Minggu, 22 September 2024
UJIAN AKHIR SEMESTER BK
UJIAN AKHIR SEMESTER
BIMBINGAN DAN KONSELING
Nama : Yuhani Agustri
NIM : A1C315034
Prodi : pendidikan fisika reguler B
DOSEN PENGAMPU:
Freddy Sarman,S.Pd,. M.Pd
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
SOAL DAN JAWABAN
1. Keberadaan bimbingan dan konseling di sekolah saat ini sangat dibutuhkan, jelaskan dengan argument anda tentang pentingnya bimbingan konseling di sekolah !
Jawab:
Pada zaman modern seperti saat ini, tuntutan dalam hidup semakin meningkat. Baik itu tuntutan teknologi, gaya hidup, pekerjaan dan lain sebagainya. Sebagaimana kita tahu, manusia dituntut untuk mampu mengembangkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan masyarakat. Pengembangan diri manusia salah satunya dilakukan di sekolah.
Menurut Prayitno(2013) menyatakan bahwa pengembangan kemanusiaan seutuhnya hendaknya mencapai pribadi-pribadi yang kediriannya matang, dengan kemampuan social yang menyejukkan, kesusilaan yang tinggi dan keimanan serta ketakwaan yang dalam. Tetapi yang sering dijumpai adalah keadaan pribadi yang kurang berkembang dan rapuh, kesosialan yang panas dan sangar, kesusilaan yang rendah dan keimanan yang dangkal.
Sehubungan dengan itu, dalam proses pendidikan banyak dijumpai permasalahan yang dialami oleh anak – anak, para remaja, dan pemuda yang menyangkut keempat dimensi kemanusiaan mereka. Misalnya:
a. keadaan pribadi yang kurang berkembang dan rapuh
Potensi – potensi yang ada pada diri mereka tidak dapat berkembang secara optimal; mereka yang berbakat tidak dapat mengembangkan bakatnya, mereka yang berkecerdasan tinggi kurang mendapatkan rangsangan dan fasilitas pendidikan sehingga bakat dan kecerdasan yang merupakan karunia Tuhan yang tidak ternilai harganya itu menjadi terbuang sia – sia. Siswa yang kurang beruntung tidak memiliki bakat tertentu dan yang berkecerdasan tidak cukup tinggi lebih sia – sia lagi perkembangannya; pelayanan khusus pada mereka kurang diberikan sehingga mereka makin tidak mampu mengejar tuntutan pelajaran pada tingkat yang lebih rendah sekalipun.
b. kesosialan yang panas dan sangar
kenakalan remaja seperti bully di sekolah, perkelahian remaja yang semakin meningkat menunjukkan kurangnya dimensi kesosialan mereka.
c. kesusilaan yang rendah
berpakaian yang mengikuti trend tanpa mempertimbangkan aturan sekolah (celana ketat bagi laki - laki, rok setengah kaki bagi perempuan, dan lain sebagainya) menunjukkan kurangnya dimensi kesusilaan mereka.
d. keimanan serta ketakwaan yang dangkal
permasalahan – permasalahan seperti pengangguran, pencurian, perampokan, pemerkosaan, dan lain sebagainya merupakan kurangnya penghayatan terhadap nilai – nilai ketuhanan dan praktek – praktek kehidupan yang tidak sesuai kaidah agama. Menggambarkan kurang mantapnya pengembangan dimensi keberagamaan.
Telah lama pula disadari bahwa sumber permasalahan umum yang terjadi pada siswa terutama berasal dari luar diri mereka sendiri, yakni factor keluarga dan lingkungan pergaulan. Hubungan yang tidak harmonis dalam keluarga, broken home, kekerasan dalam rumah tangga, disertai dengan lingkungan pergaulan yang menyimpang.
Selain itu, suasana kelas dan sekolah secara keseluruhan yang kering dan mandul, Banyaknya murid yang segan karena takut kepada guru daripada segan karena kebijaksanaan dan ilmu dari guru menandakan hubungan antara guru dan murid yang rapuh dan keras. Hal itu menunjang permasalahan pada diri siswa tersebut.
Permasalahan yang dialami para siswa di sekolah seringkali tidak dapat dihindari, meski dengan pengajaran yang baik sekalipun. Hal ini terlebih lagi disebabkan oleh sumber permasalahan siswa yang terdapat di luar sekolah. Dalam kaitan itu, permasalahan siswa tidak boleh dibiarkan begitu saja. Mengingat misi sekolah adalah menyediakan pelayanan yang luas untuk secara efektif membantu siswa mencapai tujuan perkembangannya dan mengatasi permasalahannya, maka segenap kegiatan dan kemudahan perlu diarahkan disana. Disinilah dirasakan pentingnya Bimbingan Konseling di sekolah dalam rangka mewujudkan manusia seutuhnya.
2. Menurut USDN No 20 tahun 2003 menjelaskan 8 jenis tenaga pendidik
a. sebutkan jenis tenaga pendidik tersebut
Jawab:
Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 khususnya Bab I Pasal 1 ayat (6) dijelaskan pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instructor, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
b. bagaimana kedudukan konselor dalam tenaga didik
Jawab:
kedudukan bimbingan konseling dalam pendidikan adalah suatu wadah atau lembaga untuk menampung dan menyelesaikan masalah-masalah peserta didik yang tidak dapat tertampung dan terselesaikan oleh para pendidik.
Rute penyelesaian masalah siswa
Guru wali kelas wakasek guru BK
Kedudukan Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru, dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator dan instruktur (UU No. 20/2003, pasal 1 ayat 6). Namun pengakuan secara eksplisit dan kesejajaran posisi antara kualifikasi tenaga pendidik satu dengan yang lainnya tidak menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk konselor, memiliki konteks tugas, ekspektasi kinerja, dan seting pelayanan spesifik yang satu dan yang lainnya mengandung keunikan dan perbedaan.
Pelayanan konseling yang merupakan bagian dari kegiatan pengembangan diri telah termuat dalam struktur kurikulum yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar isi untuk Satuan Pendidikan Dasar Menengah. Beban kerja Guru bimbingan dan konseling atau konselor Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru yang menyatakan bahwa beban kerja Guru bimbingan dan konseling atau konselor yang memperoleh tunjangan profesi dan maslahat tambahan adalah mengampu bimbingan dan konseling paling sedikit 150 (seratus lima puluh) peserta didik per tahun pada satu atau lebih satuan pendidikan.
Lebih lanjut dalam penjelasan Pasal 54 ayat (6) yang menyatakan bahwa layanan bimbingan dan konseling pemberian perhatian, pengarahan, pengendalian, dan pengawasan kepada sekurang-kurangnya 150 (seratus lima puluh) peserta didik, yang dapat dilaksanakan dalam bentuk pelayanan tatap muka terjadwal di kelas dan layanan perseorangan atau kelompok bagi yang dianggap perlu dan memerlukan.
Dalam Permendiknas No. 27 tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor dinyatakan bahwa kompetensi yang harus dikuasai guru Bimbingan dan Konseling/Konselor mencakup 4 (empat) ranah kompetensi, yaitu: kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional.
Kedudukan konselor dalam tenaga didik memiliki memiliki 2 ruang lingkup kerja yaitu di sekolah dan di luar sekolah. Di sekolah memiliki 3 bidang kegiatan pendidikan yaitu:
1) Bidang Instruksional dan Kurikulum
Bidang ini mempunyai tanggung jawab dalam kegiatan pengajaran dan bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan sikap kepada peserta didik. Pada umumnya bidang ini merupakan pusat kegiatan pendidikan dan merupakan tanggung jawab utama staf pengajaran.
2) Bidang Administrasi dan Kepemimpinan
Bidang ini merupakan bidang kegiatan yang menyangkut masalah-masalah administrasi dan kepemimpinan yaitu masalah yang berhubungan dengan cara melakukan kegiatan secara efisien. Dalam bidang ini terletak tanggung jawab dan otoritas pendidikan yang pada umumnya mencakup kegiatan-kegiatan seperti perencanaan organisasi, pembiayaan, pembagian tugas staf. Pada umumnya bidang ini merupakan tanggung jawab pimpinan dan para petugas administrasi lainnya.
3) Bidang Pembinaan Pribadi
Dalam bidang ini mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan agar para peserta didik memperoleh kesejahteraan lahiriah dan batiniah dalam proses pendidikan yang sedang ditempuhnya, sehingga mereka dapat mencapai tujuan yang diharapkan.
Diluar sekolah, pelayanan bimbingan dan konseling di selenggarakan dalam keluarga dan lembaga – lembaga serta bidang – bidang lain dalam masyarakat luas. Dalam kaitan itu konselor berada dimana-mana, bekerja sama dengan berbagai pihak, dan menawarkan jasa BK secara luas dalam masyarakat.
3. perkembangan teknologi dan budaya pada masa sekarang berkembang sangat pesat
a. jelaskan dampak masing-masing perkembangan IPTEK tersebut
Jawab:
IPTEK merupakan kepanjangan dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Perkembangan IPTEK dapat dilihat dari beberapa bidang yaitu informasi dan komunikasi; pendidikan; ekonomi; industry; politik; serta social budaya. Perkembangan IPTEK memiliki dampak baik positif maupun negatif.
Bidang Informasi dan Komunikasi
• dampak positifnya, seperti lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru di bumi bagian manapun melalui internet. Tinggal ketik apa yang ingin kita cari kemudian klik maka akan keluar berjuta informasi yang kita butuhkan. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi pelajar yang ingin mencari referensi belajar atau melihat video pembelajaran Negara lain bahkan mendownload buku dengan gratis. Dengan HP, Laptop dan Internet kita bisa berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh, tidak hanya membaca pesannya namun juga mendengar suara dan melihat wajahnya. Hal ini juga bisa dimanfaatkan oleh siswa dan guru dengan pengawasan jarak jauh. Selain itu kita bisa mendapatkan banyak aplikasi dan fitur dari HP seperti e-book, aplikasi pembelajaran, aplikasi ruang guru, aplikasi terjemahan bahasa, game edukative dan lain sebagainya.
• Dampak negatif, karena cepat dan mudahnya informasi didapatkan, siswa yang kurang pengawasan dan bimbingan orang tua maupun guru/BK akan lebih mudah membuka situs – situs yang tidak baik, mendownload gambar ataupun video porno ataupun menyebarkan dan menerima berita hoax dimedia social. Disamping itu dengan komunikasi yang mudah dan cepat para pengedar narkoba bisa dengan mudah dan leluasa untuk menjual narkoba pada remaja – remaja. Selain aplikasi yang bermanfaat dan positif untuk siswa di internet juga tersebar fitur dan aplikasi yang merugikan/ negative untuk siswa seperti beragamnya game yang membuat siswa menjadi kecanduan game dimana di dalam game tersebut dimasukkan unsur kekerasan, pembangkangan, pornografi, dan hal – hal lain yang dapat merusak pikiran anak – anak bangsa.
Bidang Pendidikan
• Dampak positif
Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan sehingga siswa lebih mudah untuk mendapatkan pengetahuan dan guru bukan satu-satunya sumber ilmu pengetahuan. Pemenuhan kebutuhan akan fasilitas pendidikan dapat dipenuhi dengan cepat, seperti penggandaan soal ujian dengan adanya mesin foto copy untuk memenuhi kebutuhan akan jumlah soal yang banyak dapat diselesaikan dalam waktu yang singkat. Belajar jarak jauh, dengan kemajuan teknologi proses pembelajaran tidak harus mempertemukan siswa dengan guru, tetapi bisa juga menggunakan jasa pos internet dan lain-lain. Sistem pengolahan data hasil penilaian yang menggunakan pemanfaatan teknologi (misalnya excel). Setelah adanya perkembangan IPTEK, semua tugasnya yang dulunya dikerjakan dengan manual dan membutuhkan waktu yang cukup lama, menjadi mudah untuk dikerjakan dengan menggunakan media teknologi seperti, komputer yang dapat mengolah data dengan memanfaatkan berbagai program.
• Dampak negative
Munculnya media massa, khususnya media elektronik sebagai sumber ilmu dan pusat pendidikan sehingga siswa lebih mudah untuk mendapatkan pengetahuan seharusnya membuat siswa semakin berprestasi dan pintar namun fakta yang terjadi adalah siswa menjadi semakin pemalas karena ketersediaan yang ada tidak memberi tantangan dan dorongan/ motivasi untuk mereka lebih memperkaya ilmu. Penyalah gunaan pengetahuan bagi orang-orang tertentu untuk melakukan tindak kriminal. Dengan kemajuan di badang pendidikan kita mencetak generasi yang berepengetahuan tinggi, tetapi mempunyai moral yang rendah. Teknologi yang seharusnya digunakan untuk belajar malah digunakan untuk menghabiskan waktu menggunakan jejaring sosial seperti facebook, twitter dan lain-lain. Karena hanya mengandalkan komputer dapat mengolah dan menyimpan data dengan mudah mengakibatkan kemalasan untuk berfikir, menghapal maupun mengingat. Hal ini terbukti dengan banyaknya aplikasi mencari jawaban persoalan matematika cepat menggunakan aplikasi dan lain sebagainya.
Bidang Ekonomi dan Industri
• Dampak positif
Pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi; Produk dunia industri semakin meningkat; Persaingan dalam dunia kerja sehingga menuntut pekerja untuk selalu menambah skill dan pengetahuan yang dimiliki.
• Dampak negative
Merebaknya pengangguran. Sifat konsumtif sebagai akibat kompetisi yang ketat pada era globalisasi akan juga melahirkan generasi yang secara moral mengalami kemerosotan: konsumtif, boros dan memiliki jalan pintas yang bermental "instant".
Bidang Politik
• Dampak positif
Dahulu sebelum terjadi perkembangan IPTEK kita tidak bisa memberikan komentar apapun tentang pemerintahan. Jika ada yang bersuara akan langsung dibunuh dan hilang tanpa jejak. Akan tetapi setelah perkembangan IPTEK terjadi kebebasan politik dan kebebasan berpendapat dan munculnya demokrasi dalam pemerintahan.
• Dampak negatif
Kebebasan politik pada saat ini terasa sudah tidak masuk akal. Dimana semua orang ingin ikut berpolitik. Artis ingin menjadi walikota, pedagang kaki lima ingin menjadi DPR, serta kebebasan berpendapat yang selalu dikumandangkan berubah menjadi kebebasan berpendapat yang sebebas-bebasnya dan tidak berlandaskan pada pancasila. Dimana setiap orang bisa berkomentar apa saja di dunia maya.
Bidang Sosial dan Budaya
• Dampak positif
Mudahnya terjadi akulturasi dan mengenal social dan budaya bangsa lain.
