UPAYA
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS X MIPA 4 DI SMAN 2 MUARA JAMBI DENGAN
MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN TEAM
ACCELERATED INSTRUCTION PADA MATERI IMPULS
DAN MOMENTUM
PROPOSAL SKRIPSI
Diajukan
untuk menyusun SKRIPSI pada Program Studi Pendidikan Fisika
Oleh
Yuhani Agustri
A1C315034
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Fisika
merupakan ilmu yang mempelajari tentang fenomena alam. Kajian fisika meliputi hal
yang besar dan yang kecil, yang lama dan yang baru. Dari atom hingga galaksi,
fisika menjadi bagian dari kehidupan manusia sehari-hari. Oleh karenanya fisika dipelajari sejak
Sekolah Dasar hingga perguruan tinggi. Semakin tinggi jenjang pendidikan akan
semakin dalam pula bahasan fisikanya. Sehingga kenyataannya semakin tinggi
jenjang pendidikan, pelajaran fisika dianggap semakin sulit.
Salah
satu materi yang dipelajari dalam pembelajaran Fisika di tingkat SMA adalah
impuls dan momentum. Materi ini mempelajari mengenai konsep Momentum, Impuls, Tumbukan
lenting sempurna, lenting sebagian, dan tidak lenting. Materi ini merupakan
salah satu materi yang sulit dipahami oleh siswa kelas X Mipa 4.
Berdasarkan
observasi penulis ketika memberikan angket motivasi kepada siswa kelas X Mipa 4
di SMA Negeri 2 Muara Jambi bahwa sebagian siswa kelas X Mipa 4 masih
beranggapan bahwa fisika sebagai mata pelajaran yang paling sulit atau
membosankan diantara sekian banyak mata pelajaran sehingga kurang diminati.
Guru yang mengajar fisika juga menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas X
Mipa 4 tergolong rendah dibanding kelas X Mipa lainnya.
Hal
ini berawal dari proses pembelajaran bersifat teacher centered bukan student centered yaitu guru sebagai
sumber informasi dan sumber pengetahuan. Hal ini berarti proses pembelajaran
didominasi penyampaian informasi oleh guru, bukan pada pemrosesan informasi
yang diterima siswa sehingga pembelajaran kurang memberi kesempatan kepada
siswa untuk mengembangkan dan menunjukkan kemampuan yang beragam sehingga belum
tercipta suasana yang demokratis. Akibatnya siswa kurang berperan aktif dalam
proses pembelajaran.
Kurangnya
keaktifan siswa pada mata pelajaran fisika tidak hanya disebabkan oleh siswa
sendiri, namun kesulitan guru dalam memilih model pembelajaran untuk
penyampaian materi juga merupakan salah satu masalah yang dihadapi guru di SMA Negeri
2 Muara Jambi dalam proses pembelajaran di kelas.
Dikarenakan kurang tepatnya model pembelajaran yang dipilih oleh guru sehingga
menciptakan suasana yang membuat siswa cepat merasa bosan terhadap pelajaran fisika.
Contohnya guru yang sering menggunakan model pembelajaran langsung, ketika
kegiatan belajarnya bisa dilihat siswa asyik
sibuk sendiri, mulai dari mengobrol, atau menggambar sehingga kurangnya siswa
yang memperhatikan penjelasan guru dan akhirnya siswa menjadi tidak paham
dengan materi yang telah disampaikan.
Adapun
upaya yang dapat dilakukan untuk masalah tersebut, maka guru dapat menggunakan
model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dengan pembelajaran yang berpusat
pada siswa diharapkan sistwa termotivasi dalam belajar. Salah satu model
pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan keaktifan siswa dan diharapkan
dapat meningkatkan motivasi belajar adalah model pembelajaran Kooperatif tipe Team Accelerated Instruction (TAI).
Pembelajaran kooperatif merupakan model belajar yang
menempatkan siswa pada kelompok-kelompok yang berkategori. Dalam pembelajaran
kelompok setiap anggota akan bekerja sama dalam memahami suatu bahan pelajaran
dan belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompoknya belum
menguasai bahan pelajaran tersebut.
Menurut
Slavin model pembelajaran kooperatif mempunyai beberapa tipe, salah satu
diantaranya adalah Team Accelerated
Instruction (TAI). Tipe Team Accelerated
Instruction (TAI) bertujuan untuk mengatasi kesulitan belajar siswa secara
individual. Kegiatan pembelajarannya lebih banyak digunakan untuk pemecahan
masalah, ciri khas pada tipe Team
Accelerated Instruction (TAI) ini
adalah setiap siswa secara individual belajar materi pembelajaran yang
sudah dipersiapkan oleh guru. Motivasi
belajar individual dibawa ke kelompok-kelompok untuk didiskusikan dan saling
dibahas oleh anggota kelompok, dan semua anggota kelompok bertanggung jawab
atas keseluruhan jawaban sebagai tanggung jawab bersama. Setelah melalui proses
belajar siswa diharapkan motivasi belajar siswa meningkat.
