oleh siswa lagi, perlu diadakan suatu tes. Tes yang digunakan adalah tes input. Tes input adalah suatu tes yang berfungsi untuk menilai pengetahuan siswa yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan belajar yang telah dirumuskan. Dari hasil tes tersebut dapat ditentukan kegiatan-kegiatan belajar mana yang perlu dan mana yang tidak perlu lagi ditempuh oleh siswa untuk mencapai tujuan instruksional tertentu.

3)      Menetapkan kegiatan belajar yang masih perlu dilaksanakan oleh siswa
Dari hasil tes yang telah dilakukan, dapat ditetapkan kegiatan belajar yang masih perlu dilakukan oleh siswa.

Langkah 4 : Merencanakan Program Kegiatan
Hal yang perlu diperhatikan dalam merencanakan program kegiatan adalah:
1)      Merumuskan materi pelajaran
Setelah menentukan kegiatan belajar dan materi pelajaran, selajutnya merencanakan progam kegiatan, termasuk dalam merumuskan materi pelajaran yang akan diberikan kepada siswa sesuai jenis-jenis kegiatan belajar yang telah ditetapkan pada langkah ketiga.

2)      Menentukan metode yang di pakai
Untuk menyampaikan suatu materi pelajaran, diperlukan metode yang tepat. Macam-macam metode antara lain:
a)      Metode ceramah, pada metode ini guru aktif menerangkan meteri pelajaran sedangkan siswa mendengarkan guru yang sedang menyampaikan materi didepan kelas.
b)      Metode demonstrasi, guru memperlihatkan suatu gejala atau proses di depan siswanya, sedangkan siswa melihat apa yang disampaikan oleh guru.
c)      Metode eksperimen, siswa melakukan percobaan sendiri dengan petunjuk seperlunya dari guru.
d)     Metode pemberian tugas, siswa diberi tugas oleh guru, baik dalam bentuk perorangan ataupun dalam kelompok. Pekerjaan rumah termasuk dalam metode pemberian tugas.
e)      Metode karyawisata, siswa dibawa ke suatu obyek tertentu diluar kelas, sehingga siswa dapat melihat dan menghayati langkah-langkah obyek tersebut.

3)      Menyusun jadwal
Dengan banyaknya materi yang akan disampaikan, maka perlu memperhitungkan waktu untuk penyampaian materi. Untuk itu diperlukan menyusun jadwal pengajaran.

Langkah 5 : Melaksanakan Program
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam fase ini adalah sebagai berikut:
1)      Mengadakan tes awal
Tes yang diberikan kepada siswa adalah yang telah disusun dalam langkah kedua. Fungsi dari tes awal ini adalah untuk menilai sampai dimana siswa telah menguasai kemampuan-kemampuan yang tercantum dalam tujuan-tujuan instruksional. Hasil tes awal sebagai bahan perbandingan dengan tes akhir setelah siswa selesai mengikuti program pengajaran tertentu.

2)      Menyampaikan materi pelajaran
Dalam menyampaikan materi pelajaran pada prinsipnya, berpegang pada rencana yang telah disusun dalam langkah “merencanakan program kegiatan”, baik mengenai materi, metode maupun alat yang digunakan. Selain itu, yang penting adalah sebelum guru mulai menyampaikan materi pembelajaran hekdaknya dijelaskan dulu tujuan-tuujuan instruksional yang ingun dicapai kepada siswa sehingga sejak sebelum pelajaran dimulai siswa telah mengetahui kemampuan-kemampuan apakah yang diharapkan dari siswa setelah selesai mengikuti pelajaran.

3)      Mengadakan tes akhir
Kalau tes awal diberikan sebelum murid mengikuti pelajaran, maka tes akhir diberikan setelah siswa mengikuti pembelajaran. Tes yang diberikan di awal identik dengan yang diberikan diakhir, artinya bahan tes yang sama. Perbedaan tes awal dengan tes akhir hanya dalam waktu dan fungsi masing-masing.