• Dampak negatif
Kecintaan yang berlebihan dengan budaya bangsa lain menyebakan hilangnya kecintaan dan kebanggaan terhadap budaya sendiri yang akhirnya mengakibatkan hilangnya jati diri sebagai remaja Indonesia, selain itu budaya asing yang tidak disaring diterima dengan gamblangnya menyebabkan kemerosotan moral di kalangan warga masyarakat, khususnya di kalangan remaja dan pelajar. Kenakalan dan tindakan menyimpang di kalangan remaja semakin meningkat, semakin lemahnya kewibawaan tradisi-tradisi yang ada di masyarakat, seperti gotong royong dan tolong-menolong, yang telah melemahkan kekuatan-kekuatan sentripetal yang berperan penting dalam menciptakan kesatuan sosial. Serta pola interaksi antar manusia yang berubah dengan bantuan HP, yang membuat orang-orang menjadi sibuk dengan dunianya sendiri.
b. peran pembimbing atau guru BK dalam perkembangan IPTEK dan globalisasi, beserta contoh!
Jawab:
Banyaknya klien yang membutuhkan layanan serta waktu layanan yang kurang cukup mengakibatkan bimbingan konseling dengan metode face to face kurang memuaskan. Dengan perkembangan IPTEK dan globalisasi ini guru BK dapat memanfaatkan teknologi komunikasi dalam membantu menyelesaikan masalah klien. Peran pembimbing atau guru BK dalam perkembangan IPTEK dan globalisasi adalah seperti Memberikan informasi kepada klien tentang apa yang dibutuhkannya; Melakukan diskusi kelompok melalui dunia maya dan lain sebagainya.
4. Paparkanlah perbedaan BK dengan psikolog dari sudut pandang yang saudara pahami, beserta contoh!
Jawab:
Menurut pendapat saya, perbedaan BK dan psikolog dapat dibedakan dari beberapa hal, yaitu:
a. Tingkatan masalah
Masalah yang diselesaikan oleh BK bersifat umum atau masalah sehari-hari. Sedangkan jika masalah yang dihadapi merupakan masalah yang parah (penyakit kejiwaan) maka perlu ke psikolog. Psikolog biasanya menggunakan pendekatan sosial dari permasalahan kejiwaan. Mereka mempelajari aspek sosial dari individu tersebut, seperti keluarga, norma masyarakat dan agama. Dalam menentukan diagnosa dan penyebab, mereka akan melakukan wawancara dengan klien dan keluarganya. Contohnya:
seorang siswa mengalami masalah seperti masalah dengan pacar, bertengkar, galau. maka permasalahan tersebut masih bisa ditangani oleh BK. Akan tetapi, jika melihat semua orang mirip dengan pacarnya, senyum-senyum sendiri. Maka orang ini perlu diperiksa ke psikolog. Karena bisa jadi dia telah mengalami gangguan kejiwaan. Tentunya psikolog lebih ahli dalam menangani kasus ini.
b. Pendidikan
BK
Minimal sarjana strata 1 (S1) dari jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (PPB), Bimbingan Konseling (BK), atau Bimbingan Penyuluhan (BP). Sekarang Sudah ada program sertifikasi BK dengan lembaga bernama ABKIN, Asosiasi Bimbingan Konseling Indonesia.
Psikolog
Sarjana psikologi yang telah menjalani pendidikan profesi (berhak membuka praktek) Biasanya setelah lulus S1 Psikologi perlu waktu satu setengah tahun hingga dua tahun menyelesaikan gelar profesi Psikolog. Gelar mereka adalah Nama, M.Psi, Psikolog. Namun setelah tahun setelah tahun 1992, lulusan S1 yang studi selama 4-5 tahun (Sarjana Psikologi) melanjutkan ke S2 Program profesi dan baru disebut dengan Psikolog. Lamanya sekitar 2 tahun.
c. Menggunakan instrument
BK tidak memiliki legalitas untuk menggunakan instrument.
Sedangkan Psikolog memiliki legalitas untuk menggunakan instrument. Psikolog menggunakan pendekatan konseling intervensi, terapi tertentu hingga alat tes. Untuk membantu diagnosa, psikolog terkadang menggunakan bantuan tes-tes psikologi. Fungsinya untuk membantu psikolog dalam menentukan diagnosa. Untuk menyembuhkan atau menghilangkan permasalahan kejiwaan, psikolog menggunakan terapi konseling dan intervensi. Jenis tes itu antara lain tes IQ, minat, bakat, karir, tes kepribadian, dll.
5. Dalam sebuah kasus ada seorang siswi kelas VII SMP namanya Shinta tidak mau sekolah karena kesulitan dalam mengikuti pelajaran, saudara sebagai seorang guru bagaimana cara mengatasi dan bagaimana wujud kolaborasi guru dengan BK dalam kasus ini?
Jawab:
Untuk mengatasi kasus tersebut guru dapat mendeskripsikan sifat, karakter dan data siswa tersebut yang menyangkut permasalahan kesulitan mengikuti pelajaran kepada guru BK.
Guru BK, Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang kasus kesulitan dalam mengikuti pelajaran perlu dilakukan penjelajahan yang luas dan intensif, misalnya dengan wawancara khusus dengan siswa tersebut, memeriksa kumpulan data yang ada di sekolah dan menanyakan informasi tentang Shinta kepada guru yang mengajarnya dan kunjungan ke rumah. Dari upaya penjelajahan masalah itu akan terungkap berbagai hal yang akan memberikan gambaran dan pemahaman yang lebih luas dan lebih menyeluruh tentang kasus itu. Pemahaman yang lebih luas itu antara lain menyangkut keadaan fisik, minat dan perhatiannya, suasana rumah tempat tinggalnya, peralatan belajarnya, reaksinya terhadap proses belajar-mengajar di kelas, dan hubungan dengan teman-temannya.
Menurut Prayitno (1997) menyatakan bahwa Materi umum yang dikumpulkan melalui aplikasi instrumentasi pada umumnya, meliputi:
1) Kebisaan dan sikap dalam beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Kempuan dan kondisi mental dan fisik klien.
3) Kemampuan dan pengenalan lingkungan dan hubungan social.
4) Sikap, kebiasaan, keterampilan dan kemampuan belajar.
5) Informasi karir dan pendidikan.
6) Kondisi keluarga dan lingkungan
Setelah mendapatkan gambaran masalah yang lebih rinci, guru BK dapat membuat hipotesa sebab dan akibat dari masalah Shinta kenapa kesulitan dalam mengikuti pelajaran. Jika misal penyebabnya adalah karena Shinta tergolong siswa yang lamban dalam memahami pelajaran maka guru BK dapat mengalihtugaskan kepada guru mata pelajaran untuk mengajari les pada anak – anak yang lamban termasuk Shinta.
Jika masalahnya terletak pada motivasi belajar Shinta yang rendah karena proses mengajar yang diberikan guru kurang merangsang siswa untuk belajar dengan baik maka guru harus berupaya untuk melakukan proses mengajar yang lebih baik yang dapat memotivasi siswanya.
Jika masalahnya karena Shinta merupakan siswa yang pemalu, pendiam atau tertutup sehingga cenderung suka diganggu dan dibully oleh teman-temannya. Gangguan tersebut menyebabkan Shinta kesulitan dalam belajar dan tidak mau sekolah. Maka guru maupun guru BK dapat melakukan upaya dengan menugasi siswa yang supel untuk mendekati dan berteman dengan Shinta. Sehingga diharapkan Shinta bisa lebih semangat untuk belajar, sekolah maupun bersosialisasi dengan teman-teman lainnya.
Namun jika masalahnya terletak pada keadaan tempat tinggal atau suasana di rumah yang kurang kondusif untuk Shinta sehingga efek dari suasana rumah tersebut mengganggu konsentrasi pembelajarannya disekolah, maka upaya yang dapat dilakukan guru maupun BK dalam hal ini adalah dengan bertemu dan mendiskusikannya dengan kedua orang tua Shinta. Serta di sekolah, Shinta diberi motivasi baik dari guru saat proses pembelajaran/ saat istirahat maupun dari BK saat pemberian layanan konseling untuk tetap semangat bersekolah.
6. Siswa SMP yang baru masuk pada hakikatnya berada pada masa peralihan lingkungan pendidikan yaitu dari lingkungan SD ke lingkungan SMP. Dalam situasi ini siswa baru harus menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.
a. berikan contoh hal yang bersifat baru di SMP sehingga para siswa perlu menyesuaikan diri
Jawab:
Hal yang baru di SMP yang perlu diperkenalkan kepada siswa baru diantaranya:
1) lingkungan dan fasilitas sekolah
2) Peraturan dan hak-hak serta kewajiban siswa
3) Organisasi dan wadah-wadah yang dapat membantu dan meningkatkan hubungan sosial siswa (ekstrakulikuler)
4) Peranan kegiatan bimbingan karier
5) Penyelenggaraan pengajaran
6) Kurikulum yang ada
7) Staf pengajar dan tata usaha
8) Guru bimbingan dan konseling dalam membantu segala jenis masalah dan kesulitan siswa.
Sekolah – sekolah yang besar biasanya memiliki fasilitas ruangan dan alat yang banyak. Ruangan belajar, ruangan praktek, ruangan olahraga, kantin dan sebagainya. Siswa baru perlu mengetahui letak atau lokasi ruangan-ruang yang ada di sekolah SMP tersebut agar mereka tidak tersesat saat ingin ke ruangan tertentu.
Siswa baru perlu mengetahui identitas guru dan teman barunya. Misalnya saat ingin menemui guru tertentu tidak memanggil guru dengan panggilan yang diajari guru tersebut (bapak olahraga misalnya) namun dengan nama dari guru tersebut (bapak Hendri yang mengajar olahraga). Begitupun dengan teman baru, perlu saling mengenal agar tidak memanggil teman baru dengan panggilan “anu”.
Ekstrakulikuler juga penting untuk dikenal oleh siswa baru agar mereka memiliki wadah yang dapat membantu dan meningkatkan hubungan sosial siswa dan wadah untuk mengembangkan bakatnya.
Agar pembelajaran dapat berjalan dengan optimal dan efisien sebaiknya siswa mengetahui kurikulum yang digunakan sekolah tersebut agar siswa baru bisa menyesuaikan diri apabila kurikulum yang digunakan berbeda dengan kurikulum ditingkat sebelumnya (SD).
Untuk mengurus surat atau hal lain yang membutuhkan bantuan tata usaha maka siswa baru perlu untuk mengenal siapa saja pegawai tata usaha. Apalagi jika siswa tersebut adalah siswa yang ingin aktif di suatu ekstrakulikuler, untuk meminta tanda tangan kepala sekolah memerlukan prosedur melalui tata usaha terlebih dahulu. Jika mereka tidak mengenal siapa saja pegawainya maka ia bisa bingung sendiri dalam mengurus surat tersebut.
Tidak bisa dipungkiri siswa SMP pastinya memiliki masalah lebih banyak dari anak - anak, karena mereka sedang berada pada masa peralihan dari anak – anak menjadi remaja (labil). Oleh karena itu siswa akan sangat membutuhkan guru BK dalam membantu segala jenis masalah dan kesulitan siswa.
b. mengapa untuk hal itu siswa memerlukan bantuan
Jawab:
Situasi atau lingkungan yang baru bagi siswa merupakan sesuatu yang “asing”. Dalam kondisi keterasingan, siswa akan mengalami kesulitan untuk bersosialisasi. Untuk menjembatani kesenjangan antara individu dengan suasana ataupun objek-objek baru maka siswa memerlukan bantuan.
Menurut prayitno (2013) Mengenalkan hal yang baru pada siswa memiliki 3 fungsi, yaitu pemahaman, pencegahan, dan pengembangan. Dilihat Dari Fungsi Pemahaman, layanan orientasi bertujuan untuk membantu individu agar memiliki pemahaman tentang berbagai hal yang penting dari suasana yang baru saja dijumpainya. Dilihat dari Fungsi Pencegahan, layanan orientasi bertujuan untuk membantu individu agar terhindar dari hal-hal negatif yang dapat timbul apabila individu tidak memahami situasi atau lingkungannya yang baru. Sedangkan dilihat dari Fungsi Pengembangan, apabila individu mampu menyesuaikan diri secara baik dan mampu memanfaatkan secara konstruktif sumber-sumber yang ada pada situasi yang baru, maka individu akan dapat mengembangkan dan memelihara potensi dirinya.
Pemahaman maksudnya siswa baru tersebut perlu paham apa – apa saja hal yang baru atau berbeda dari tingkat sebelumnya(SD), perlu paham apa saja peraturan dan apa saja ekstrakulikuler di SMP agar bisa menyesuaikan diri. Pencegahan maksudnya siswa tercegah dari salah bersikap atau bertindak di SMP (misalnya aturan pakaian, agar tidak salah dalam memakai pakaian; senin baju putih rok putih, selasa baju putih rok biru dan sebagainya. Tidak salah masuk ekstrakulikuler, misalnya ingin ikut pramuka namun tidak mengetahui apa saja kegiatan dari pramuka padahal punya riwayat penyakit asma, jantung dan hal lainnya). Setelah siswa paham dengan keadaan dan suasana baru (SMP) serta tercegah dari kesalahan bertindak maka siswa baru tersebut dapat mengembangkan bakatnya di SMP ingin ikut ekstrakulikuler apa saja dan lain sebagainya.
Hasil yang diharapkan adalah dipermudahnya penyesuaian diri siswa terhadap pola kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan kegiatan lain yang mendukung keberhasilan siswa. Demikian juga orang tua siswa, dengan memahami kondisi, situasi, dan tuntutan sekolah anaknya akan dapat memberikan dukungan yang diperlukan bagi keberhasilan belajar anaknya itu.
c. berikan contoh upaya – upaya membantu mereka
Jawab:
Menurut Prayitno(2013) Untuk lingkungan sekolah, upaya – upaya membantu siswa baru SMP mencakup hal-hal sebagai berikut:
1) Pengenalan lingkungan dan fasilitas sekolah
2) Pengenalan peraturan dan hak-hak serta kewajiban siswa
3) Pengenalan organisasi dan wadah-wadah yang dapat membantu dan meningkatkan hubungan sosial siswa
4) Pengenalan peranan kegiatan bimbingan karier
5) Pengenalan penyelenggaraan pengajaran
6) Pengenalan kurikulum yang ada
7) Pengenalan staf pengajar dan tata usaha
8) Pengenalan peranan layanan bimbingan dan konseling dalam membantu segala jenis masalah dan kesulitan siswa.
7. Perkembangan teknologi banyak memberikan kemudahan – kemudahan bagi individu akan tetapi dapat pula menimbulkan masalah – masalah. Jelaskan maksud pernyataan tersebut dan berikan contohnya.