Menurut hasil penelitian yang
dilakukan Alsa (2011) yang berjudul Pengaruh Model
Pembelajaran Team Accelerated Instruction (TAI) terhadap Motivasi Belajar Fisika
diperoleh motivasi bahwa adanya perbedaan motivasi belajar fisika yang sangat
signifikan antara kelompok yang diajar dengan model pembelajaran Team Accelerated Instruction (TAI) dan
kelompok yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Kelompok yang diajar
dengan model pembelajaran Team
Accelerated Instruction (TAI) rata-rata motivasi fisikanya lebih tinggi
daripada kelompok yang diajar dengan model pembelajaran langsung. Berdasar
kenyataan tersebut, model pembelajaran Team
Accelerated Instruction (TAI) tidak hanya efektif meningkatkan motivasi
belajar fisika, tapi juga efektif untuk meningkatkan motivasi belajar mata
pelajaran lain, sepanjang karakteristik materinya dapat dirancang dalam bentuk
tugas-tugas yang menciptakan iklim saling ketergantungan positif dan
konstruktif di antara siswa, sehingga menuntut mereka harus bekerjasama secara
optimal di dalam masing-masing kelompok belajar untuk mencapai tujuan atau
target pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan
diatas, peneliti akan melakukan penelitian yang berjudul Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas X MIPA 4 di SMAN 4
Muara Jambi dengan Menggunakan Model Pembelajaran Team Accelerated Instruction
Pada Materi Impuls dan Momentum.
1.1
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang, rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah penerapan
model pembelajaran Team Accelerated
Instruction sebagai upaya meningkatkan
motivasi belajar siswa di kelas X Mia 4 SMAN 2 Muara Jambi pada materi Impuls dan Momentum?
2.
Apakah penerapan model
pembelajaran Team Accelerated Instruction
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X Mia 4 SMAN 2 Muara Jambi
pada materi Impuls dan Momentum?
1.2
Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah yang dikemukakan, maka tujuannya adalah:
1.
Untuk mengetahui
penerapan model pembelajaran Team
Accelerated Instruction sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar siswa di kelas X Mia 4 SMAN 2 Muara Jambi pada
materi Impuls dan Momentum.
2.
Untuk mengetahui peran
model pembelajaran Team Accelerated
Instruction dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas X Mia 4 SMAN 2
Muara Jambi pada materi Impuls dan
Momentum.
1.3
Manfaat
Penelitian
1.
Bagi Siswa
1.1
Selama proses
pembelajaran siswa lebih aktif.
1.2
Menumbuhkan kemampuan
kerjasama, komunikasi, serta mengembangkan keterampilan berfikir siswa.
1.3
Siswa merasa senang
karena dilibatkan selama proses pembelajaran.
1.4
Meningkatkan aktifitas
belajar siswa dalam memecahkan masalah fisika.
1.5
Meningkatkan motivasi
belajar fisika siswa.
2.
Bagi Guru
2.1
Sebagai motivasi untuk
meningkatkan keterampilan mengajar dengan memilih model pembelajaran yang
bervariasi.
2.2
Meningkatkan kinerja
profesionalisme guru.
2.3
Guru termotivasi
melakukan penelitian sederhana yang bermanfaat bagi perbaikan selama proses
pembelajaran.
3.
Bagi Sekolah
Meningkatkan mutu
pendidik khususnya pada mata pelajaran fisika.
4.
Bagi Peneliti
Dapat mengetahui
pengaruh penerapan model pembelajaran Team
Accelerated Instruction dalam meningkatkan hasil belajar fisika siswa.
BAB II
KAJIAN TEORITIK
1.1
Kajian Teori dan hasil penelitian yang
relevan
1.1.1
Kajian
Teori
2.1.1.1
Defenisi Belajar
Menurut
Susanto(2013) belajar adalah suatu
aktivitas yang dilakukan seseorang dengan sengaja dalam keadaan sadar untuk
memperoleh suatu konsep, pemahaman, atau pengetahuan baru sehingga memungkinkan
seseorang terjadinya perubahan perilaku yang relative tetap baik dalam
berpikir, merasa, maupun dalam bertindak.
Menurut
Purnami(2012) belajar adalah suatu
proses perubahan tingkah laku seseorang sebagai motivasi interaksi dengan lingkungannya
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sedangkan
Afifah(2013) mendefenisiskan belajar
merupakan kegiatan bagi setiap orang. Ketrampilan, kebiasaan, kegemaran dan
sikap seseorang terbentuk, dimodifikasi dan berkembang disebabkan belajar.
Seseorang dikatakan belajar bila seseorang tersebut mengalami perubahan dalam
tingkah lakunya.
Menurut
Suroto(2012) belajar adalah perubahan yang terjadi da- lam tingkah laku
manusia. Proses tersebut tidak akan terjadi apabila tidak ada suatu yang mendorong
pribadi yang bersangkutan
Dari
beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan belajar adalah kegiatan
individu memperoleh pengetahuan, perilaku, dan keterampilan dengan cara
mengolah bahan belajar. Para ahli psikologi dan guru-guru pada umumnya
memandang belajar sebagai kelakuan yang berubah, pandangan ini memisahkan
pengertian tegas antara pengertian proses belajar dengan kegiatan yang
semata-mata bersifat hafalan.