4)      Perbaikan
Perbaikan dilakukan dengan menambah, mengurangi atau mengkombinasikan antara sebelumnya dengan rencana selanjutnya. Sehingga diharapkan selalu lebih baik dari waktu ke waktu.

c.       Model Pengembangan Desain Pembelajaran menurut Dick and Carey
Gambar 3. Model pengembangan desain pembelajaran menurut Dick and Carey
Model pengembangan desain pembalajaran menurut Dick and Carey (1985) dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1)      Mengidentifikasi tujuan umum pengajaran
2)      Melaksanakan analisis pengajaran
3)      Mengidentifikasi tingkah laku masukan dan karakteristik siswa
4)      Merumuskan Tujuan Performansi
5)      Mengembangkan tes acuan patokan
6)      Mengembangkan strategi pengajaran
7)      Mengembangkan dan memilih materi pengajaran
8)      Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif
9)      Merevisi Pembelajaran
10)  Mendesain dan melaksanakan evaluasi sumatif
Secara umum penggunaan desain pengajaran menurut Dick and Carey adalah sebagai berikut.
1)      Model Dick and Carey terdiri atas 10 langkah dimana setiap langkah sangat jelas maksud tujuannya, sehingga bagi perancang pemula sangat cocok sebagai dasar untuk mempelajari model desain yang lain.
2)      Kesepuluh langkah pada model Dick and Carey menunjukkan hubungan yang sangat jelas, dan tidak terputus antara langkah satu dengan langkah yang lainnya.  Dengan kata lain, sistem yang terdapat pada Dick and Carey sangat ringkas, namun isinya padat dan jelas dari satu urutan ke urutan berikutnya.
3)      Langkah awal pada model Dick and Carey adalah mengidentifikasi tujuan pegajaran. Langkah ini sangat sesuai dengan kurikulum perguruan tinggi maupun sekolah menengah dan sekolah dasar, khususnya dalam mata pelajaran tertentu dimana tujuan pengajaran pada kurikulum agar dapat melahirkan suatu rancangan pembelajaran.
Berikut ini penjelasan langkah demi langkah yang telah ditetapkan oleh Dick and Carey.
1)      Mengidentifikasi Tujuan Umum Pengajaran
Dick and Carey menjelaskan bahwa tujuan pengajaran adalah untuk menentukan apa yang dapat dilakukan oleh anak didik setelah mengikuti kegiatan pembelajaran. Rumusan tujuan pembelajaran harus jelas dan dapat diukur, berbentuk tingkah laku.

2)      Melakukan Analisis Pengajaran
Dengan cara analisis pembelajaran ini akan diidentifikasi ketrampilan-ketrampilan bawahan (subordinate skills). Analisis pembelajaran dalam keseluruhan desain pembelajaran merupakan perilaku prasyarat, sebagai perilaku yang menurut proses psikologis muncul lebih dahulu atau secara kronologis terjadi lebih awal, sehingga analisis ini merupakan acuan dasar dalam melanjutkan langkah-langkah desain berikutnya. Dick and Carey mengatakan bahwa tujuan pengajaran yang telah diidentifikasi perlu dianalisis  untuk mengenali ketrampilan-ketrampilan bawahan (subordinate skills) yang mengharuskan anak didik belajar menguasainya dan langkah-langkah prosedural bawahan yang ada harus diikuti anak didik untuk dapat belajar tertentu.
Cara yang digunakan untuk mengidentifikasi subordinate skills dengan cara memilih keterampilan bawahan yang berhubungan langsung dengan ranah tujuan pembelajaran. Untuk menemukan keterampilan-keterampilan bawahan yang bersumber dari tujuan pembelajaran, digunakan pendekatan hierarki, dimana anak didik dituntut harus mampu memecahkan masalah atau melakukan kegiatan informasi yang tidak dijumpai sebelumnya, seperti mengklasifikasi dengan ciri-cirinya, menerapkan dalil atau prinsip untuk memecahkan masalah.

3)   Mengidentifikasi Tingkah Laku Masukan dan Karaktristik Siswa
Langkah ketiga dalam model Dick and Carey yaitu mengidentifikasi tingkah laku dan karakteristik siswa. Langkah ini sangat perlu dilakukan untuk mengetahui kualitas perseorangan untuk dapat dijadikan sebagai petunjuk dalam mendeskripsikan strategi pengelolaan pembelajaran. Aspek-aspek yang diungkap dalam kegiatan ini bisa berupa bakat, motivasi belajar, gaya belajar, kemampuan berfikir,minat, atau kemampuan awal. Untuk mengetahui hal tersebut dapat dilakukan dengan bantuan tes baku yang telah dirancang oleh para ahli.