Jawab:
HP dan internet merupakan salah satu contoh perkembangan teknologi. Banyak sekali kemudahan yang bisa di dapatkan dari HP dan internet seperti lebih cepat mendapatkan informasi-informasi yang akurat dan terbaru di bumi bagian manapun melalui internet; dapat mencari tahu apapun di internet; dapat berkomunikasi dengan teman, maupun keluarga yang sangat jauh hanya melalui handphone; mendapatkan layanan bank yang dengan sangat mudah.
Dulu jika para remaja ingin bertemu dengan pujaan hati haruslah ke rumah (dalam bahasa minang atau kerinci hal ini sering disebut “bertandang” yang artinya bertamu). orang tua dapat mengetahui dan mengawasi di rumah. Namun dengan perkembangan teknologi banyak memberikan kemudahan – kemudahan bagi remaja yakni pada kasus ini adalah teknologi HP. Dengan HP remaja bisa dengan mudah berkomunikasi dengan pujaan hati tanpa sepengetahuan orang tua. Bahkan dapat membuat janji bertemu di suatu tempat yang tidak diketahui orang tua. Sehingga terjadilah hal yang tidak diinginkan. Selain itu, dengan HP dan internet remaja maupun orang dewasa dapat dengan mudah mengakses hal – hal yang merusak (gambar, video porno).
Contoh lainnya seperti belajar jarak jauh. Selama ini, proses pembelajaran yang kita kenal yaitu adanya pembelajaran yang disampaikan hanya dengan tatap muka langsung, namun dengan adanya kemajuan teknologi, proses pembelajaran tidak harus mempertemukan siswa dengan guru, tetapi bisa juga menggunakan jasa pos internet dan lain-lain. Namun hal ini dapat pula menimbulkan masalah, karena pembelajaran jarak jauh siswa akan merasa tidak di awasi oleh gurunya sehingga ia tidak memperhatikan dengan serius saat pembelajaran jarak jauh sedang berlangsung selain itu dengan adanya peralatan yang seharusnya dapat memudahkan siswa dalam belajar, seperti HP dengan jaringan internet, ini malah sering membuat siswa jadi malas belajar, terkadang banyak diantara mereka yang menghabiskan waktunya untuk berinternetan yang hanya mendatangkan kesenangan semata, seperti main Facebook, Chating, dll, yang kesemuanya itu tentu akan berpengaruh terhadap minat belajar siswa.
Jika ditinjau dari penggunaan IPTEK dalam BK, Perkembangan teknologi banyak memberikan kemudahan – kemudahan bagi individu akan tetapi dapat pula menimbulkan masalah – masalah.
Kelebihan Bimbingan Konseling Melalaui Teknologi Informasi
1) Pelayanan melalui teknologi informasi mudah di akses.
2) Tidak membutuhkan biaya transportasi.
3) Klien lebih mau terbuka berbicara tentang masalahnya karena ia tidak berkomunikasi secaraface to face, sehingga ia dapat lebih siap dan terbuka.
4) Pelayanan melalui teknologi informasi dan komunikasi berbasis individu.
5) Konselor dapat menyesuaikan kesiapan klien dalam mengambil tindakan yang diperlukan, memotivasi diri, dan meningkatkan keterampilan kliennya.
Kelemahan Bimbingan Konseling Melalaui Teknologi Informasi
1) Konselor tidak dapat memastikan bahwa kliennya benar-benar seruis atau tidak.
2) Diperlukan perangkat khusus agar pelayanan bimbingan konseling melalui teknologi informasi dapat terlaksana dan perangkat tersebut tidak murah, sehingga tidak samua orang dapat memanfaatkannya.
3) Informasi yang diterima dan diberitakan sangat terbatas, komunikasi satu arah, klasifikasi dan eksplorasi tidak biasa segera dilakukan, sehingga ada kemungkinan terjadi kesalahpahaman.
4) Kegiatan konseling melalui teknologi informasi dapat menimbulkan jarak, baik secara fisik maupun psiis diantara konselor dan klien.
5) Belum terdapat data-data, fakta atau informasi yang objektif dari klien, sehingga pemecahan masalah dengan teknik pendekatan ini pada akhirnya akan kabur.
6) Permasalahan yang dihadapi oleh klien beraneka ragam dalam emosi sehingga kadang-kadang konselor mengabaikan segi-segi yang penting dalam proses konseling.
makalah prinsip-prinsip BK
BIMBINGAN KONSELING
“PRINSIP-PRINSIP BIMBINGAN DAN KONSELING“
Dosen Pengampu : FREDY SARMAN, S.Pd, M.Pd
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3
1. ANDI VIRNA SORAYA (RRA1B215036)
2. LIKA ANGGRAINI (A1C315013)
3. SYUKRI KURNIAWAN (A1C315036)
4. VIVI CHARMELIA (A1C316033)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2018
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan makalah mata kuliah Bimbingan Konseling dengan judul “Prinsip-Prinsip Bimbingan Dan Konseling”. Makalah ini kami susun atas dasar memenuhi salah satu tugas dari mata kuliah.
Diharapkan makalah ini dapat membantu proses belajar bagi pembaca mengenai Prinsip-Prinsip Bimbingan Dan Konseling. Kami sadar dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karenanya kami mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun bagi kami selaku tim penyusun dari makalah ini. Demikian makalah ini kami susun, semoga bermanfaat bagi pembaca.
Jambi, Maret 2018
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 2
DAFTAR ISI 3
BAB I 4
1.1. Latar Belakang 4
1.2. Rumusan Masalah 4
1.3. Tujuan 4
BAB II 5
2.1. Pengertian Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling 5
2.2. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling Secara Umum 6
2.3. Prinsip-prinsip Khusus Bimbingan dan Konseling Berkaitan dengan Peserta Didik 9
2.4. Prinsip-prinsip Khusus Bimbingan dan Konseling Berkaitan dengan Tujuan Pendidikan 11
2.5. Prinsip-prinsip Khusus Bimbingan dan Konseling Berkaitan dengan Permasalahan 11
2.6. Prinsip-prinsip Khusus Bimbingan dan Konseling Berkaitan dengan Pengorganisasian 12
BAB III 16
3.1 Kesimpulan 16
3.2 Saran 16
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manusia adalah mahluk filosofis, artinya manusia mepunyai pengetahuan dan berpikir, mausia juga memiliki sifat yang unik, berbeda dengan mahluk lain dalam pekembanganya. Implikasi dari kergaman ini ialah bahwa individu memiliki kebebasan dan kemerdekaan untuk memilih dan megembangkan diri sesuai dengan keunikan ataua tiap-tiap pontensi tanpa menimbulkan konflik dengan lingkungannya. Dari sisi keunikan dan keragaman idividu, maka diperlukanlah bimbingan untuk membantu setiap individu mencapai perkembangan yang sehat didalam lingkungannya.
Pada dasarnya bimbingan dan konseling juga merupakan upaya bantuan untuk menunjukan perkembangan manusia secara optimal baik secara kelompok maupun idividu sesuia dengan hakekat kemanusiannya dengan berbagai potensi, kelebihan dan kekurangan, kelemhan serta permaslahanya.
Adapun dalam dunia pendidikan, bimbingan dan konseling juga sangat dipelukan karena dengan adanya bimbingan dan konseling dapat mengantarkan peserta didik pada pencapai Standar dan kemampuan profesional dan Akademis, serta perkembangan dini yang sehat dan produktif dan didalam bimbinganya dan konseling selian ada pelyanan juga ada Prinsip-prinsipnya.
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Tujuan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling
Prinsip yang berasal dari asal kata ” PRINSIPRA” yang artinya permulaan dengan suatu cara tertentu melahirkan hal-hal lain, yang keberadaanya tergantung dari pemula itu, prinsip ini merupakan hasil perpaduan antara kajian teoriitik dan teori lapangan yang terarah yang digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan yang dimaksudkan ( Hallen. 2002: 63 ).
Prinsip bimbingan dan Konseling menguraikan tentang pokok-pokok dasar pemikiran yang dijadikan pedoman program pelaksanaan atau aturan main yang harus di ikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan dapat juga dijadikan sebagai seperangkat landasan praktis atau aturan main yang harus diikuti dalam pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Prinsip dapat diartikan sebagai permulaan untuk suatu cara tertentu yang akan melahirkan hal-hal lain, yang keberadaannya tergantung dari permulaan itu. Bimbingan konseling membutuhkan suatu prinsip atau aturan main dalam menjalankan program pelayanan bimbingan. Menurut Prayitno dan Amfi (1995:220) prinsip bimbingan konselingya itu rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling pada umumnya berkenaan dengan sasaran pelayanan, masalah klien, tujuan dan proses penanganan masalah, program pelayanan dan penyelenggaraan pelayanan.
Prayitno mengatakan: ” Bahwa prinsip merupakan hasil kajian teoritik dan telaah lapangan yang digunakan sebgai pedoman pelaksanaan sesuatu yang dimaksudkan” jadi dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip bimbingan dan konseling merupakan pemaduan hasil-hasil teori dan praktek yang dirumuskan dan dijadikan pedoman sekaligus dasar bagi penyelengaran pelayanan.
Adapun rumusan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling yang berkenaan dengan objek dalam pelayanan bimbingan yaitu prinsip-prinsip yang berkenaan dengan peserta didik, prinsip yang berkenaan dengan tujuan pendidikan, prinsip yang berkenaan dengan permasalahan, prinsip yang berkenaan dengan pengorganisasian. Dari empat rumusan tersebut, bimbingan dan konseling akan tercapai sesuai keinginan konselor dan klien.
2.2. Prinsip-prinsip Bimbingan dan Konseling Secara Umum
Sejumlah prinsip mendasari gerak dan langkah penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling. Adapun prinsip-prinsip bimbingan dan konseling secara umum yaitu sebagai berikut :
a. Bimbingan harus berpusat pada individu yang di bimbingnya.
Contoh: harus mengarah pada si anak tentang memperbaiki sikap dan tingkahlaku, memperbaikinya dengan memberikan perhatian yang lebih.
b. Bimbingan diberikan agar individu yang dibimbing mampu mengarahkan dirinya dan menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidupnya.
Para siswa yang usianya relatif masih muda sangat membutuhkan bimbingan baik dalam memahami keadaan dirinya, mengarahkan dirinya, maupun dalam mengatasi berbagai macam kesulitan. Dengan adanya bimbingan dapat mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar siswa. Misalnya masalah hubungan muda-mudi, masalah ekonomi, masalah hubungan dengan orang tua/keluarga, dan sebagainya.
Individu yang mendapat bimbingan harus berangsur-angsur dapat membimbing dirinya sendiri. Hasil pemberian layanan diharapkan tidak hanya berguna pada waktu pemberian layanan itu saja, tetapi jika individu mengalami masalah yang sama di kemudian hari ia akan dapat mengatasinya sendiri, sehingga tingkat ketergantungan individu kepada pembimbing semakin berkurang. Tujuan akhir dari kegiatan ini ialah memandirikan individu yang dibimbing (klien) dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.
c. Pemberian bantuan disesuaikan dengan kebutuhan individu yang dibimbing.
Antara individu yang satu dengan yang lainnya berbeda. Demikian juga dengan kebutuhannya, oleh sebab itu, pembimbing harus memahami perbedaan kebutuhan tersebut agar bisa memberikan bantuan (bimbingan) sesuai kebutuhan individu.
Program yang disusun harus didasarkan atas kebutuhan siswa. Oleh sebab itu, sebelum penyusunan program bimbingan perlu dilakukan analisis kebutuhan siswa.
Dalam memberikan suatu bimbingan harus diingat bahwa semua orang, meskipun sama dalam sifat-sifatnya, namun tetap mempunyai perbedaan-perbedaaan individual dan perbedaan tersebut harus di perhatikan.
d. Bimbingan berkenaan dengan sikap dan tingkah laku individu.
Bimbingan dan konseling diberikan kepada individu dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku individu kearah yang lebih baik.
Karena bimbingan itu berhubungan dengan sikap dan tingkah laku individu, perlu diingat bahwa sikap dan tingkah laku itu terbentuk dari segala aspek kepribadian yang unik dan ruwet, sikap dan tingkah laku tersebut dipengaruhi oleh pengalaman-pengalamannya. Oleh karena itu, dalam pemberian layanan perlu dikaji kehidupan masa lalu klien, yang diperkirakan mempengaruhi timbulnya masalah tersebut.
Bimbingan dan konseling berkaitan dengan sikap dan tingkah laku individu yang terbentuk dari berbagai aspek kepribadian yang kompleks. Oleh karena itu pelayanan bimbingan konseling perlu menjangkau keunikan dan kekompleksan pribadi individu.
Setiap aspek pola kepribadian yang kompleks seorang individu mengandung faktor-faktor yang secara potensial mengarah kepada sikap dan pola-pola tingkah laku yang tidak seimbang. Oleh karena itu pelayanan bimbingan dan konseling yang bertujuan mengembangkan penyesuaian individu terhadap segenap bidang pengalaman harus mempertimbangkan berbagai aspek perkembangan individu.
Tiap aspek dari kepribadian seseorang menentukan tingkah laku orang itu. Dengan demikian, bimbingan yang bertujuan memajukan penyesuaian individu harus pula memajukan individu itu dalam semua aspek-aspek tadi.
Haruslah di ingat bahwa pergolakan-pergolakan sosial, ekonomi dan politik dapat menimbulkan tingkah laku yang sukar atau penyesuaian yang salah. Bagi anak-anak haruslah kita ingat bahwa sikap orang tua dan suasana rumah sangat mempengaruhi tingkah laku mereka Fungsi dari bimbingan ialah menolong orang supaya berani dan dapat memikul tanggung jawab sendiri dalam mengatasi kesukaran yang di alaminya.
e. Pelaksanaan bimbingan dan konseling dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan yang dirasakan individu yang dibimbing.
Program yang disusun harus didasarkan atas kebutuhan siswa. Oleh sebab itu, sebelum penyusunan program bimbingan perlu di lakukan analisis kebutuhan siswa. Layanan bimbingan harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu yang bersangkutan. Berikut merupakan beberapa kebutuhan psikologi seseorang yang harus diperhatikan dlalam melakukan bimbingan.
• Kebutuhan rasa aman
Disebut juga dengan “safety needs”. Rasa aman dalam bentuk lingkungan psikologis yaitu terbebas dari gangguan dan ancaman serta permasalahan yang dapat mengganggu ketenangan hidup seseorang.
• Kebutuhan akan Rasa Cinta dan memiliki atau kebutuhan sosial
Disebut juga dengan “love and belongingnext needs”. Pemenuhan kebutuhan ini cenderung pada terciptanya hubungan social yang harmonis dan kepemilikan.