2.1.1.2 Defenisi Motivasi
Belajar
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), motivasi adalah dorongan yang timbul pada diri
seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan
tujuan tertentu. Atau usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau
kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan
yang dikehendakinya atau mendapat kepuasan dengan perbuatannya.
Menurut Kompri (2015:
4), motivasi adalah suatu dorongan dalam diri individu untuk melakukan suatu
tindakan dengan cara tertentu sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Motivasi
disini merupakan suatu alat kejiwaan untuk bertindak sebagai daya gerak atau
daya dorong untuk melakukan pekerjaan.
Menurut Sardiman (2011:
73) dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya
penggerak di dalam diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar, yang
menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada
kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar itu
dapat tercapai.
Berdasarkan uraian di
atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi merupakan kekuatan/ dorongan dalam diri
seseorang secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan dengan
cara tertentu sehingga tercapai tujuan sesuai yang dikehendaki.
Dalam proses belajar,
motivasi sangat diperlukan. Menurut Hamalik (2011: 161) motivasi sangat
menentukan tingkat keberhasilan atau gagalnya perbuatan belajar siswa. Belajar
tanpa adanya motivasi kiranya akan sangat sulit untuk berhasil. Sebab,
seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin
melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda bahwa sesuatu yang akan
dikerjakan itu tidak menyentuh kebutuhannya. Secara alami, motivasi siswa
sesungguhnya berkaitan erat dengan keinginan siswa untuk terlibat dalam proses
pembelajaran. Motivasi sangat diperlukan bagi terciptanya proses pembelajaran
di kelas secara efektif. Motivasi memiliki peranan yang sangat penting dalam
pembelajaran, baik dalam proses maupun dalam pencapaian hasil. Seorang siswa
yang memiliki motivasi yang tinggi, maka pada umumnya mampu meraih keberhasilan
dalam proses maupun output pembelajarannya.
Menurut Kompri (2015:
247) ada sejumlah indikator untuk mengetahui siswa yang memiliki motivasi dalam
proses pembelajaran diantaranya adalah: (a) memiliki gairah yang tinggi, (b)
penuh semangat, (c) memiliki rasa penasaran atau rasa ingin tahu yang tinggi,
(d) mampu jalan sendiri ketika guru meminta siswa mengerjakan sesuatu, (e)
memiliki rasa percaya diri, (f) memilliki daya konsentrasi yang lebih tinggi,
(g) kesulitan dianggap sebagai tantangan yang harus diatasi, dan (h) memiliki
kesabaran dan daya juang yang tinggi.
Sedangkan menurut Uno
(2013: 23) indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
(a) adanya hasrat dan keinginan, (b) adanya dorongan kebutuhan dalam belajar,
(c) adanya harapan dan citacita masa depan, (d) adanya penghargaan dalam
belajar, (e) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar, dan (f) adanya
lingkungan belajar yang kondusif sehingga memungkinkan peserta didik dapat
belajar dengan baik.
Dalam penelitian ini,
motivasi yang diukur terdiri dari lima aspek motivasai. Aspek-aspek yang diukur
antara lain: (a) tekun, (b) semangat, (c) minat, (d) stimulus, dan (e) tanggung
jawab.
2.1.1.3
Masalah-Masalah dalam Pembelajaran
Menurut Soejana dalam Haerana
(2016), terdapat beberapa faktor yang dapat menghambat kegitaan proses
pembelajaran, diantaranya:
a.
Faktor Guru
Agar guru dapat menyajikan bahan
pelajaran dengan menarik dan berhasil, maka perlu menguasai beberapa teknik sistem penyajian. Juga dapat memilih
sistem penyajian yang tepat untuk setiap materi tertentu yang akan disajikan
ataupun dapat membuat variasi dalam menyajikan bahan tersebut, namun demikian dalam pengamatan
pelaksanaan pengajaran itu para guru menemukan masalah-masalah sebagai berikut:
Guru kurang menguasai beberapa sistem
penyajian yang menarik dan efektif
1.
Pemilihan metode kurang
relevan dengan tujuan pembelajaran dan materi pelajaran.
2.
Kurang terampil dalam
menggunakan metode.
3.
Kurang bervariasi dalam
menggunakan metode.
4.
Cara menyajikan kurang
membangkitkan motivasi.
5.
Sangat terikat pada
satu metode.
Guru tidak memberikan feedback pada tugas yang dikerjakan
siswa. Menurut Sudjana dalam Haerana (2016) dalam pelaksanaan pengajaran guru
kadang-kadang menemui banyak hambatan, diantaranya adalah:
1.
Banyak guru kurang menggunakan perpustakaan
sebagai sumber belajar.
2.
Guru kurang membimbing
bagaimana seharusnya tata cara belajar efektif itu.
3.
Guru kurang kompeten.
4.
Guru kurang
memperhatikan dan memanfaatkan assessment siswa.
5.
Guru belum menggunakan
media dengan tepat.
6.
Guru kurang
mempertimbangkan latar belakang siswa yang tidak sama.
7.
Guru kurang mengerti
kemampuan dasar siswa yang kurang.
8.
Kurangnya buku-buku
bacaan ilmiah.
9.
Keadaan sarana yang
kurang.
10.
Jumlah buku-buku yang
berbahasa Indonesia masih terbatas.