4)   Merumuskan Tujuan Performasi
Menurut Dick and Carey menyatakan bahwa tujuan performasi terdiri atas:
a)    Tujuan harus menguraikan apa yang akan dapat dikerjakan oleh siswa
b)   Menyebutkan tujuan, memberikan kondisi atau keadaan yang menjadi syarat, yang hadir pada waktu siswa berbuat
c)    Menyebutkan kriteria yang digunakan untuk menilai unjuk perbuatan siswa yang dimaksudkan pada tujuan

5)   Mengembangkan Butir-Butir Tes Acuan Patokan
Tes acuan patokan terdiri atas soal-soal yang secara langsung mengukur istilah patokan yang dideskripsikan dalam suatu perangkap tujuan khusus. Bagi seorang perancang pembelajaran harus mengembangkan butir tes acuan patokan, karena hasil tes pengukuran tersebut berguna untuk:
a)    Mendiagnosis dan menempatkannya dalam kurikulum
Menceking hasil belajar dan menemukan kesalahan pengertian, sehingga dapat diberikan pembelajaran remedial sebelum pembelajaran dilanjutkan
b)   Menjadi dokumen kemajuan belajar
Mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, Dick and Carey merekomendasikan tes acuan patokan, yaitu:
a)    test entry behaviors merupakan tes acuan patokan untuk mengukur keterampilan sebagainya adanya pada permulaan pembelajaran.
b)   Pretes merupakan tes acuan patokan yang berguna bagi keperluan tujuan yang telah dirancang sehingga diketahui sejauh mana pengetahuan anak didik terhadap semua keterampilan yang berada diatas batas, yaitu keterampilan prasyarat.

6)   Mengembangkan Strategi Pengajaran
Dalam strategi pembelajaran menjelaskan komponen umum suatu perangkat material pembelajaran dan mengembangkan materi secara prosedural haruslah berdasarkan karakteristik siswa.

7)   Mengembangkan dan Memilih Material Pengajaran
Dick and Carey menyarankan ada tiga pola yang dapat diikuti oleh pengajar untuk merancang atau menyampaikan pembelajaran, yaitu:
a)    Pengajar merancang bahan pembelajaran individual, semua tahap pembelajaran dimasukan kedalam bahan, kecuali prates dan pascates.
b)   Pengajar memilih dan mengubah bahan yang ada agar sesuai dengan strategi pembelajaran.
c)    Pengajar tidak memakai bahan, tetapi menyampaikan semua pembelajaran menurut strategi pembelajarannya yang telah disusunnya.

8)   Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif merupakan salah satu langkah dalam mengembangkan desain pembelajaran yang berfungsi untuk mengumpulkan data untuk perbaikan pembelajaran. Melalui evaluasi formatif akan ditemukan berbagai kekurangan yang terdapat pada kegiatan pembelajaran, sehingga kekurangan-kekurangan tersebut dapat diperbaiki.

9)   Merevisi Bahan Pembelajaran
Revisi dilakukan untuk menyempurnakan bahan pembelajaran sehingga lebih menarik, efektif bila digunakan dalam keperluan pembelajaran, sehingga memudahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dick and Carey mengemukakan ada dua revisi yang perlu dipertimbangkan, yaitu (1) revisi terhadap isi atau substansi bahan pembelajaran agar lebih cermat sebagai alat belajar, (2) revisi terhadap cara-cara yang dipakai dalam menggunakan bahan pembelajaran.

10)         Mendesain dan Melaksanakan Evalusi Sumatif
Melalui evaluasi sumatif dapat ditetapkan atau diberikan nilai apakah suatu desain pembelajaran, dimana dasar keputusan penilaian didasarkan pada keefektifan dan efisiensi dalam kegiatan belajar-mengajar.