• Kebutuhan Harga diri
Disebut juga dengan “self esteem needs”. Setiap manusia membutuhkan pengakuan secara layak atas keberadaannya bagi orang lain. Hak dan martabatnya sebagai manusia tidak dilecehkan oleh orang lain, bilamana terjadi pelecehan harga diri maka setiap orang akan marah atau tersinggung.
• Kebutuhan Aktualisasi Diri
Disebut juga “self actualization needs”. Setiap orang memiliki potensi dan itu perlu pengembangan dan pengaktualisasian. Orang akan menjadi puas dan bahagia bilamana dapat mewujudkan peran dan tanggungjawab dengan baik.
f. Upaya pemberian bantuan (pelayanan Bimbingan dan Konseling) harus dilakukan secara fleksibel (tidak kaku).
Artinya harus bisa menyesuaikan dengan kondisi, serta harus sabar dan tanpa amarah.
g. Program bimbingan dan konseling harus dirumuskan sesuai dengan program pendidikan dan pembelajaran di sekolah yang bersangkutan.
Program Bimbingan dan Konseling disusun secara berkelanjutan dan jenjang pendidikan yang terendah sampai yang tinggi. Isi dan pelaksanaan program bimbingan perlu penilaian yang teratur dan terarah
h. Implementasi program bimbingan dan konseling harus dipimpin oleh orang yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling dan pelaksanaannya harus bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait, seperti dokter psikiater, serta pihak-pihak yang terkait lainnnya.
i. Untuk mengetahui hasil yang diperoleh dari upaya pelayanan bimbingan dan konseling, harus diadakan penilaian atau ekuivalensi secara teratur dan berkesinambungan.
2.3. Prinsip-prinsip Khusus Bimbingan dan Konseling Berkaitan dengan Peserta Didik
Gunawan, yusuf (1992: 54) dalam bukunya menjelaskan prinsip khusus yang berkaitan dengan peserta didik yaitu :
a. Pelayanan Bmbingan dan Konseling harus diberikan kepada semua siswa.
Artinya semua siswa baik yang memiliki masalah sederhana hingga yang kompleks perlu dibantu untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Bimbingan dan konseling melayani semua individu, tanpa memandang umur, jenis kelamin, suku, bangsa, agama , dan status sosial ekonomi.
b. Harus ada kriteria untuk mengatur prioritas pelayanan bimbingan dan konseling kepada individu atau siswa.
Diperlukan suatu alat pengukur yang cermat agar dapat dibedakan siswa yang mana yang harus didahulukan.
c. Program pemberian bimbingan dan konseling harus berpusat pada siswa.
Harus mengarah pada siswa tentang memperbaiki sikap dan tingkahlaku, memperbaikinya dengan memberikan perhatian yang lebih.
d. Pelayanan dan bimbingan konseling di sekolah dan madrasah harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu yang bersangkutan beragam dan luas.
Layanan bimbingan harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu yang bersangkutan. Pembimbing harus memahami perbedaan kebutuhan setiap individu agar bisa memberikan bantuan (bimbingan) sesuai kebutuhan individu tersebut. Dalam memberikan suatu bimbingan harus diingat bahwa semua orang, meskipun sama dalam sifat-sifatnya, namun tetap mempunyai perbedaan-perbedaaan individual dan perbedaan tersebut harus di perhatikan.
e. Keputusan akhir dalam proses Bimbingan dan konseling dibentuk oleh siswa sendiri.
Pembimbing bertugas membantu siswa untuk menenggulangi masalah dengan berbagai aternatif keputuasan, sehingga pengembalian keputusan pada siswa sendiri. Dalam pelaksanaan bimbingan, pembimbing tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada individu yang dibimbing.
Jika seorang siswa melakukan kesalahan dan sudah dibimbing, keputusan terakhir ada ditangan siswa itu sendiri, dia mau memperbaiki kesalahannya atau tidak.
Dalam pelaksanaan bimbingan, pembimbing tidak boleh memaksakan kehendaknya kepada individu yang dibimbing. Peranan pembimbing hanya memberikan arahan-arahan serta berbagai kemungkinannya, dan keputusan mana yang akan diambil diserahkan sepenuhnya kepada individu yang dibimbing. Dengan demikian klien mempunyai tanggung jawab penuh terhadap keputusan yang diambilnya itu.
f. Siswa yang telah memperoleh bimbingan, harus secara berangsur-angsur dapat menolong dirinya sendiri.
Hasil pemberian layanan diharapkan tidak hanya berguna pada waktu pemberian layanan itu saja, tetapi jika individu mengalami masalah yang sama di kemudian hari ia akan dapat mengatasinya sendiri, sehingga tingkat ketergantungan individu kepada pembimbing semakin berkurang. Tujuan akhir dari kegiatan ini ialah memandirikan individu yang dibimbing (klien) dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.
Tujuan akhir dari kegiatan ini ialah memandirikan individu yang dibimbing (klien) dalam mengatasi masalah yang dihadapinya.
Jadi, setelah lepas dari pengawasan guru, siswa harus bisa mengkondisikan atau menjaga dirinya sendiri.
2.4. Prinsip-prinsip Khusus Bimbingan dan Konseling Berkaitan dengan Tujuan Pendidikan
Prinsip-prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan adalah sebagai berikut :
a. Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari proses pendidikan dan pengembangan. Oleh karena itu program bimbingan dan konseling harus disusun dan dipadukan sejalan dengan program pendidikan dan pengembangan secara menyeluruh.
b. Program bimbingan dan konseling harus fleksibel, disesuaikan dengan kondisi lembaga (misalnya sekolah), kebutuhan individu dan masyarakat.
c. Program pelayanan bimbingan dan konseling disusun dan diselenggarakan secara berkesinambungan kepada anak-anak sampai dengan orang dewasa, di sekolah misalnya dari jenjang pendidikan taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi.
d. Terhadap pelaksanaan bimbingan dan konseling hendaknya diadakan penilaian yang teratur untuk mengetahui sejauh mana hasil dan manfaat yang diperoleh, serta mengetahui kesesuaian antara program yang direncanakan dan pelaksanaannya.
2.5. Prinsip-prinsip Khusus Bimbingan dan Konseling Berkaitan dengan Permasalahan
Berbagai faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kehidupan individu tidaklah selalu positif, namun faktor-faktor negatif pasti ada yang berpengaruh dan dapat menimbulkan hambatan-hambatan terhadap kelangsungan perkembangan dan kehidupan individu yang berupa masalah. Bimbingan dan konseling berfungsi membantu individu untuk keluar dari permasalahannya, namun bimbingan dan konseling memiliki keterbatasan dalam:
a. Bimbingan dan Konseling berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi mental atau fisik individu terhadap penyesuaian dirinya dirumah, disekolah serta dalam kaitannya dengan kontak sosial dan pekerjaan, dan sebaliknya pengaruh lingkungan terhadap kondisi mental dan fisik individu.
b. Kesenjangan sosial, ekonomi dan kebudayaan merupakan faktor timbulnya masalah pada individu yang kesemuanya menjadi perhatian dari para konselor dalam mengentaskan masalah klien.
2.6. Prinsip-prinsip Khusus Bimbingan dan Konseling Berkaitan dengan Pengorganisasian
Prinsip ini meliputi :
a. Bimbingan dan konseling harus dilaksanakan secara sistematis dan berkelanjutan.
b. Pelaksanaan bimbingan dan konseling harus ada dikartu pribadi (cumulative record) bagi setiap siswa.
c. Program pelayanan bimbingan dan konseling harus disusun sesuai dengan kebutuhan sekolah/madrasah yang bersangkutan.
d. Harus ada pembagian waktu antar pembimbing, sehingga masing-masing pembimbing mendapat kesempatan yang sama dalam memberikan bimbingan dan konseling.
e. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam situasi individu atau kelompok sesuai dengan masalah yang dipecahkan dan metode yang dipergunakan dalam memecahkan masalah terkait.
f. Dalam menyelenggarakan pelayan bimbingan dan konseling disekolah dan madarasah harus bekerja sama dengan berbgai pihak.
g. Kepala sekolah (madrasah) merupakan penanggungjawab utama dalam penyelenggaraan bimbingan dan konseling disekolah/madrasah. (Tohrin,2009)
Sekolah adalah organisasi formal, yang di dalamnya terdapat usaha-usaha administrasi dalam usaha mencapai tujuan pendidikan dan pengajaran nasional. Adapun bimbingan dan konseling adalah suborganisasi dari organisasi sekolah.
Dalam organisasi bimbingan dan konseling di sekolah perlu diperhatikan beberapa prinsip organisasi untuk menjamin kelancaran pelaksanaan program layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Adapun prinsip-prinsip organisasi, secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas
Organisasi dibentuk atas dasar adanya tujuan yang ingin dicapai,sehingga tidak mungkin suatu organisasi tanpa adanya tujuan.
2. Prinsip skala Hierarki
Dalam suatu organisasi, harus ada garis kewenangan yang jelas dari pimpinan, pembantu pimpinan sampai pelaksana, sehinnga dapat mempertegas ddalam pendelegasian wewenang dan pertanggung jawaban, dan akan menunjang efektifitas jalannya organisasi secara keseluruhan.
3. Prinsip kesatuan perintah
Dalam hal ini seseorang hanya menerima perintah atau bertanggung jawab kepada seseorang atasan saja
4. Prinsip pendelegasian wewenang
Dalam pendelegasian, wewenang yang dilimpahkan meliputi kewenangan dalam pengambilan keputusan, melakukan hubungan dengan orang lain, dan mengadakan tindakan tanpa meminta persetujuan lebih dahulu kepada atasannya.
5. Prinsip pertanggung jawaban
Dalam menjalankan tugasnya, setiap pegawai harus bertanggung jawab sepenuhnya kepada atasan
6. Prinsip pembagian pekerjaan
Adanya kejelasan dalam pembagian tugas akan memperjelas dalam pendelegasian wewenang, pertanggungjawaban, serta menunjang efektifitas jalannya organisasi
7. Prinsip rentang pengendalian
Artinya bahwa jumlah bawahan atau staf yang harus dikendalikan oleh seorang atasan perlu dibatasi secara rasional. Rentang kendali ini sesuai dengan bentuk dan tipe organisasi.
8. Prinsip fungsional
Secara fungsional, tugas dan wewenang, kegiatan, hubungan kerja, serta tanggungjawab seorang pegawai harus jelas.
9. Prinsip pemisahan
Tanggung jawab tugas pekerjaan seseorang tidak dapat dibebankan kepada orang lain
10. Prinsip keseimbangan
Keseimbangan disini adalah keseimbangan antara struktur organisasi yang efektif dan tujuan organisasi.
11. Prinsip fleksibilitas
Organisasi harus senantiasa melakukan pertumbuhan dan perkembangan sesuai dengan dinamika organisasi sendiri (inter factor) dank arena adanya pengaruh di luar organisasi (external factor), sehingga organisasi mampu menjalankan fungsi dalam mencapai tujuan.
12. Prinsip kepemimpinan
Dalam organisasi apapun bentuknya,diperlukan pemimpin atau dengan kata lain organisasi mampu menjalankan aktifitasnya karena adanya proses kepemimpinan yang digerakkan oleh pemimpin organisasi tersebut.
Organisasi yang demikian itu secara tegas mengatur kedudukan, tugas dan tanggung jawab para personil sekolah yang terlibat. Demikian pula, organisasi tersebut tergambar dalam struktur atau pola organisasi yang bervariasi yang tergantung pada keadaan dan karakteristik sekolah masing-masing. jika personil sekolah siswanya berjumlah banyak dengan didukung oleh personil sekolah yang memadai diperlukan sebuah pola organisasi bimbingan dan konseling yang lebih kompleks.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Prinsip bimbingan dan konsling menjelaskan tentang dasar pemikiran siswa. Prinsip bimbingan konsling menjadi landasan atau aturan yang harus di ikuti dalam melaksanakan program pelayanan bimbingan kepada konsling, dan juga mengatur kenselor untuk bisa melakukan pelayanan yang baik dan bertujuan memajukan individu dalam semua aspek.
Prinsip bimbingan dan konsling tebagi menjadi lima prinsip. prinsip secara umum, prinsip yang berkaitan dengan siswa, prinsip tujuan pendidikan, prinsip permasalahan,dan prinsip pengorganisasian
3.2 Saran
Daftar Pustaka
Gunawan, Yusuf. 1992. Pengantar bimbingan dan konseling. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama
Juntika Nurihsan, Achmad. 2005. Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling. Bandung : PT. Refika Aditama
Hallen, 2002. Bimbingan dan Konseling. Jakarta : Liputan Press
Kartono. 1985. Bimbingan dan Dasar-Dasar Pelaksanaannya. Jakarta : CV. Rajawali
Nurihsan, A. Juntika. 2006. Bimbingan Dan Konseling. Bandung: Refika Aditama
Prayitno dan Erman Amfi. 1995. Dasar-dasar Bimbingan Konseling. Jakarta : Reneka Cipta
Sofyan S. Willis. 2004. Konseling Individual; Teori dan Praktek. Bandung : Alfabeta
Sukardi, Dewa Ketut. 2008. Organisasi dan Administrasi Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Surabaya: Usaha Nasional
Tohrin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
makalah jenis jenis layanan BK
MAKALAH BIMBINGAN KONSELING
“Jenis- jenis Layanan Bimbingan Konseling”
DOSEN PEMBIMBING
Freddy Sarman, S.Pd,. M.Pd
NAMA KELOMPOK VII :
1. Eyuski Inanda Sari (RRA1B215038)
2. Nadya Putri (A1C316031)
3. Novita Apriliani (A1C315023)
4. Unduk Natalia Tambunan (A1C316028)
Program Studi Pendidikan Fisika
Jurusan Pendidikan Matematika Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jambi
2017
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami hantarkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas berupa makalah ini pada tanggal yang telah ditentukan. Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk dapat melengkapi atau menyusun segala bentuk materi atau pokok pembahasan yang didapat dari berbagai sumber pustaka serta sumber-sumber lainnya yang menyangkut persoalan atau materi yang kami bahas yaitu mengenai “Jenis-jenis Layanan Bimbingan Konseling”.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam membuat makalah ini. Satu harapan yang kami inginkan semoga makalah ini dapat berguna bagi pembaca dan diri kami sendiri.
Selain itu kami merasa makalah ini masih kurang dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan bagi makalah ini. Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih.
Jambi, April 2018
Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secaraaktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritualkeagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, sertaketerampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.Lebih lanjut, mengenai fungsi pendidikan dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan dua batasan di atas, maka pendidikan di Indonesia ini tidak hanya memprioritaskan perkembangan aspek kognitif atau pengetahuan peserta didik, namun juga tetapi perkembangan individu sebagai pribadi yang unik secara utuh.