11.
Guru dan murid kurang
mampu dalam menguasai bahasa Inggris.
Dengan
menemukan hambatan-hambatan itu, maka dalam pembelajaran menjadi kurang lancar.
Guru mengalami kesulitan dalam meningkatkan proses belajar mengajar, agar
hasilnya efektif dan efisien.
b.
Faktor Siswa
Dalaam mencapai hasil belajar yang
maksimal, menurut sudjana dalam Haerana (2016) dipengaruhi oleh faktor dari
dalam diri siswa berupakemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar
sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar siswa yang dicapai. Rendahnya
kemampuan siswa dapat menjadi faktor penghambat dalam proses pembelajaran.
Di samping faktor rendahnya kemampuan yang dimiliki
siswa sebagai faktor penghambat, juga ada faktor lain seperti rendahnya
motivasi belajar, kurangnya minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar,
kurangnya ketekunan, social ekonomi, faktor fisik dan psikis.
c.
Faktor Sarana dan
Prasarana
… Kurangnya ketersediaan sarana dan
prasarana akan sangat memengaruhi kesuksesan proses belajar mengajar.
d.
Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang kurang kondusif
akan menghambat pelaksanaan pembelajaran. Faktor lingkungan dapat memberikan
pengaruh yang positif dan pengaruh negative terhadap siswa.
2.1.1.4
Model
Pembelajaran Kooperatif Team Accelerated
Instruction (TAI)
Menurut Mulyatiningsih
(2013:227), model pembelajaran merupakan istilah yang digunakan untuk
menggambarkan penyelenggaraan proses belajar mengajar dari awal sampai akhir.
Dalam model pembelajaran sudah mencerminkan penerapan suatu pendekatan, metode,
teknik, atau taktik pembelejaran sekaligus.
Model pembelajaran
berisi unsur tujuan dan asumsi, tahap-tahap kegiatan, setting pembelajaran (situasi yang dikehendaki pada model
pembelajaran tersebut), kegiatan guru dan siswa, perangkat pembelajaran
(sarana, bahan, dan alat yang diperlukan), dampak belajar atau motivasi belajar
yang akan dicapai langsung dan dampak pengiring atau motivasi belajar secara
tidak langsung sebagai akibat proses belajar mengajar.
Model pembelajaran
berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para guru dalam
merencanakan aktifitas belajar mengajar.
Pada
dasarnya kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-tidaknya empat tujuan
pembelajaran yaitu motivasi belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman dan
pengembangan keterampilan sosial disamping juga bertujuan untuk meningkatkan
kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Pembelajaran kooperatif juga memberi
peluang kepada siswa yang berbeda latar belakang dan kondisi untuk bekerja
saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama dan melalui
penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk menghargai satu sama
lain.
Menurut Abidin
(2013:241) pembelajaran kooperatif merupakan sistem pembelajaran yang memberi
kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam
tugas-tugas terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran
secara berkelompok, tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar
kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur
dorongan atau tugas yang bersifat interdepensi efektif di antara anggota
kelompok. Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang
positif tentang apa yang dapat dilakukan siswa untuk mencapai kebermotivasian
belajar berdasarkan kemampuan dirinya dan andil dari anggota kelompok lain
selama belajar bersama dalam kelompok.
Dengan demikian, di
dalam pembelajaran kooperatif harus adanya kerjasama dan tujuan yang sama antar
anggota kelompok, karena sangat dibutuhkan untukdapat mencapai motivasi kerja
yang maksimal.
Dari
pendapat diatas maka dapat dikemukakan
bahwa Pembelajaran kooperatif merupakan model belajar yang menempatkan
siswa pada kelompok-kelompok yang berkategori. Dalam pembelajaran kelompok
setiap anggota akan bekerja sama dalam memahami suatu bahan pelajaran dan
belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompoknya belum menguasai
bahan pelajaran tersebut.
2.1.1.5
Penelitian yang Relevan
Mengenai
tipe Team Accelerated Instruction (TAI
) pada dasarnya adalah model Cooperative
Learning. Pada model ini pembelajaran dilakukan dengan membagi siswa
menjadi tiga atau empat kelompok belajar yang disusun berdasar kemampuan
campuran (kemampuan anggota dalam satu kelompok adalah heterogen). Sesama
anggota kelompok saling membantu satu sama lain, saling mengoreksi, dan saling
memberi semangat untuk bekerja secara cepat dan akurat. Rewards diberikan
kepada tim berdasar atas benar dan banyaknya tugas yang diselesaikan anggota
tim secara keseluruhan.
Slavin
(2005:187) berpendapat dasar pemikiran dibalik team assisted individualization bahwa para siswa memasuki kelas
dengan pengetahuan, kemampuan, dan motivasi yang sangat beragam.
Alsa
(2011:83) berpendapat tentang Team
Assisted Individualization (TAI), yang seringkali disebut juga sebagai Team Accelerated Instruction, adalah
suatu model pembelajaran kooperatif yang dikembangkan di Johns Hopkins
University oleh satu tim yang dipimpin oleh Robert E. Slavin dan Nancy Madden.