4.      Sebut dan jelaskan kompetensi – kompetensi yang dibutuhkan seorang guru!
Jawab:
Seorang guru harus memiliki 4 Kompetensi Dasar yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.(LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 16 TAHUN 2007).
a.       Kompetensi Profesional
Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian (expertise) para anggotanya. Artinya pekerjaan itu tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan secara khusus untuk melakukan pekerjaan itu. Profesional menunjuk pada dua hal, yaitu (1) orang yang menyandang profesi, (2) penampilan seseorang dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya (seperti misalnya dokter).
Makmum (1996: 82) menyatakan bahwa teacher performance diartikan kinerja guru atau hasil kerja atau penampilan kerja. Secara konseptual dan umum penampilan kerja guru itu mencakup aspekaspek; (1) kemampuan profesional, (2) kemampuan sosial, dan (3) kemampuan personal.
Johnson (dalam Sanusi, 1991:36) menyatakan bahwa standar umum itu sering dijabarkan sebagai berikut; (1) kemampuan profesional mencakup, (a) penguasaan materi pelajaran, (b) penguasaan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan, dan (c) penguasaan proses-proses pendidikan. (2) kemampuan sosial mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawakan tugasnya sebagai guru. (3) kemampuan personal (pribadi) yang beraspek afektif mencakup, (a) penampilan sikap positif terhadap keseluruhan tugas sebagai guru, (b) pemahaman, penghayatan, dan penampilan nilai-nilai yang seyogyanya dianut oleh seorang guru, dan (c) penampilan untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan keteladanan bagi peserta didik.

b.       Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian menurut Suparno (2002:47) adalah mencakup kepribadian yang utuh, berbudi luhur, jujur, dewasa, beriman, bermoral; kemampuan mengaktualisasikan diri seperti disiplin, tanggung jawab, peka, objekti, luwes, berwawasan luas, dapat berkomunikasi dengan orang lain; kemampuan mengembangkan profesi seperti berpikir kreatif, kritis, reflektif, mau belajar sepanjang hayat, dapat ambil keputusan dll. (Depdiknas,2001). Kemampuan kepribadian lebih menyangkut jati diri seorang guru sebagai pribadi yang baik, tanggung jawab, terbuka, dan terus mau belajar untuk maju.
Yang pertama ditekankan adalah guru itu bermoral dan beriman. Hal ini jelas merupakan kompetensi yang sangat penting karena salah satu tugas guru adalah membantu anak didik yang bertaqwa dan beriman serta menjadi anak yang baik. Bila guru sendiri tidak beriman kepada Tuhan dan tidak bermoral, maka menjadi sulit untuk dapat membantu anak didik beriman dan bermoral. Bila guru tidak percaya akan Allah, maka proses membantu anak didik percaya akan lebih sulit. Disini guru perlu menjadi teladan dalam beriman dan bertaqwa. Pernah terjadi seorang guru beragama berbuat skandal sex dengan muridnya, sehingga para murid yang lain tidak percaya kepadanya lagi. Para murid tidak dapat mengerti bahwa seorang guru yang mengajarkan moral, justru ia sendiri tidak bermoral. Syukurlah guru itu akhirnya dipecat dari sekolah.
Yang kedua, guru harus mempunyai aktualisasi diri yang tinggi. Aktualisasi diri yang sangat penting adalah sikap bertanggungjawab. Seluruh tugas pendidikan dan bantuan kepada anak didik memerlukan tanggungjawab yang besar. Pendidikan yang menyangkut perkembangan anak didik tidak dapat dilakukan seenaknya, tetapi perlu direncanakan, perlu dikembangkan dan perlu dilakukan dengan tanggungjawab. Meskipun tugas guru lebih sebagai fasilitator, tetapi tetap bertanggung jawab penuh terhadap perkembangan siswa. Dari pengalaman lapangan pendidikan anak menjadi rusak karena beberapa guru tidak bertanggungjawab. Misalnya, terjadi pelecehan seksual guru terhadap anak didik, guru meninggalkan kelas seenaknya, guru tidak mempersiapkan pelajaran dengan baik, guru tidak berani mengarahkan anak didik, dll.
Kemampuan untuk berkomunikasi dengan orang lain sangat penting bagi seorang guru karena tugasnya memang selalu berkaitan dengan orang lain seperti anak didik, guru lain, karyawan, orang tua murid, kepala sekolah dll. Kemampuan ini sangat penting untuk dikembangkan karena dalam pengalaman, sering terjadi guru yang sungguh pandai, tetapi karena kemampuan komunikasi dengan siswa tidak baik, ia sulit membantu anak didik maju. Komunikasi yang baik akan membantu proses pembelajaran dan pendidikan terutama pada pendidikan tingkat dasar sampai menengah.
Kedisiplinan juga menjadi unsur penting bagi seorang guru. Kedisiplinan ini memang menjadi kelemahan bangsa Indonesia, yang perlu diberantas sejak bangku sekolah dasar. Untuk itu guru sendiri harus hidup dalam kedisiplinan sehingga anak didik dapat meneladannya. Di lapangan sering terlihat beberapa guru tidak disiplin mengatur waktu, seenaknya bolos; tidak disiplin dalam mengoreksi pekerjaan siswa sehingga siswa tidak mendapat masukan dari pekerjaan mereka. Ketidakdisiplinan guru tersebut membuat siswa ikut-ikutan suka bolos dan tidak tepat mengumpulkan perkerjaan rumah. Yang perlu diperhatikan di sini adalah, meski guru sangat disiplin, ia harus tetap membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan siswa. Pendidikan dan perkembangan pengetahuan di Indonesia kurang cepat salah satunya karena disiplin yang kurang tinggi termasuk disiplin dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan dalam belajar.
Yang ketiga adalah sikap mau mengembangkan pengetahuan. Guru bila tidak ingin ketinggalan jaman dan juga dapat membantu anak didik terus terbuka terhadap kemajuan pengetahuan, mau tidak mau harus mengembangkan sikap ingin terus maju dengan terus belajar. Di jaman kemajuan ilmu pengetahuan sangat cepat seperti sekarang ini, guru dituntut untuk terus belajar agar pengetahuannya tetap segar. Guru tidak boleh berhenti belajar karena merasa sudah lulus sarjana.