Oleh karena setiap satuan pendidikan harus memberikan layanan yang dapat memfasilitasi perkembangan pribadi siswa secara optimal berupa bimbingan dan konseling. Pemahaman mengenai apa dan bagaimana layanan bimbingan disekolah mutlak diperlukan oleh pengawas. Hal ini merupakan bagian darikompetensi supervisi manajerial yang harus dilakukannya terhadap setiap sekolahyang berada dalam lingkup binaannya. Pendidikan sebagai salah satu bentuk lingkungan bertanggung jawab dalam memberikan asuhan terhadap proses perkembangan individu. Bimbingan dan konseling akan merupakan bantuan individu di dalam memperoleh penyesuaian diri sesuai dengan tingkat perkembangannya. Dalam konsepsi tentang tugas perkembangan (developmental task) dikatakan bahwa setiap periode tertentu terdapat sejumlah tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan.
Perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan di negara asalnya yaitu Amerika Serikat. Bermula dari banyaknya pakar pendidikan yang menamatkan studinya di negeri Paman Sam itu kembali ke Indonesia dengan membawa konsep-konsep bimbingan dan konseling yang baru. Hal itu terjadi sekitar tahun 60-an. Tidak dapat dibantah bahwa pakar pendidikan itu telah menggunakan dasar-dasar pemikiran yang diambil dari pustakaan Amerika Serikat. Khususnya mengenai pandangan mengenai anak didik yaitu bahwa anak didik mempunyai potensi untuk berkembang karena itu pendidikan memberikan situasi kondusif bagi perkembangan potensi tersebut cara optimal.
Suatu kegiatan bimbingan dan konseling disebut layanan apabila kegiatan tersebut dilakukan melalui kontak langsung dengan sasaran layanan (klien), dan secara langsung berkenaan dengan permasalahan ataupun kepentingan tertentu yang dirasakan oleh sasaran layanan itu.
Jenis-jenis layanan pada dasarnya merupakan operasionalisasi dari konsep bimbingan dan konseling dalam rangka memenuhi berbagai asas, prinsip, fungsi dan tujuan bimbingan dan konseling. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan. Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin berkembang, baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. Namun, kedua jenis layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan disekolah. Berbagai jenis layanan tersebut perlu dilakukan sebagai wujud nyata penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sasaran layanan, yaitu peserta didik (klien).
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui definisi layanan bimbingan dan konseling
2. Mengetahui tujuan layanan bimbingan dan konseling
3. Memahami jenis-jenis layanan bimbingan dan konseling
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Layanan Bimbingan dan Konseling
Para ahli mendefinisikan layanan bimbingan itu dengan cara yang bervariasi, namun selalu menunjukkan kepada hakikat, tujuan, dan prosedur yangserupa, yang secara ringkasnya dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Layanan bimbingan (guidance services) merupakan bantuan yang diberikan kepada individu
2. Layanan bimbingan bertujuan agar yang bersangkutan dapat mencapai taraf perkembangan dan kebahagian secara optimal
3. Dengan layanan bimbingan, kita dapat menjalani proses pengenalan, pemahaman, penerimaan, pengarahan, perwujudan,serta penyesuaian diri, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Layanan bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang diberikan kepada siswa secara terus menerus agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, sehingga siswa sanggup mengarahkan dirinya sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Dengan adanya bimbingan dan konseling diharapkan dapat memberikan solus ibagi peserta didik di sekolah. Agar peserta didik menjadi lebih baik dari segi perilakunya.
Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia dalam upaya membantu siswa agar mencapaiperkembangan yang optimal, sesuai dengan potensinya. Oleh karena itu,pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tanggung jawab bersama antara personel sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, konselor, dan pengawas.
2.2 Tujuan Layanan Bimbingan dan Konseling
Berikut ini beberapa tujuan layanan bimbingan konseling :
1. Untuk mengenal diri sendiri dan lingkungannya.
Dengan mengenal diri sendiri dan lingkungannya, diharapkan siswa dapat melihat hubungan dan kemungkinan yang tersedia serta memperkirakan apa yang dapat mereka capai sesuai dengan diri mereka sendiri. Dengan kata lain mereka mampu untuk mengenal kelebihan dan kekurangan mereka.
2. Untuk dapat menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis.
Maksudnya mereka dapat menerima keterbatasan yang mereka miliki, dengan mengenal keterbatasan diharapkan mereka mampu menerima apa yang ada atau apa adanya yang terdapat pada diri mereka secara positif dan dinamis.
3. Untuk dapat mengambil keputusan sendiri tentang berbagai hal.
Kenyataan menunjukan bahwa seseorang yang dapat menentukan sendiri dari suatu hal tanpa dipaksa oleh pihak lain, akan memberikan kepuasan tersendiri bagi dirinya sendiri.
4. Untuk dapat mengarahkan diri sendiri.
Sejalan dengan tujuan sebelumnya, bimbingan dan konseling menginginkan agar pada akhirnya siswa mampu mengarahkan diri mereka sendiri yang di dasarkan pada keputusan yang mereka ambil sesuai dengan apa yang ada pada diri mereka.
5. Untuk dapat mewujudkan diri sendiri.
Dengan pengenalan diri dan lingkungan, mengambil keputusan sendiri, dan dengan mengarahkan diri sendiri, akirnya di harapkan siswa dapat mewujudkan dirinya sendiri.
2.3 Jenis-jenis Layanan Bimbingan dan Konseling
Suatu kegiatan bimbingan dan konseling disebut layanan apabila kegiatan tersebut dilakukan melalui kontak langsung dengan sasaran layanan (klien), dan secara langsung berkenaan dengan permasalahan ataupun kepentingan tertentu yang dirasakan oleh sasaran layanan itu. Kegiatan yang merupakan layanan itu mengemban fungsi tertentu dan pemenuhan fungsi tersebut serta dampak positif layanan yang dimaksudkan diharapkan dapat secara langsung dirasakan oleh sasaran (klien) yang mendapatkan layanan tersebut.
Berbagai jenis layanan perlu dilakukan sebagai wujud nyata penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sasaran layanan, yaitu peserta didik (klien). Disini kami akan membahas sejumlah layanan dalam bimbingan dan konseling yang ada disekolah diantaranya yaitu:
2.3.1 Layanan Orientasi
Layanan orientasi merupakan layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memahami lingkungan yang baru dimasuki peserta didik, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. Pemberian layanan ini bertolak dari anggapan bahwa memasuki lingkungan baru bukanlah hal yang selalu dapat berlangsung dengan mudah dan menyenangkan bagi setiap orang.[1]
Sedangkan menurut Prayitno (2004) orientasi berarti tatapan ke depan kearah dan tentang sesuatu yang baru. Berdasarkan arti ini, layanan orientasi bisa bermakna suatu layanan terhadap siswa baik di sekolah maupun di madrasah yang berkenaan dengan tatapan ke depan ke arah dan tentang sesuatu yang baru.
Situasi atau lingkungan yang baru bagi individu merupakan sesuatu yang “asing”. Dalam kondisi keterasingan, individu akan mengalami kesulitan untuk bersosialisasi. Dalam hal ini layanan orientasi berusaha menjembatani kesenjangan antara individu dengan suasana ataupun objek-objek baru. Layanan ini juga akan mengantarkan individu (siswa) memasuki suasana ataupun objek baru agar ia dapat mengambil manfaat berkenaan dengan situasi atau objek yang baru tersebut.[2]
1. Tujuan dan Fungsi Layanan Orientasi
Layanan ini ditujukan untuk siswa baru dan untuk pihak-pihak lain (terutama orang tua siswa) guna memberikan pemahaman dan penyesuaian diri (terutama penyesuaian siswa) terhadap lingkungan sekolah yang baru dimasukinya.[3] Selain itu Layanan orientasi
bertujuan untuk membantu individu agar mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau situasi yang baru.
Secara khusus tujuan layanan orientasi berkenaan dengan fungsi-fungsi tertentu dalam layanan bimbingan dan konseling. Dilihat Dari Fungsi Pemahaman, layanan orientasi bertujuan untuk membantu individu agar memiliki pemahaman tentang berbagai hal yang penting dari suasana yang baru saja dijumpainya. Dilihat dari Fungsi Pencegahan, layanan orientasi bertujuan untuk membantu individu agar terhindar dari hal-hal negatif yang dapat timbul apabila individu tidak memahami situasi atau lingkungannya yang baru. Sedangkan dilihat dari Fungsi Pengembangan, apabila individu mampu menyesuaikan diri secara baik dan mampu memanfaatkan secara konstruktif sumber-sumber yang ada pada situasi yang baru, maka individu akan dapat mengembangkan dan memelihara potensi dirinya.
Hasil yang diharapkan dari layanan orientasi adalah dipermudahnya penyesuaian diri siswa terhadap pola kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan kegiatan lain yang mendukung keberhasilan siswa. Demikian juga orang tua siswa, dengan memahami kondisi, situasi, dan tuntutan sekolah anaknya akan dapat memberikan dukungan yang diperlukan bagi keberhasilan belajar anaknya itu.
2. Materi Umum Layanan Orientasi
Untuk lingkungan sekolah, materi layanan orientasi mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Pengenalan lingkungan dan fasilitas sekolah
b. Peraturan dan hak-hak serta kewajiban siswa
c. Organisasi dan wadah-wadah yang dapat membantu dan meningkatkan hubungan sosial siswa
d. Peranan kegiatan bimbingan karier
e. Penyelenggaraan pengajaran
f. Kurikulum yang ada
g. Staf pengajar dan tata usaha
h. Peranan layanan bimbingan dan konseling dalam membantu segala jenis masalah dan kesulitan siswa.
2.3.2 Layanan Informasi
Layanan informasi yaitu layanan Bimbingan dan Konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik (klien). Klien tidak hanya peserta didik tetapi bisa juga orang tua atau wali.
Ada tiga alasan utama mengapa pemberian informasi perlu diselenggarakan yaitu:
1. Membekali individu dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenaan dengan lingkungan sekitar, pendidikan, jabatan, maupun sosial budaya.
2. Memungkinkan individu dapat menentukan arah hidupnya
3. Setiap individu adalah unik
Adapun tujuan dari layanan informasi adalah untuk membekali individu dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan, dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. Pemahaman yang diperoleh melalui layanan informasi, digunakan sebagai bahan acuan dalam meningkatkan kegiatan dan prestasi belajar, mengembangkan cita-cita, menyelenggarakan kehidupan sehari-hari, dan dalam mengambil keputusan.
Materi yang dapat yang diangkat melalui layanan informasi ada berbagai macam, yaitu meliputi :
1. Bidang Pengembangan Pribadi
Suatu kegiatan pemberian informasi tentang tugas-tugas perkembangan yang berkaitan dengan kemampuan dan perkembangan pribadi individu ( peserta didik). Perkembangan pribadi berupa sikap belajar disekolah. Seperti kepatuhan terhadap tata tertib disekolah mulai dari seragam, masuk kelas, kebersihan kelas, dll.
Meliputi kegiatan pemberian informasi tentang:
a. Tugas-tugas perkembangan tentang kemampuan dan perkembangan pribadi
b. Perlunya pengembangan kebiasaan dan sikap dalam keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME
c. Usaha yang dapat dilakukan dalam mengenal bakat, bakat, minat serta bentuk-bentuk penyaluran dan pengembangannya
d. Perlunya hidup sehat dan upaya pelaksanaan
e. Usaha yang dapat dilakukan melalui Bimbingan dan Konseling dalam membantu peserta didik dalam menghadapi masa peralihan dari masa remaja awal kemasa remaja yang penuh tantangan.
2. Bidang Pengembangan Sosial
Suatu layanan yang diberikan kepada individu dengan tujuan pemantapan kemampuan, bertingkah laku dan berhubungan sosial.
Layanan informasi dalam bidang bimbingan sosial, meliputi :
a. Tugas perkembangan masa remaja tentang pengembangan hubungan sosial
b. Cara bertingkah laku, sopan santun
c. Tata krama pergaulan dengan teman sebaya
d. Suasana dan tata krama kehidupan dalam berkeluarga
e. Hak dan kewajiban warga negara
f. Pengenalan dan manfaat lingkungan yang lebih luas.
3. Bidang Pengembangan Kegiatan Belajar
Suatu layanan info yang diberikan untuk pemantapan sikap, dan kebiasaan belajar yang efektif dan efisien serta produktif, baik dalam mencari informasi dari berbagai sumber belajar, bersikap terhadap guru, mengembangkan keterampilan belajar, mengerjakan tugas-tugas pelajaran dan menjalani program penilaian hasil belajar.
Pengembangan kegiatan belajar meliputi:
a. Tugas-tugas perkembangan masa remaja berkenaan dengan pengembangan diri,keterampilan,ilmu pengetahuan,teknologi dan kesenian.
b. Perlunya pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik,aktif dan terprogram,baik belajar mandiri maupun kelompok.
c. Cara belajar diperpustakaan,meringkas buku,membuat catatan dan mengulang pelajaran
d. Kemungkinan timbulnya berbagai masalah belajar dan upaya pengetasannya
e. Pengajaran perbaikan dan pengayaan
4. Bidang Persiapan Karir
Suatu layanan pemantapan informasi karir pada peserta didik untuk mempersiapkan diri dalam merencakan, dan memilih karir yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan yang dimiliki individu. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa, baik yang berhubungan dengan diri pribadi, sosial, belajar ataupun kariernya., Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi, yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri.
Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. Untuk itulah, mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya, baik tentang bakat, minat, cita-cita, berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. Dalam hal ini, tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya, seperti kondisi sosio-kultural, pasar kerja, persyaratan, jenis dan prospek pekerjaan, serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak.
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam pemberian layanan informasi, yaitu:
a. Materi layanan informasi
Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa, sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik, sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya.
Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa, diantaranya:
a. Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier.
b. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat
c. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier.
d. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan, jenis pekerjaan, ciri-ciri pekerjaan.
e. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA.
f. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan, karier, dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi, dan sebagainya.
b. Teknik Layanan Informasi
Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa, juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian, layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa.
Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber, misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri, yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata, berdasarkan hasil pengalamannya.
2.3.3. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan penempatan dan penyaluran yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan atau program studi, program latihan, magang, kegiatan kurikuler atau ekstra kurikuler) sesuai dengan potensi, bakat dan minat, serta kondisi pribadinya.[6]Sedangkan menurut Winkel, 1991 dalam buku bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah mengatakan bahwa layanan penempatan adalah usaha-usaha membantu siswa merencanakan masa depannya selama masih di sekolah dan madrasah dan sesudah tamat, memilih program studi lanjutan sebagai persiapan untuk kelak memangku jabatan tertentu.