Siswa dimasukkan dalam beberapa kelompok, yang masing- masing kelompok terdiri
atas empat atau lima siswa dengan kemampuan yang heterogen. Setelah mengajar
suatu materi pelajaran, guru memberikan tugas kepada kelompok, yang
masing-masing anggota setiap kelompok harus saling bantu satu sama lain dalam
mengerjakan dan menyelesaikan latihan atau tugas tersebut. Siswa diberi tugas
pada level tertentu yang ditetapkan berdasar skor yang mereka per-oleh pada
initial test. Para siswa selanjutnya dites secara individual. Kelompok memperoleh
penghargaan melalui rewards mingguan untuk performansi keseluruhan kelompok.
Shoimin
(2013:200) berpendapat Team Assisted
Individualization (TAI) memiliki dasar pemikiran yaitu mengadaptasi
pembelajaran terhadap perbedaan individual berkaitan dengan kemampuan maupun
pencapaian prestasi siswa. Model ini termasuk dalam pembelajaran kooperatif.
Dalam model pembelajaran ini, siswa ditempatkan dalam kelompok kecil (4 sampai
5 siswa) yang heterogen dan selanjutnya diikuti dengan pemberian bantuan secara
individu bagi siswa yang memerlukannya. Dengan pembelajaran kelompok,
diharapkan para siswa dapat meningkatkan pikiran kritisnya, kreatif, dan
menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.
Dari
beberapa pendapat diatas maka dapat dikemukakan bahwa Team
Assisted Individualization (TAI) merupakan pembelajaran individual yang
dibawa kedalam pembelajaran kelompok yang mana kelompok terdiri dari anggota
yang heterogen, dan setiap anggota bertanggung jawab atas kelompoknya.
Alsa
(2011:83) berpendapat tentang Model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) memiliki delapan komponen,
yaitu:
1.
Teams,
adalah kelompok yang kemampuan anggotanya heterogen, terdiri dari empat sampai
dengan enam siswa
2.
Placement test, yaitu tes awal atau prestasi harian siswa pada
suatu mata pelajaran untuk melihat kelemahan siswa pada pelajaran tersebut
3.
Student
Creative, yaitu pemberian tugas kepada siswa dalam suatu kelompok dengan
menciptakan situasi dimana kebermotivasian individu ditentukan atau dipengaruhi
oleh kebermotivasian kelompoknya
4.
Team
Study, yaitu aktivitas belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok. Di
sini guru bertugas memberikan bantuan kepada siswa yang membutuhkan
5.
Team
Scores and Team Recognition, yaitu memberi skor terhadap kinerja kelompok
dan memberikan penghargaan terhadap kelompok yang bermotivasi maupun kelompok
yang dipandang kurang bermotivasi dalam menyelesaikan tugas
6. Teaching Group, yakni pemberian materi
singkat oleh guru menjelang pemberian tugas kepada semua kelompok
7.
Facts Test, yaitu memberi tes-tes kecil kepada siswa atas informasi
yang diperoleh
8.
Whole
Class Units, yaitu pemberian bahan oleh guru di akhir sesi pembelajaran
dengan langkah pemecahan masalah.
Rohendi
(2010 : 34) menyatakan Tahapan TAI adalah sebagai berikut : (1) Tes penempatan.
(2) Membentuk kelompok heterogen. (3) Memberikan bahan ajar. (4) Belajar dalam
kelompok. (5) Kelompok pengajaran. (6) Penilaian dan penghargaan kelompok. (7) Informasi materi esensial. (8) Tes
formatif.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis merumuskan
langkah-langkah pembelajaran model TAI sebagai berikut :
1.
Placement
test
Para
siswa diberi tes pada permulaan program. Soal yang diberikan berkenaan dengan
materi yang akan diajarkan. Hali ini dianggap perlu untuk kebermotivasian suatu
pengajaran yang direncanakan.. Tujuannya untuk mengetahui kelemahan siswa pada
bidang tertentu dan memudahkan guru dalam memberikan bantuan jika diperlukan.
2.
Teams
Kelompok
yang dibentuk beranggotakan 4 atau 6 orang siswa. Kelompok tersebut merupakan
kelompok heterogen yang mewakili motivasi-motivasi akademik dalam kelas. Fungsi
kelompok adalah untuk memastikan bahwa semua anggota kelompok ikut belajar dan
lebih khusus adalah mempersiapkan anggotanya untuk mengerjakan tes dengan baik.
3.
Student
Creative
Pemberian
tugas kepada siswa dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana
kebermotivasian individu ditentukan atau dipengaruhi oleh kebermotivasian
kelompoknya.
4.
Teaching
Group
Pemberian
materi singkat oleh guru menjelang siswa bekerja kelompok.
5.
Team
Study.
Para
siswa mengerjakan tugas dalam kelompok masing-masing.
6.
Team
Scores and Team Recognition.
Pada
tahapan ini guru menghitung skor kelompok. Kriteria dianut untuk prestasi
kelompok. Kriteria yang tinggi dibuat untuk kelompok-kelompok super, kriteria
menengah dengan kelompok hebat dan kriteria minimum untuk kelompok baik.
7.
Whole
Class Units.
Diakhir
kegiatan pembelajaran, guru membahas
materi yang dianggap sulit oleh siswa.