c.       Kompetensi Paedagogik
Selanjutnya kemampuan paedagogik menurut Suparno (2002:52) disebut juga kemampuan dalam pembelajaran atau pendidikan yang memuat pemahaman akan sifat, ciri anak didik dan perkembangannya, mengerti beberapa konsep pendidikan yang berguna untuk membantu siswa, menguasai beberapa metodologi mengajar yang sesuai dengan bahan dan perkambangan siswa, serta menguasai sistem evaluasi yang tepat dan baik yang pada gilirannya semakin meningkatkan kemampuan siswa.
Pertama, sangat jelas bahwa guru perlu mengenal anak didik yang mau dibantunya. Guru diharapkan memahami sifat-sifat, karakter, tingkat pemikiran, perkembangan fisik dan psikis anak didik. Dengan mengerti hal-hal itu guru akan mudah mengerti kesulitan dan kemudahan anak didik dalam belajar dan mengembangkan diri. Dengan demikian guru akan lebih mudah membantu siswa berkembang. Untuk itu diperlukan pendekatan yang baik, tahu ilmu psikologi anak dan perkembangan anak dan tahu bagaimana perkembangan pengetahuan anak. Biasanya selama kuliah di FKIP guru mendalami teori-teori psikologi tersebut. Namun yang sangat penting adalah memahami anak secara tepat di sekolah yang nyata.
Kedua, guru perlu juga menguasai beberapa teori tentang pendidikan terlebih pendidikan di jaman modern ini. Oleh karena sistem pendidikan di Indonesia lebih dikembangkan kearah pendidikan yang demokratis, maka teori dan filsafat pendidikan yang lebih bersifat demokratis perlu didalami dan dikuasai. Dengan mengerti bermacammacam teori pendidikan, diharapkan guru dapat memilih mana yang paling baik untuk membantu perkembangan anak didik. Oleh karena guru kelaslah yang sungguh mengerti situasi kongrit siswa mereka, diharapkan guru dapat meramu teori-teori itu sehingga cocok dengan situasi anak didik yang diasuhnya. Untuk itu guru diharapkan memiliki kreatifititas untuk selalu menyesuaikan teori yang digunakan dengan situasi belajar siswa secara nyata.
Ketiga, guru juga diharapkan memahami bermacam-macam model pembelajaran. Dengan semakin mengerti banyak model pembelajaran, maka dia akan lebih mudah mengajar pada anak sesuai dengan situasi anak didiknya. Dan yang tidak kalah penting dalam pembelajaran adalah guru dapat membuat evaluasi yang tepat sehingga dapat sungguh memantau dan mengerti apakah siswa sungguh berkembang seperti yang direncanakan sebelumnya. Apakah proses pendidikan sudah dilaksanakan dengan baik dan membantu anak berkembang secara efisien dan efektif.
Kompetensi profesional meliputi: (1) menguasai landasan pendidikan, (2) menguasai bahan pembelajaran, (3) menyusun program pembelajaran, (4) melaksanakan program pembelajaran, dan (5) menilai proses serta hasil pembelajaran.