Individu dalam proses perkembangannya sering dihadapkan pada kondisi yang satu sisi serasi atau (kondusif) mendukung perkembangannya dan disisi lain kurang serasi atau kurang mendukung (mismatch). Kondisi mismatch berpotensi menimbulkan masalah pada individu (siswa). Oleh sebab itu, layanan penempatan dan penyaluran diupayakan untuk membantu individu yang mengalami mismatch. Layanan ini berusaha meminimalisasi kondisi mismatch yang terjadi pada individu sehingga individu dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Di tempat yang cocok dan serasi serta kondusif diharapkan individu dapat mengembangkan diri secara optimal. Layanan penempatan dan penyaluran ini mempunyai kedudukan yang penting dalam pendidikan sebagai fungsi pencegahan dan pemeliharaan.Layanan Penempatan dan Penyaluran bermanfaat untuk Membantu siswa agar mampu menempatkan, menyalurkan dan merealisasikan dirinya pada keadaan posisi yang tepat. Menyalurkan segala kemampuan, bakat dan minat yang dimiliki siswa sehingga siswa dapat berkembang secara optimal dan memperoleh kepuasaan. Memberikan kemudahan bagi guru dalam pengelolaan kelas dan program pengajaran. Layanan penempatan dan penyaluran harus dilaksanakan secara obyektif dan rasional oleh karena itu perlu kegiatan pendukung berupa aplikasi instrumen dan pengumpulan data.
Adapun bentuk-bentuk layanan Penempatan dan Penyaluran adalah sebagai berikut:
1. Penempatan Dalam Kelas
Layanan penempatan di dalam kelas itu merupakan jenis layanan yang paling sederhana dan mudah dibandingkan dengan penempatan dan penyaluran yang lainnya. Namun demikian, penyelenggaraannya tidak boleh diabaikan. Penempatan siswa di dalam kelas adalah menempatkan siswa ke dalam kelas yang sesuai dengan dirinya. Bentuk penempatan dalam kelas dapat berupa menempatkan siswa berdasarkan kemampuan akademis, menempatkan siswa dalam kelompok belajar, menempatkan siswa dalam kelompok tugas, dan menempatkan siswa dalam posisi tempat duduk. Menurut Purwoko (2008: 60) keuntungan penempatan dalam kelas adalah sebagai berikut: Bagi siswa, penempatan kelas yang tepat memberikan penyesuaian dan pemeliharaan terhadap kondisi diri siswa baik fisik, mental, maupun sosial. Bagi guru, penempatan kelas yang tepat memungkinkan pengelolaan kelas yang kondusif yang akan mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Dengan penempatan tempat duduk yang sesuai dengan kondisi siswa, maka kemungkinan terjadinya hambatan-hamabatan dalam pelaksanaan pembelajaran dikelas dapat lebih diminimalisir.
2. Kelompok Belajar
Bagaimana agar siswa yang kurang pintar juga dapat mengikuti proses belajar dengan baik. Pembentukan kelompok belajar ini mempunyai dua tujuan pokok. Pertama, untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Kedua, untuk wadah belajar bersama.Dalam penempatan kelompok belajar ini guru BK harus mengetahui mana saja siswa yang memiliki prestasi yang baik, maupun siswa yang kurang berprestasi. Jika sudah diketahui maka tugas guru BK selanjutnya adalah membagi semua siswa dalam beberapa kelompok belajar yang terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan yang tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan yang rendah. Agar semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik, konselor harus mengarahkan kepada siswa yang berkemampuan baik agar menjadi tutor atau pembimbing teman-temannya yang memiliki kemampuan kurang.
3. Penempatan dan Penyaluran Dalam Kegiatan Ekstakurikuler
Penyaluran siswa kedalam kegiatan kokurikuler atau pun ekstrakurikuler secara tepat dan benar akan sangat membantu dalam menunjang ketercapaian kegiatan intrakurikuler. Selain itu, penempatan yang tepat akan membantu siswa dalam pengembangan bakat dan minatnya. Siswa yang mempunyai bakat dan minat bisa menyalurkannya pada kegiatan ekstrakurikuler. Prosedur dari pelaksanaan dari penempatan pada kegiatan ekstrakurikuler ini adalah Melancarkan angket pilihan
kegiatan ekstra kurikuler. Menganalisis angket tersebut Melaksanakan penempatan sesuai dengan kegiatan ekstrakurikuler yang diinginkan. Kegiatan ini mengikuti prosedur berikut: Mempelajari catatan kumulatif dan melancarkan angket pemilihan program atau jurusan. Menganalisis angket yang sudah di lancarkan. Menyediakan informasi yang mungkin diperlukan oleh siswa, membantu memecahkan masalah yang mungkin timbul sehubungan dengan pemilihan program siswa.
4. Penempatan dan Penyaluran Jurusan yang Tepat Untuk Siswa
Setiap siswa di hadapkan pada pemilihan program studi seperti penjurusan IPA, IPS, Bahasa bagi mereka yang duduk di bangku SMA. Atau penjurusan untuk anak SMK. Terkadang, dari banyaknya jurusan yang ditawarkan sekolah membuat siswa kesulitan untuk memilih jurusan yang sekiranya cocok bagi dirinya. Maka dari itu, merupakan tugas guru pembimbing untuk memberikan bantuan kepada siswa. Pemberian bantuan itu harus diawali dengan menyajikan informasi pendidikan dan jabatan yang cukup luas. Informasi tersebut hendaknya dapat mengarahkan siswa untuk memahami tujuan, isi (kurikulum), sifat, kesempatan-kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan kesempatan kerja setelah tamat dari jurusan yang dimaksud. Selain itu, diadakan konsultasi pribadi guna lebih mempermudah siswa yang bersangkutan.
5. Pendidikan Lanjutan
Penempatan dan penyaluran ke dalam pendidikan lanjutan Sudah menjadi tugas konselor untuk membekali para siswanya yang akan keluar dari sekolah yang bersangkutan. Dan tentunya konselor harus benar-benar membuat rencana yang sistematis untuk memberikan bantuan dalam pengembangan dan penyusunan rencana berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tentang kekuatan dan kelemahan siswa dari segi-segi yang amat menentukan keberhasilan studi pada program pendidikan lanjutan tersebut, terutama segi kemampuan dasar, bakat, dan minat, serta kemampuan keuangan. Dalam pelaksanaan layanan penempatan siswa ke sekolah sambungan adalah sebagai berikut: Menyelidiki bakat, minat, kemampuan siswa,Menyediakan informasi lanjutan studi, Membantu siswa yang memerlukan bantuan sehubungan dengan kesulitannya dalam memilih lanjutan studi yang diinginkan.
6. Bidang Perkerjaan
Penempatan dan penyaluran ke dalam pekerjaan atau jabatan di samping penempatan dalam pendidikan lanjutan, sekolah juga harus membantu para siswa yang akan memasuki dunia kerja. Meskipun di sekeliling siswa tersedia banyak lapangan kerja namun tidak semua lapangan kerja itu cocok dan mudah untuk dimasuki. Sebagaimana halnya dalam dunia pendidikan, setiap bidang pekerjaan itu memiliki sifat dan ciri-ciri tersendiri. Oleh karena itu, diperlukan informasi pekerjaan.
Layanan penempatan dan penyaluran ini akan mencapai sukses jika mendapat dukungan yang kuat dari guru dan orang tua siswa. Apalagi trio “guru-konselor-orang tua” kompak dan matang dalam menangani layanan penempatan dan penyaluran demi kebahagiaan anak, sangat dapat diharapkan perkembangan anak berada pada jalur yang tepat. Walaupun masih menjadi kontroversi akan tetapi karakteristik kepribadian seseorang dipengaruhi oleh urutan kelahiran. Anak yang lahir sulung atau anak pertama cenderung lebih teliti, mempunyai ambisi, dan agresif dibandingkan dengan adik-adiknya. Anak tengah sering menjadi mediator dan pecinta damai. Anak bungsu cenderung paling kreatif dan biasanya menarik. Anak tunggal atau si anak semata wayang biasanya sering merasa terbebani dengan harapan yang tinggi dari orangtua mereka terhadap diri mereka sendiri. Mereka lebih percaya diri, supel, dan memiliki imajinasi yang tinggi. Karakteristik yang berbeda-beda pada individu dipengaruhi oleh perilaku orangtuanya berdasarkan urutan kelahiran.
2.3.4 Layanan Penguasaan Konten
Layanan penguasaan konten merupakan layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu yang dimaksudkan untuk memungkiankan siswa memahami serta mengembangkan sikap dan kebiasaaan belajar yang baik, terutama kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Tujuan layanan konten yaitu agar siswa mengusai aspek-aspek konten (kemampuan atau kompetensi) tenu secara terintegrasi. Dengan penguasaan konten, individu (siswa) diharapkan mampu memenuhi kebutuhannya serta mengatasi masalah-masalah yang dialaminya. Oleh sebab itu, layanan konten juga bermakna suatu bantuan kepada individu (siswa) agar menguasai konten tersebut diatas secara terintegrasi.
Dalam perkembangan dan kehidupannya, setiap siswa perlu menguasai berbagai kemampauan atau kompetensi. Dengan kemampuan atau kompetensi itulah siswa hidup dan berkembang. Umumnya kemampuan atau kompetensi tertentu harus dipelajari. Dengan perkataan lain kepemilikan kemampuan atau kompetensi tertentu oleh siswa harus melalui proses belajar. Dalam rangka ini, sekolah harus bisa memenuhi kebutuhan belajar siswa.
A. Tujuan Layanan Penguasaan Konten
Menurut Prayitno (2004:2) tujuan umum layanan penguasaan konten yaitu agar siswa menguasai aspek-aspek konten (kemampuan atau kompetensi) tertentu secara terintegrasi. Dengan penguasaan konten (kemampuan atau kompetensi) oleh siswa, akan berguna untuk menambah wawasan dan pemahaman, mengarahkan penilaian dan sikap, menguasai cara-cara tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah-masalahnya. Dengan penguasaaan konten yang dimaksud itu pesrta didik yang bersangkutan lebih mampu menjalani kehidupanya secara efektif.
Tujuan khusus layanan penguasaan konten dapat dilihat pertama dari kepentingan peserta didik mempelajarinya, dan kedua isi konten itu sendiri.
Tujuan khusus layanan penguasaan konten terkait dengan fungsi-fungsi konseling menurut Prayitno (2004: 3) fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut:
1) Fungsi pemahaman
Guru pembimbing dan peserta didik perlu menekankan aspek-aspek pemahaman dari konten yang menjadi fokus layanan penguasaan konten.
2) Fungsi pencegahan
Fungsi pencegahan dapat menjadi muatan layanan penguasaan konten memang terarah kepada terhindar kannya individu/ atau peserta didik dari mengalami masalah tertentu.
3) Fungsi pengentasan
Fungsi pengentasan akan menjadi arah layanan apabila penguasaan konten memang untuk mengatasi masalah yang sedang dialami klien.
4) Fungsi Pengembangan dan pemeliharaan.
Penguasaan konten dapat secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan disatu sisi, dan disisi lain memelihara potensi individu atau peserta didik.
5) Fungsi advokasi
Pengusaan konten yang tepat dan terarah memungkinkan individu membela diri sendiri terhadap ancaman ataupun pelanggaran atas hak-haknya.
Dalam menyelenggarakan layanan penguasaan konten guru pembimbing perlu menekankan secara jelas dan spesifik fungsi-fungsi konseling mana yang menjadi arah layanannya dengan konten khusus yang menjadi fokus kegiatanya.
B. Isi Layanan Penguasaan Konten
Konten merupakan isi layanan ini dapat merupakan satu unit materi yang menjadi pokok bahasan atau materi latihan yang dikembangkan oleh guru bimbingan konseling , kemudian diikuti oleh sejumlah siswa. Isi layanan penguasaan konten dapat mencakup :
1) Pengembangan kehidupan pribadi
2) Pengembangan kemampuan hubungan social
3) Pengembangan kegiatan belajar
4) Pengembangan dan perencanaan karir
5) Pengembangan kehidupan berkeluarga
6) Pengembangan bermasyarakat
7) Pengembangan beragama
Berkenaan dengan semua bidang pelayanan diatas dapat diambil dan dikembangkan berbagai hal yang kemudian dikemas menjadi topic atau pokok bahasan, bahan latihan dan atau kegiatan lain.
B. Pelaksanaan Layanan Penguasaan Konten
Layanan penguasaan konten terfokus pada dikuasinya konten tertentu oleh siswa yang memperoleh siswa yang memperoleh layanan. Oleh karena itu layanan penguasaan konten direncanaan, dilaksanakan, serta dievaluasi secara tertib dan akurat.
1. Perencanaan.
a. Menetapkan subjek (siswa) yang diberi yang diberi layanan.
b. Menetapkan dan menyiapkan konten yang akan dipelajari secara terperinci.
c. Menetapkan proses dan langkah-langkah layanan.
d. Menetapkan dan menyiapkan fasilitas layanan, termasuk media yang diperlukan.
e. Menyiapkan kelengkapan admidtrasi.
2. Pelaksanaan, yang mencakup:
a. Pelaksanaan kegiatan layanan melalui pengorganisasian proses pembelajaran penguasaan konten.
b. Menginplementasikan high touch dan high tech dalam proses pemberian layanan.
3. Penilaian terhadap layanan penguasaan konten diorientasikan kepada diperolehnya kelima dimensi belajar (tahu, bisa, mau, biasa, dan iklas) terkait dengan konten yang dipelajari. Dalam implementasinya penilaian terhadap layanan konten dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu : (a) penilaian sesegera yang dilakukan menjelang diakhirinya setiap kegiatan layanan; (b) penilaian jangka pendek; yang dilaksanakan beberapa waktu setealah kegiatan layanan berakhir (c) evaluasi atau penilaian jangka panjang yang dilaksanakan setelah semua program layanan selesai dilaksanakan. Waktunya relatif, tergantung luas dan sempitnya program layanan.
4. Tindak lanjut yang mencakup penetapan jenis dan arah tindak lanjut, mengkomunikasikan rencana tindak lanjut kepada siswa dan pihak-pihak lain yang terkait dan melaksanakan rencana tindak lanjut.
5. Laporan yang mencakup penyusunan laporan pelaksanaan layanan penguasaan konten, menyampaikan laporan kepada pihak-pihak terkait (khususnya kepala sekolah) sebagai penanggung jawab utama layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Serta mendokumentasikan laporan layanan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Layanan bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang diberikan kepada siswa secara terus menerus agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri dan siswa dapat mencapai perkembangan yang optimal,sesuai dengan potensinya sehingga siswa sanggup mengarahkan dirinya sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Sejalan dengan visi tersebut, maka misi bimbingan dan konseling harus membantu memudahkan siswa mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya seoptimal mungkin, sehingga terwujud siswa yang tangguh menghadapi masa kini dan masa mendatang.
Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian yang integral dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tanggung jawab bersama antara personel sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, konselor, dan pengawas. Kegiatan bimbingan dan konseling mencakup banyak aspek dan saling kait mengkait,sehingga tidak memungkinkan jika layanan bimbingan dan konseling hanya menjadi tanggung jawab konselor saja
3.2 Saran
Sebaiknya kita sebagai calon pendidik yang langsung bersinggungan ataupun berinteraksi dengan peserta didik, diharuskan untuk menguasai dan memahami ilmu tentang bimbingan dan konseling meskipun bukan bertindak sebagai guru BK. Dan untuk calon/guru BK harus sebisa mungkin menjadi teman curhat dan tempat berkonsultasi peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Gazda, G.M. 1978. Group Counseling: A Developmental Approach, Boston: Allyn and Bacon.
Prayitno, 1987. Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor, Jakarta: P2LPTK.
Setyaningsih, Kris. 2009. Bimbingan Dan Konseling, Palembang.
Sukardi, Dewa Ketut. 2000. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta
Supriatna, Mamat. 2011. Bimbingan dan konseling berbasis kompetensi (orientasi dasar pengembangan profesi konselor), Jakarta: Rajawali Press.
Suryana, Ermis. 2009. Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Palembang: Grafika Telindo Press.
Tohirin, 2008. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,.
makalah fungsi-fungsi dalam BK
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bimbingan dan Konseling merupakan dua kata yang erat hubungannya. Bahkan sering diartikan menjadi bimbingan saja. Karena konseling sebenarnya merupakan salah satu teknik dari bimbingan.Pada dasarnya bimbingan dan konseling juga mrupakan upaya bantuan untuk menunjukkan perkembangan manusia secara optimal secara kelompok maupun individu sesuai dengan hakekat kemanusiaannya dengan berbagai potensi, kelebihan, dan kekurangan, kelemahan, serta permasalahan.
Adapun dalam dunia pendidikan, bimbingan dan konseling juga sangat diperlukan karena dengan adanya bimbingan dan konseling dapat mengantarkan peserta didik pada pencapai standard an kemampuan profesi dan akademis, serta perkembangan dini yang sehat dan produktif, dan didalam bimbingan dan konseling selain ada pelayanan juga ada fungsi serta prinsip-prinsipnya. Kurangnya pengetahuan tentang fungsi dalam proses pemberian bimbingan kepada orang lain dapat menyebabkan lemahnya daya hantar pengetahuan serta cara-cara yang tidak sesuai dengan dengan apa yang diharapkan si klien. Bagaimanapun fungsi bimbingan konseling sangatlah penting dalam hala pemberian bantuan kepada si klien tersebut. Pada pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah guru memiliki peranan yang sangat penting karena guru merupakan sumber yang sangat menguasai informasi tentang keadaan siswa, didalam melakukan bimbingan dan konseling, kerja sama konselor dengan personel lain disekolah merupakan suatu syarat yang tidak boleh ditinggalkan.
Pada pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah guru memiliki peranan yang sangat penting karena guru merupakan sumber yang sangat menguasai informasi tentang keadaan siswa, didalam melakukan bimbingan dan konseling, kerja sama konselor dengan personel lain disekolah merupakan suatu syarat yang tidak boleh ditinggalkan. Kerjasama ini akan menjamin tersusunnya program bimbingan yang kompherensif, memenuhi sasaran, serta realistic. Meskipun keberadaan bimbingan dan konseling disekolah sudah lebih diakui sebagai profesi, namun masih ada profesi negatif tentang bimbingan dan konseling terutama keberadaannya disekolah dari para guru, sebagian pengawas, kepala sekolah, para siswa, orang tua siswa bahkan dari guru BK sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun permasalah yang dibahas dalam makalah ini adalah ;
1. Apa fungsi pemahaman dalam BK.?
2. Apa fungsi pencegahan dalam BK.?
3. Apa fungsi pengentasan dalam BK.?
4. Apa fungsi pemeliharaan dan pengembangan dalam BK.?
5. Apa fungsi advokasi dalam BK.?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk menguraikan fungsi pemahaman dalam BK.
2. Untuk menguraikan fungsi pencegahan dalam BK.
3. Untuk menguraikan fungsi pengentasan dalam BK.
4. Untuk menguraikan fungsi pemeliharaan dan pengembangan dalam BK.
5. Untuk menguraikan fungsi advokasi dalam BK.
BAB II
PEMBAHASAN
Fungsi bimbingan dan konseling secara umum adalah sebagai fasilitator dan motivator client dalam upaya mengatasi dan mencegah problema kehidupan client dengan kemampuan yang ada pada diri sendiri.Sesuai dengan tujuan bimbingan konseling, yakni agar peserta didik dapat menemukan dirinya, mengenal dirinya dan mampu merencanakan masa depannya.
Dalam hubungan ini bimbingan dan konseling berfungsi sebagai pemberi layanan kepada preseta didik agar masing-masing peserta didik dapat berkembang secara optimal sehingga menjadi pribadi yang utuh dan mandiri oleh karna itu pelayanan bimbingan dan konseling mengembangkan sejumlah fungsi yang hendak dipenuhi melalui kegiatan bimbingan dan konseling. Fungsi-fungsi tersebut adalah
2.1 Fungsi Pemahaman:
Fungsi pemahaman yang difokuskan disini adalah fungsi pemahanan tentang dua hal, yakni fokus utama pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu klien dengan berbagai permasalahannya dan tujuan-tujuan konseling. Berkenaan dengan dua hal tersebut, pemahaman yang perlu dicptakan oleh pelayanan bimbingan dan konseling adalah pemahaman tentang diri klien beserta permasalahannya oleh klien atau peserta didik sendiri dan oleh pihak-pihak yang akan membantu klien atau peserta didik , serta pemahaman tentang lingkungan klien atau peserta didik oleh klien atau peserta didik itu sendiri. Berikut penjelasannya tentang fungsi pemahaman:
1. Pemahaman tentang klien atau peserta didik
Pemahaman tentang klien merupakan titik tolak upaya pemberian bantuan terhadap klien. Sebelum seorang konselor memberikan bantuannya kepada klien, maka mereka perlu terlebih dahulu memahami individu yang akan di bantu itu. Bukan hanya sekedar mengenal, namun harus memahami pemahaman yang menyangkut latar belakang pribadi klien, kekuatan dan kelemahannya, serta kondisi lingkungannya. Materi pemahaman itu lebih lanjut dalam bidang pendidikan dapat dikelompokkan ke dalam berbagai data tentang :
a) Identitas individu/peserta didik. Yakni nama, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir, orang tua, status dalam keluarga dan tempat tinggal.
b) Pendidikan.
c) Status sosial-ekonomi.
d) Kemampuan dosen (intelegensi), bakat, minat dan hobi.
e) Kesehatan.
f) Kecenderungan sikap dan kebiasaan.
g) Cita-cita pendidikan dan pekerjaan.
h) Keadaan lingkungan tempat tinggal.
i) Kedudukan atau prestasi yang pernah dicapai.
j) Jurusan/program studi yang diikuti.
k) Mata pelajaran yang diambil, nilai-nilai yang diperoleh.
l) Kegiatan ekstrakulikuler.
m) Sikap dan kebiasaan belajar.
n) Hubungan dengan teman sebaya.
Daftar tersebut dapat diperinci lebih jauh sampai dengan peristiwa-peristiwa khusus yang pernah dialami. Perluasan, spesifikasi atau rincian materi pemahaman itu dikembangkan sesuai dengan tujuan pemahaman terhadap klien/peserta didik itu sendiri.
Pemahaman yang dimaksudkan bukan hanya pemahaman konselor atau guru terhadap diri klien atau peserta didik saja, namun pemahaman klien terhadap dirinya sendiri terutama, pemahaman orang sekitar peserta didik seperti orang tua terhadap diri peserta didik juga, karena orangtua akan lebih memungkinkan untuk memeberikan perhatian, pelayanan, perlakuan dan kemudahan-kemudahan yang lebih besar bagi perkembangan anak secara lebih terarah sesuai dengan kondisi anak tersebut. Dalam pengajaran, guru perlu memahami peserta didiknya lebih mendalam demi keberhasilan pembelajarannya. Salah satunya dengan cara menyesuaikan materi dan metode pengajarannya terhadap kondisi dan situasi kelas saat itu agar para peserta didik dapat mengikuti proses pembelajaran dnegan lebih efektif dan efisien, sehingga keberhasilan pembelajaran dapat tercapai. Fungsi pemahaman penting dipelajari oleh para guru dalam praktik pembelajaran, agar tidak terjadi kesalahan dalam pengajaran dan praktik pendidikan dan bimbingan dalam belajar
2. Pemahaman tentang masalah klien atau peserta didik
Pemahaman terhadap masalah klien atau peserta didik terutama menyangkut jenis masalahnya, intensitanya, sangkut-pautnya, sebabnya dan kemungkinan perkembangannya. Klien atau peserta didik amat perlu memahami masalah yang dialaminya, sebab dengan dapat memahami masalahnya itu ia memiliki dasar bagi upaya yang akan ditempuhnya untuk mengatasi masalah tersebut. Pemahaman masalah oleh individu sendiri adalah modal dasar bagi pemecahan masalah tersebut. Banyak individu atau peserta didik tidak memahami bahwa dirinya tersebut sedang bermasalah. Mereka menganggap masalahnya itu hanyalah ”ringan saja” atau “tidak berbahaya’, mereka mendiamkan saja maslahanya tersebut. Pada suatu ketika nanti, masalah-masalah yang tidak ditanggulangi secara dini itu akan muncul dalam bentuk ketidakimbangan atau kesuliatn lebih berlarut dengan kemungkinan resiko kerugian yang lebih besar lagi.
Bagi pesera didik yang masih banyak dipengaruhi oleh orang tua dan guru pemahaman masalah juga diperlukan oleh orangtua atau guru yang bersangkutan. Dalam dunia pendidikan contohnya, peserta didik yang tidak memahami dirinya yang bermasalah dan mengabaikannya, ia akan terhambat dalam proses belajarnya, karena suatu saat, masalah itu akan mengganggu fikirannya dan menyebabkan dirinya tidak fokus saat pembelajaran berlangsung. Untuk itu, guru dan orangtua memiliki tugas penting untuk memahami adanya permasalahan yang tengah dihadapi oleh peserta didik.
3. Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas
Lingkungan dapat diartikan sebagai kondisi disekitar kita yang secara langsung mempengaruhi individu tersebut. Salah satu lingkungan luas adalah berbagai informasi yang diperlukan oleh individu (Prayitno. 2015 : 201). Seperti bagi siswa perlu diberi informasi dan kesempatan mengetahui tentang pendidikan yang dijalannya dan juga pendidikan yang akan dijalaninya selanjutya.
Para siswa perlu memahami lingkungan sekolahnya dengan baik, baik lingkungan fisik, berbagai hak dan tanggungjawab siswa terhadap sekolah, peraturan yang harus dipatuhi, baik menyangkut kurikulum, pengajaran, penilaian, kenaikan kelas, hubungan guru dengan siswa, kesempatan-kesempatan yang diberikan sekolah dan lain sebagainya. Jadi pemahaman ini tidak sekedar memahami diri atau permasalahan yang dialami oleh peserta didik atau klien tersebut, namun unsur lingkungannya juga difahami.
Pemahaman masalah oleh individu sendiri merupakan modal dasar bagi pemecahan masalah tersebut, apabila pemahaman masalah telah tercapai, agaknya pelayanan bimbingan dan konseling telah menjalankan fungsi pemahaman dengan baik. Pemahaman masalah siswa sama bergunanya dengan pemahaman tentang individu pada umumnya oleh orang tua dan guru sebagaimana telah dijelaskan di atas, yaitu untuk kepentingan berkenaan dengan perhatian dan pelayanan orang tua terhadap anak, dan pengajaran oleh guru terhadap siswa. Para siswa perlu memahami dengan baik lingkungan sekolah, dan juga perlu diberi kesempatan untuk memahami berbagai informasi yang berguna berkenaan dengan pendidikan yang sekarang dijalaninya dengan pendidikan jenjang selanjutnya dan yang berhubungan dengan pekerjaannya di kemudian hari.
2.2 Fungsi Pencegahan
Pencegahan didefinisikan sebagai upaya mempengaruhi dengan cara yang positif dan bijaksana lingkungan yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian sebelum kesulitan atau kerugian itu benar-benar terjadi.fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan pencegahannya atau terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat menggangu, menghambat ataupun menimbulkan kesulitan kurugian-kerugian tertentu dalam proses perkembangannya.
1) Upaya pencegahan
a) Mendorong perbaikan lingkungan yang akanberdampak negative terhadap individu yangbersangkutan.
b) Mendorong perbaikan kondisi diri pribadi klien.
c) Meningkatkan kemampuan individu untuk hal-hal yang diperlukan dan mempengaruhi perkembangan serta kehidupannya.
d) Mendorong individu untuk tidak melakukan sesuatu yang akan memberikan resiko yang besar, dan melakukan sesuatuyang akan memberikan manfaat.
e) Menggalang dukungan kelompk terhadap individu yang bersangkutan.
Secara operasional konselor perlu menampilkan kegiatan dalam rangka pelaksanaan fungsi pencegahan. Kegiatannya antara lain dapat berupa program-program nyata. Secara garis besar program-program tersebut dikembangkan, disusun dan diselenggarakan melalui tahap-tahap. Program-program ini antara lain:
1. Identifikasi permasalahan yang mungkin timbul.
Misalnya para siswa yang kurang disiplin, tida belajar secara penuh, gagal menjawab soal ujian, pertengkaran antarklik, antar kelas, antar sekolah, kurang menghargai guru, siswa terlibat narkotika,siswa tidak menyukai pelajaran keterampilan dn lain sebagainya.
2. Mengidentifikasi dan menganalisis sumber-sumber penyebab timbulnya masalah-masalah.
Dalam hal ini, kajian teoritik dan studi lapangan perlu dilakukan.
3. Mengidentifikasi pihak-pihak yang dapat membantu pencegahan masalah tersebut.
Misalnya kepala sekolah, guru, wali kelas, orangtua, badan atau lembaga tertentu (sesuai dengan permaalahannya). Sangkut-paut pihak-pihak tersebut dengan permasalahan yang dimaksudkan perlu dikaji secara objektif.