8.
Facts
Test
Tes
fakta ini merupakan tes yang dilakukan setelah subpokok bahasan diajarkan.
2.1
Kerangka
Berfikir
Semakin tinggi jenjang
pendidikan akan semakin dalam pula bahasan fisikanya. Sehingga kenyataannya
semakin tinggi jenjang pendidikan, pelajaran fisika dianggap semakin sulit.
Salah satu materi yang
dipelajari dalam pembelajaran Fisika di tingkat SMA adalah impuls dan momentum.
Materi ini merupakan salah satu materi yang sulit dipahami oleh siswa kelas X
Mipa 4.
Beberapa faktor yang
dapat mempengaruhi berhasil atau tidaknya pembelajaran Fisika diantaranya yaitu
dari segi siswa, guru maupun interaksi antara guru dan siswa. Faktor dari segi
siswa yaitu seperti minat dan motivasi belajar, dari segi guru yaitu cara guru
dalam menyampaikan pembelajaran seperti metode dan model pembelajaran,
sedangkan dari segi interaksi guru dan siswa adalah seperti keaktifan siswa
dalam pembelajaran. Jika ketiga faktor tersebut berfungsi dengan baik maka
tujuan pembelajaran akan tercapai dengan baik pula. Namun faktanya, banyak
hambatan dalam ketiga faktor diatas kerap terjadi dalam proses belajar mengajar
di kelas sehingga menyebabkan tujuan pembelajaran tidak tercapai.
Berdasarkan
observasi penulis ketika memberikan angket motivasi kepada siswa kelas X Mipa 4
di SMA Negeri 2 Muara Jambi bahwa sebagian siswa kelas X Mipa 4 masih
beranggapan bahwa fisika sebagai mata pelajaran yang paling sulit atau
membosankan diantara sekian banyak mata pelajaran sehingga kurang diminati.
Guru yang mengajar fisika juga menunjukkan bahwa hasil belajar siswa kelas X
Mipa 4 tergolong rendah dibanding kelas X Mipa lainnya.
Hal
ini berawal dari proses pembelajaran bersifat teacher centered bukan student centered yaitu guru sebagai
sumber informasi dan sumber pengetahuan. Hal ini berarti proses pembelajaran
didominasi penyampaian informasi oleh guru, bukan pada pemrosesan informasi
yang diterima siswa sehingga pembelajaran kurang memberi kesempatan kepada
siswa untuk mengembangkan dan menunjukkan kemampuan yang beragam sehingga belum
tercipta suasana yang demokratis. Akibatnya siswa kurang berperan aktif dalam
proses pembelajaran.
Kurangnya
keaktifan siswa pada mata pelajaran fisika tidak hanya disebabkan oleh siswa
sendiri, namun kesulitan guru dalam memilih model pembelajaran untuk
penyampaian materi juga merupakan salah satu masalah yang dihadapi guru di SMA
Negeri 2 Muara Jambi dalam proses pembelajaran di kelas.
Dikarenakan kurang tepatnya model pembelajaran yang dipilih oleh guru sehingga
menciptakan suasana yang membuat siswa cepat merasa bosan terhadap pelajaran
fisika. Contohnya guru yang sering menggunakan model pembelajaran langsung,
ketika kegiatan belajarnya bisa dilihat
siswa asyik sibuk sendiri, mulai dari mengobrol, atau menggambar
sehingga kurangnya siswa yang memperhatikan penjelasan guru dan akhirnya siswa
menjadi tidak paham dengan materi yang telah disampaikan.
Adapun
upaya yang dapat dilakukan untuk masalah tersebut, maka guru dapat menggunakan
model pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dengan pembelajaran yang berpusat
pada siswa diharapkan sistwa termotivasi dalam belajar. Salah satu model
pembelajaran yang dapat membantu meningkatkan keaktifan siswa dan diharapkan
dapat meningkatkan motivasi belajar adalah model pembelajaran Kooperatif tipe Team Accelerated Instruction (TAI).
Pembelajaran kooperatif merupakan model belajar yang
menempatkan siswa pada kelompok-kelompok yang berkategori. Dalam pembelajaran
kelompok setiap anggota akan bekerja sama dalam memahami suatu bahan pelajaran
dan belajar belum selesai jika salah satu teman dalam kelompoknya belum
menguasai bahan pelajaran tersebut. Dengan
adanya penerapan model pembelajaran Team
Accelerated Instruction (TAI) di kelas X
MIPA 4 SMAN 2 Muara Jambi diharapkan motivasi belajar Fisika siswa meningkat.
2.3
Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan dalam penelitian ini adalah bahwa
penerapan model
pembelajaran Team
Accelerated Instruction (TAI) dapat meningkatkan motivasi belajar fisika siswa
kelas X MIPA 4 di SMAN 2 Muara Jambi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1
Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini dilakukan di SMA Negeri 2 Muara Jambi. Waktu penelitian ini dilaksanakan
pada semester 2 tahun pelajaran 2017/2018 pada bulan Maret- April 2018.
3.2 Subjek Penelitian
Kelas
yang diteliti adalah kelas yang memiliki motivasi yang lebih rendah
dibandingkan dengan kelas lainnya yaitu kelas X Mia 4 SMA 2 Muara Jambi.