d.      Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial meliputi: (1) memiliki empati pada orang lain, (2) memiliki toleransi pada orang lain, (3) memiliki sikap dan kepribadian yang positif serta melekat pada setiap kopetensi yang lain, dan (4) mampu bekerja sama dengan orang lain.
Menurut Gadner (1983) dalam Sumardi (Kompas, 18 Maret 2006) kompetensi sosial itu sebagai social intellegence atau kecerdasan sosial. Kecerdasan sosial merupakan salah satu dari sembilan kecerdasan (logika, bahasa, musik, raga, ruang, pribadi, alam, dan kuliner) yang berhasil diidentifikasi oleh Gardner. Semua kecerdasan itu dimiliki oleh seseorang. Hanya saja, mungkin beberapa di antaranya menonjol, sedangkan yang lain biasa atau bahkan kurang. Uniknya lagi, beberapa kecerdasan itu bekerja secara padu dan simultan ketika seseorang berpikir dan atau mengerjakan sesuatu (Amstrong, 1994).
Sehubungan dengan apa yang dikatakan oleh Amstrong itu ialah bahwa walau kita membahas dan berusaha mengembangkan kecerdasan sosial, kita tidak boleh melepaskannya dengan kecerdasan-kecerdasan yang lain. Hal ini sejalan dengan kenyataan bahwa dewasa ini banyak muncul berbagai masalah sosial kemasyarakatan yang hanya dapat dipahami dan dipecahkan melalui pendekatan holistik, pendekatan komperehensif, atau pendekatan multidisiplin.
Kecerdasan lain yang terkait erat dengan kecerdasan sosial adalah kecerdasan pribadi (personal intellegence), lebih khusus lagi kecerdasan emosi atau emotial intellegence (Goleman, 1995). Kecerdasan sosial juga berkaitan erat dengan kecerdasan keuangan (Kiyosaki, 1998). Banyak orang yang terkerdilkan kecerdasan sosialnya karena impitan kesulitan ekonomi.
Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti karier di masyarakat, lembaga, atau perusahaan. Banyak orang sukses yang kalau kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama, berempati, dan pengendalian diri yang menonjol.
Dari uraian dan contoh-contoh di atas dapat kita singkatkan bahwa kompetensi sosial adalah kemampuan seseorang berkomunikasi, bergaul, bekerja sama, dan memberi kepada orang lain. Inilah kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh seorang pendidik yang diamanatkan oleh UU Guru dan Dosen, yang pada gilirannya harus dapat ditularkan kepada anak-anak didiknya.
Untuk mengembangkan kompetensi sosial seseorang pendidik, kita perlu tahu target atau dimensi-dimensi kompetensi ini 15 skill yang dapat dimasukkan kedalam dimensi kompetensi sosial, yaitu: (1) kerja tim, (2) melihat peluang, (3) peran dalam kegiatan kelompok, (4) tanggung jawab sebagai warga, (5) kepemimpinan, (6) relawan sosial, (7) kedewasaan dalam bekreasi, (8) berbagi, (9) berempati, (10) kepedulian kepada sesama, (11) toleransi, (12) solusi konflik, (13) menerima perbedaan, (14) kerja sama, dan (15) komunikasi.

Kelima belas kecerdasan hidup ini dapat dijadikan topik silabus dalam pembelajaran dan pengembangan kompetensi sosial bagi para pendidik dan calon pendidik. Topik-topik ini dapat dikembangkan menjadi materi ajar yang dikaitkan dengan kasus-kasus yang aktual dan relevan atau kontekstual dengan kehidupan masyarakat kita. Dari uraian tentang profesi dan kompetensi guru, menjadi jelas bahwa pekerjaan/jabatan guru adalah sebagai profesi yang layak mendapatkan penghargaan, baik finansial maupun non finansial.

1 komentar:

  1. Casino - Dr.MCD
    Casino. Gambling 양산 출장마사지 problem? Call 1-800-GAMBLER 인천광역 출장마사지 (1) 321-7560. 영천 출장안마 Anonymous. Customer 진주 출장마사지 Service. 수원 출장샵 1-800-GAMBLER (1) 321-7560.

    BalasHapus