3.3 Data dan Sumber Data
Data
yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, yakni angket
motivasi siswa kelas X Mipa 4 terkait penerapan model pembelajaran TAI (Team Accelerated Instruction) pada
materi impuls dan momentum.
3.4
Teknik
Pengumpulan Data
Data
dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang diperoleh dari angket
motivasi belajar fisika siswa.
Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan angket
motivasi. Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk mendapatkan data
penelitian adalah sebagai berikut:
a.
Tahap Persiapan
Pada
tahap ini penulis mempersiapkan semua yang berhubungan dengan pelaksanaan
antara lain:
1.
Melakukan survei tempat
pelaksanaan penelitian
2.
Mengambil data jumlah
siswa dan nilai ulangan harian kelas X SMA Negeri 2 Muaro Jambi Tahun Ajaran 2017/2018.
3.
Menganalisis hasil nilai
ulangan harian dan menentukan kelas
sampel yaitu kelas yang nilai ulangan paling rendah dan motivasi yang rendah.
4.
Mempersiapkan jadwal
penelitian setelah peneliti mendapatkan informasi tentang alokasi waktu
pelajaran.
5.
Membuat rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP) sesuai dengan kurikulum mata pelajaran fisika
SMA dan menyiapkan lembar kerja siswa yang akan digunakan di kelas penelitian.
6.
Mempersiapkan
pembelajaran dengan TAI (Team Accelerated Instruction)
dengan pendekatan saintifik pada kelas eksperimen dan model pembelajaran
langsung dengan pendekatan saintifik pada kelas kontrol.
7.
Mempersiapkan instrumen
penelitian (soal uji coba).
b.
Tahap Pelaksanaan
Peneliti
memberikan pengajaran pada tiga kelas sampel. Materi yang diajarkan untuk
ketiga kelas sampel adalah materi yang sama yaitu perbandingan. Pada kelas
eksperimen, peneliti menggunakan pembelajaran dengan model TAI (Team
Accelerated Instruction ) dengan pendekatan
saintifik saat proses pembelajaran. Sedangkan untuk kelas kontrol, peneliti
menggunakan model pembelajaran langsung.
c.
Tahap Akhir
1.
Melakukan uji coba tes
akhir
2.
Memberikan tes akhir
kepada siswa dalam waktu yang ditentukan.
3.
Menganalisis nilai tes
akhir fisika siswa dari motivasi posttest
dan mengambil kesimpulan.
3.5
Teknik
Uji Validitas Data
Validitas
adalah mengukur atau menentukan apakah suatu tes sungguh mengukur apa yang mau
diukur, yaitu apakah sesuai dengan tujuan. Validitas menunjuk pada kesesuaian,
penuh arti, bergunanya kesimpulan yang dibuat peneliti berdasarkan data yang
dikumpulkan (Suparno, 2010: 67-68 dalam Josephine, 2015: 34).
Validitas
data yang dipilih peneliti adalah uji validitas data triangulasi. Validitas data ini merujuk pada pendapat Hopkins
(dalam Josephine, 2015: 28). Triangulasi yaitu
memeriksa kebenaran data yang diperoleh peneliti dengan membandingan terhadap
hasil yang diperoleh dengan mitra peneliti secara kolaboratif.
Dalam
uji validitas triangulasi, peneliti
membandingkan serta mendiskusikannya dengan guru fisika kelas X MIA 4. Misalnya
dalam pemilihan kelas yang nilai rata-ratanya paling rendah. Dari penelitian
ini, data yang diambil yaitu hasil jawaban angket motivasi belajar siswa dan
juga hasil tes soal pilihan ganda mengenai hukum newton tentang gerak. Peneliti
juga mendapatkan data berupa catatan, foto, dan observasi terhadap fenomena,
peristiwa, atau kejadian di lokasi penelitian.
1.5
Teknik
Analisis Data
Data motivasi
penelitian ini dianalisis dengan analisis kuantitatif. Analisis kuantitatif
adalah suatu teknik analisis yang penganalisisannya dilakukan dengan
perhitungan matematis. Analisis
hasil pengisian angket motivasi dilakukan dengan memberi skor pada
masing-masing butir pada lembar angket.
Keterangan
:
SS =
Sangat Setuju
S =
Setuju
KS =
Kurang Setuju
TS = Tidak Setuju
STS
= Sangat Tidak Setuju
Selanjutnya
cari rata-rata angket motivasi dengan cara statistik kuantitatif deskriptif :
a. Menghitung banyaknya
siswa yang melakukan aktivitas sesuai indikator yang diamati.
b.
Mencari besar persentase skor aktivitas belajar-belajar siswa setiap indikator
yang diamati pada setiap siklus dengan cara :
c. Menghitung rata-rata
persentase keaktifan belajar siswa pada setiap indikator yang diamati pada
setiap siklus.
d.
Mengkategorikan rata-rata keaktifan belajar siswa pada setiap indikator yang
diamati pada setiap siklus, sesuai dengan kategori yang telah ditentukan untuk
membuat kesimpulan mengenai aktivitas belajar siswa.
Menurut
Riduwan (2007), kriteria persentase untuk skor hasil angket motivasi siswa
terhadap pelajaran fisika, sebagai berikut :
Tabel.2 Kriteria persentase untuk skor
hasil angket motivasi siswa
3.7
Indikator Capaian Penelitian
Indikator pencapaian dalam penelitian
tindakan kelas ini adalah apabila motivasi dan hasil belajar fisika siswa kelas
X MIA 4 SMA 2 Muara Jambi menuju kearah perbaikan, dan sekurang-kurangnya:
1. 70%
siswa dari total keseluruhan siswa dikelas menunjukkan motivasi dalam mengikuti
pembelajaran fisika.
2. 70%
siswa dari total keseluruhan siswa dikelas menunjukkan adanya interaksi dalam mengikuti
kegiatan pembelajaran kelompok.
3. 70%
siswa dari total keseluruhan siswa dikelas menunjukkan adanya partisipasi siswa
dalam mengikuti pembelajaran.
3.8
Prosedur Penelitian
Penelitian yang
dilakukan berupa penelitian tindakan kelas. Penelitian tindakan kelas ini
terfokus pada praktik pembelajaran model kooperatif tipe TAI.
Diharapkan hasil yang diperoleh yaitu dapat meningkatkan motivasi dan hasil
belajar di kelas X MIA 4 SMAN 2 Muara Jambi.
Penelitian ini
merupakan suatu penelitian yang mengkaji tentang permasalahan dengan ruang
lingkup yang tidak terlalu luas yang berkaitan dengan perilaku seseorang atau kelompok tertentu,
ditujukan untuk menentukan memecahkan suatu masalah pemebalajaran didalam kelas
agar tercapainya hasil belajar yang optimal. Penelitian ini berkolaborasi
dengan, kepala sekolah dan guru di SMAN 2 Muara Jambi. Peneliti dan mitra yang
diteliti senantiasa mengharapkan hasil yang efektif dalam penelitian ini.
Apabila tidak didapatkan hasil yang optimal dalam satu kali penelitian, ada
kemungkinan peneliti merevisi dan kemudian menggunakan cara atau prosedur yang
berbeda sampai tercapainya hasil yang efektif.
Prosedur peneltiian
yang digunakan dalam penelitian adalah sebagai berikut:
1. Ide
awal/tugas dari dosen pembimbing
2. Pra-survei
3. Analisa
data pra-survei
4. Perencanaan
peneltian tindakan
5. Pelaksanaan
peneltian tindakan
6. Observasi/pengamatan
7. Analisa
data penelitian tindakan
8. Refleksi
DAFTAR RUJUKAN
Alsa, Asmadi. 2011. Pengaruh Metode belajar Team Assisted Individualization (TAI) Terhadap
Prestasi Belajar Statistika Pada Mahasiswa Psikologi, 30(1):82-83.
Abidin, Yunus. 2013. Desain Sistem Pembelajaran Dalam Konteks
Kurikulum 2013. Bandung : Aditama.
Afifah, Dian. 2013. Perbedaan Motivasi Belajar Fisika
Peserta Didik yang Menggunakan Cara Belajar Latihan dengan Belajar
Kelompok. 01 (1):109.
Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta.
Arikunto, S. 2013. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara.
Fauziah, Resti. 2013. Pembelajaran Saintifik Elektronika Dasar
Berorientasi Pembelajaran Berbasis Masalah. 02(1):166-168.
Mulyatiningsih, Endang. 2013. Metode Penelitian Terapan Bidang Pendidikan.
Bandung : Alfabeta.
Ngalimun. 2012. Strategi dan Model Pembelajaran. Yogyakarta : Aswaja.
Riduwan, Dr. 2014. Pengantar Statistika Sosial. Bandung : Alfabeta.
Rohendi, Dedi. 2010. Penerapan Metode Pembelajaran Team Assisted
Individualization (TAI)Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata
Pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi. 3(1):33-34.
Shoimin, Aris. 2013. 68 Model Pembelajaran Inovatif dalam Kurikiulum 2013. Bandung :
Ar-RuzMedia
Slavin, Robert E. 2005. Cooperatife Learning Teori, Riset, dan
Praktik. Bandung : Nusamedia.
Solihatin, Etin dkk. 2013. Hubungan Antara Keterampilan Dasar Guru
dalam Mengajar dengan Motivasi Belajar PKN Siswa. 02(4):4
Sudjana, Nana. 2005. Metoda Statistika. Bandung : Tarsito.
Sugiyono, Dr. Prof. 2013. Metode Penelitian Administrasi di lengkapi
dengan Metode R&D. Bandung : Alfabeta.
Sugiyono, Dr. Prof. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan
Kuantitatif,,Kualitatif, dan R & D. Bandung : Alfabeta.
Suprijono, Agus. 2013. Cooperative Learning Teori & Aplikasi
PAIKEM. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Suroto. 2012. Pembelajaran
Fisika Model Kooperatif Tipe Jigsaw. 01(1):53
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar & Pembelajaran di Sekolah
Dasar. Jakarta : Kencana
Purnami,Tri Wulaning. 2012. Peningkkatan
Motivasi Belajar Siswa Melalui Penerapan Metode Jigsaw. 01(1):3



Tidak ada komentar:
Posting Komentar