4. Menyusun rencana program pencegahan.
Rencana ini disusun berdasarkan:
a) Spesifikasi permasalahan yang hendak dicegah timbulnya
b) Hasil kajian teoritik dan studi lapangan.
c) Peranan pihak-pihak terkait.
d) Faktir-faktor operasional dan pendukung, seperti waktu, tempat, biaya dan perlengkapan kerja.
5. Pelaksanaan monitoring.
Pelaksanaan program sesuai dengan rencana dengan kemungkinan modifikasi yang tidak mengganggu pencapaian tujuan dengan persetujuan pihak-pihak yang terkait.
6. Evaluasi dan laporan.
Evaluasi dilakukan secara cermat dan objektif. Laporannya diberikan kepada pihak-pihak terkait untuk dipeergunakan sebagai masukan bagi program sejenis lebih lanjut.
Kegiatan diatas merupakan kegiatan “resmi” yang biasanya dilakukan oleh lembaga tertentu. Pecegahan yang lebih sederhana dan bersifat “tidak resmi” dapat direncanakan alangsung dengna klien yang bersangkutan dan langsung diselenggarakan dalam rangka pelayanan bimbingan konseling terhadap lien atau peserta didik tersebut. Dalam hal ini, pemahman terhadap klien/peserta didik, permasalahannya, serta unsur-unsur pemahaman terhadap bimbingan yang lebih luas menjadi dasar dan sesama bagi kegiatan pencegahan yang ingin dicapai.
Fungsi pencegahan dalam pelaksanaannya bagi konselor merupakan bagian dari tugas kewajibannya yang amat penting. Dalam dunia kesehatan mental “pencegahan” didefinisikan sebagai upaya mempengaruhi dengan cara yang positif dan bijaksana, lingkungan yang dapat menimbulkan kesulitan atau kerugian itu benar-benar terjadi Lingkungan merupakan hal yang penting, karena lingkungan yang baik akan memberikan pengaruh positif terhadap individu.
Lingkungan yang mendukung harus dipelihara dan dikembangkan.Sedangkan lingkungan yang sekiranya dapat menimbulkan pengaruh yang negatif harus diubah, sehingga hal yang diperkirakan tidak dapat menjadi kenyataan. Ruang kelas yang gelap dan kotor, pekarangan sekolah yang sempit, sarana belajar yang kurang memadai, hubungan guru murid yang kurang serasi, semuanya akan menimbulkan kerugian-kerugian bagi siswa itu sendiri. Pencegahan di sini juga bisa berarti menahan atau menghindarkan dari bahaya yang akan timbul dari sesuatu yang bersifat negatif. Layanan bimbingan bisa berfungsi pencegahan, yang artinya merupakan usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah.Bentuk kegiatannya bisa berupa orientasi, bimbingan karir, inventarisasi data. Bentuk orientasi yang biasa dilakukan adalah untuk memberikan pencegahan terhadap sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya diadakan orientasi tentang bahayanya narkoba, itu dimaksudkan dengan adanya pengetahuan tentang berbagai jenis narkoba serta bahayanya bagi tubuh kita apabila dikonsumsi, maka akan mencegah pemakaian narkoba di kalangan pelajar.
Dengan adanya pengarahan dari tenaga BK di sekolahan para siswa akan lebih terarah dalam setiap tindakan, sehingga akan mencegah dari kerusakan dan bentuk gangguan dalam proses belajar mengajar. Dengan adanya fungsi pencegahan yang baik, maka perkembangan potensi akan menjadi lebih baik. Peningkatan kemampuan khusus individu diperlukan untuk memperkuat perkembangan dan kehidupannya.Ketrampilan pemecahan masalah, ketrampilan belajar dengan berbagai aspeknya, ketrampilan berkomunikasi dan hubungan sosial, pengaturan pemasukan pengeluaran uang merupakan beberapa contoh kemampuan yang perlu ditingkatkan pada individu.
2.3 Fungsi Pengentasan
Fungsi pengentasan adalah Istilah fungsi pengentasan ini dipakai sebagai pengganti istilah fungsi kuratif atau fungsi terapeutik dengan arti pengobatan atau penyembuhan. Tidak dipakainya istilah tersebut karena istilah itu berorientasi bahwa peserta didik adalah orang yang “sakit” serta untuk mengganti istilah “fungsi perbaikan” yang berkonotasi bahwa peserta didik yang dibimbing adalah orang “tidak baik atau rusak”.
Melalui fungsi pelayanan ini akan menghasilkan terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dihadapi oleh peserta didik. Pelayanan bimbingan dan konseling berusaha membantu pemecahan masalah-masalah yang dihadapi oleh peserta didik, baik dalam sifatnya, jenisnya maupun bentuknya.Pelayanan dan pendekatan yang dipakai dalam pemberian bantuan ini dapat bersifat konseling perorangan ataupun konseling kelompok.
Fungsi pengentasan berarti juga fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan teratasinya berbagai permasalahan yang dialami peserta didik. Jika fungsi pencegahan dan pemahaman sudah dilaksanakan, namun siswa yang bersangkutan masih mengalami masalah-masalah tertentu. Disinilah fungsi pengentasan dan layanan bimbingan dan konseling berusaha untuk memecahkan masala-masalah yang dihadapi siswa. Bantuan yang diberikan disesuaikan dengan masalah yang dihadapi, baik dalam bentuk jenisnya, sifatnya maupun bentuknya. Pendekatan yang dipakai dalam pemberian bantuan itu dapat bersifat perorangan atau kelompok, langsung berhadapan dengan siswa yang bersangkutan, melalui perantara orang lain misalnya orang tua, ataupun melalui pengubahan lingkungan.
Jadi, dalam pelaksanaan fungsi pengentasan bimbingan dan konseling menganggap bahwa orang yang mengalami masalah itu berada dalam keadaan yang tidak mengenakkan, sehingga harus diangkat dan dientaskan dari keadaan tersebut.
1. Langkah-langkah pengentasan masalah
Upaya pengentasan masalah pada dasarnya dilakukan secara perorangan, sebab setiap masalah individu adalah unik. Dengan demikian penanganannya pun harus unik disesuaikan terhadap kondisi masing-masing masalah.
2. Pengentasan masalah berdasarkan diagnosis
Istilah medis “Diagnosis” berarti proses penentuan jenis penyakit dengan meneliti gejala-gejalanya. Pengertian diagnosis menurut Bordin dikenal sebagai “diagnosis pengklasifikasian”. Dalam upaya diagnosis itu masalah-masalah diklasifikasi, dilihat sebab-sebabnya, dan dilihat cara pengentasannya.
Pengklasifikasian masalah diatas itu dirasakan sulit, karena unsur-unsur masalah yang satu saling terkait satu sama lain, dan lebih penting lagi setiap masalah klien adalah unik. Pengklasifikasian masalah cenderung menyamaratakan masalah klien yang satu dengan yang lainnya. Perkembangan lebih lanjut model diagnosis yang dapat diterima dalam pelayanan bimbingan dan konseling adalah model diagnosis pemahaman, yaitu yang mengupayakan pemahaman terhadap seluk beluk masalah klien, termasuk di dalamnya perkembangan dan sebab-sebab timbulnya masalah. Ada tiga dimensi diagnosis, yaitu :
a) Diagnosis mental/psikologis
Mengarah kepada pemahaman kondisi mental/psikologis klien, seperti: kemampuan-kemampuan dasarnya, bakat dan kecenderungan minat-minatnya, keinginan dan harapan-harapannyasikap dan kebiasaan, tempramen dan kematangan emosionalnya
b) Diagnosis sosio-emosianal
Mengacu pada hubungan klien dengan orang-orang yang amat besar pengaruhnya terhadap klien, seperti: orag tua, guru, teman sebaya, suami/istri, mertua, pejabat yang menjadi atasan langsung, suasana hubungan antar klien dengan orang-orang ”penting” itu, serta dengan lingkungan sosial pada umumnya.
c) Diagnosis instrumental
Berkenaan dengan kondisi/prasyarat yang diperlukan terlebih dahulumsebelum individu mampu melakukan atau mencapai sesuatu. Diagnosis instrumental meliputi aspek-aspek : fisik klien (misal;kesehatan), fisik lingkungan (misal;keadaan sandang, pangan, papan), sarana,kegiatan (misal;buku-buku pelajaran, alat-alat kantor), dan pemahaman situasi(misal;untuk bertindak lebih disiplin).
3. Pengentasan masalah berdasarkan teori konseling
Beberapa teori konseling :Ego-counseling menurut Erickson yang didasarkan pada tahap perkembangan psikososial, behavioristik oleh B.F Skinner yang didasarkan pada pemikiran tingkah laku. Tujuan teori-teori tersebut tidak lain adalah mengentaskan masalah yang diderits oleh klien dengan cara yang paling cepat, cermat, dan tepat. Untuk semuanya itu konselor dituntut menguasai dengan sebaik-baiknya teori dan praktek bimbingan dan konseling.
2.4 Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan
Fungsi ini berarti bahwa layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan dapat membantu para siswa dalam memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan berkelanjutan. Dalam fungsi ini hal-hal yang dipandang positif agar tetap baik dan mantap. Dengan demikian, siswa dapat memelihara dan mengembangkan berbagai potensi dan kondisi yang positif dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan.Pada fungsi Pemeliharaan yaitu fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.
Pada fungsi pengembangan ini bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya. Konselor senantiasa berupaya untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, yang memfasilitasi perkembangan konseli. Konselor dan personel Sekolah/Madrasah lainnya secara sinergi sebagai teamwork berkolaborasi atau bekerjasama merencanakan dan melaksanakan program bimbingan secara sistematis dan berkesinambungan dalam upaya membantu konseli mencapai tugas-tugas perkembangannya. Teknik bimbingan yang dapat digunakan disini adalah pelayanan informasi, tutorial, diskusi kelompok atau curah pendapat (brain storming),home room, dan karyawisata.
Fungsi pemeliharaan berarti memelihara segala sesuatu yang baik yang ada pada diri individu, baik hal itu merupakan pembawaan maupun hasil-hasil perkembangan yang telah dicapai selama ini. Intelegensi yang tinggi, bakat yang istimewa, minat yang menonjol untuk hal-hal yang positif dan produktif, sikap dan kebiasaan yang telah terbina dalam bertindak dan bertingkah laku sehari-hari, cita-cita yang tinggi dan cukup realistic, kesehatan dan kebugaran jasmani, hubungan sosial yang harmonis dan dinamis, dan berbagai aspek positif lainnya dari individu perlu dipertahankan dan dipelihara. Pemeliharaan yang baik bukanlah sekedar mempertahankan agar hal-hal yang dimaksudkan tetap utuh, tidak rusak dan tetap dalam keadaan semula, melainkan juga mengusahakan agar bertambah baik, kalau dapat lebih indah, lebih menyenangkan, memiliki nilai tambah dari pada waktu-waktu sebelumnya. Pemeliharaan yang demikian itu adalah pemeliharan yang membangun, pemeliharaan yang memperkembangkan. Oleh karena itu, fungsi pemeliharaan dan fungsi pengembangan tidak dapat dipisahkan.
Dalam pelayanan bimbingan dan konseling, fungsi pemeliharaan dan pengembangan dilaksanakan melalui berbagai pengetahuan, kegiatan dan program. Misalnya disekolah, bentuk dan ukuran meja/kursi murid disesuaikan dengan ukuran tubuh serta sikap tubuh yang diharapkan. Ventilasi, suhu, bentuk dan susunan ruang kelas diusahakan agar mereka berada diruang itu merasa nyaman, betah dapat melakukan kegiatan dengan tenang dan sepenuhnya kemampuan. Pengaturan, kegiatan dan program-program lain yang mengacu kepada fungsi bimbingan dan konselingtersebut dapat disusun dan kembangkan dalam jenis dan jumlah yang bervariasi dengan kemungkinan yang tidak terbatas.
Bimbingan dan konseling dapat berfungsi pemeliharaan dan pengembangan, artinya layanan yang diberikan dapat membantu para siswa dalam mengembangkan keseluruhan pribadinya secara lebih terarah dan mantap, terpelihara dan terkembangankannya berbagai potensi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara mantap dan berkelanjutan. Dalam fungsi ini hal-hal yang dipandang sudah bersifat positif dijaga agar tetap baik dan dimantapkan. Dengan demikian diharapkan agar siswa dapat mencapai perkembangan kepribadian secara optimal.
2.5 Fungsi Advokasi
Fungsi advokasi yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akan menghasilkan teradvokasi atau pembelaan terhadap peserta didik dalam rangka upaya pengembangan seluruh potensi secara optimal. Fungsi-fungsi tersebut diwujudkan melalui diselenggarakannya berbagai jenis ayanan dan kegiatan bimbingan dan di dalam masing-masing fungsi tersebut. Setiap layanan dan kegiatan bimbingan konseling yang dilaksanakan harus secara langsung mengacu kepada satu atau lebih fungsi-fungsi tersebut agar hasil-hasil yang hendak dicapainya jelas dapat diidentifikasi dan dievaluasi.
Fungsi advokasi memberikan pembelaan kepada konseli atau sekelompok konseli agar konseli mendapakan semangat dan bangkit daam sebuah harapan sehingga permasalahan yang terjadi tidak menjadikan konseli terpuruk danakan mendapatkan masalahyang baru. Bentuk pembelaan bukan berarti membenarkan apa yang dilakukannya itu benar tetapi memberikan pemahaman/pengarahan terhadap permasalahan yang dihadapi oleh konseli, sebagai guru yang melayani setiap permasalahan yang dihadapi oleh konseli harus memberikan pembelaan agar mendapatkan kenyamanan itu maka dengan mudah menyelesaikan masalah yang ada
Secara keseluruhan, jika semua fungsi-fungsi itu telah terlaksana dengan baik, dapatlah bahwa peserta didik akan mampu berkembang secara optimal pula. Keterpaduan semua fungsi tersebut akan sangat membantu perkembangan peserta didik secara terpada pula.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Fungsi pemahaman yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akanmenghasilkan pemahaman tentang sesuatu oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan kepentingan pengembangan peserta didik.
2) Fungsi pencegahan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akanmenghasilkan tercegahnya dan terhindarnya peserta didik dari berbagai permasalahan yang mungkin timbul yang akan dapat mengganggu, menghambat, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian tertentu dalam proses perkembangannya.
3) Fungsi penuntasan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang akanmenghasilkan teratasinya berbagai permasalahan yang dialami oleh pesertadidik.
4) Fungsi pemeliharaan dan pengembangan yaitu fungsi bimbingan dankonseling yang akan menghasilkan terpeliharanya dan terkembangkannyaberbagai potensi dan kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangandirinya secara mantap dan berkelanjutan.
5) Fungsi advokasi yaitu fungsi bimbingan dan konseling yangakan menghasilkan teradvokasi atau pembelaan terhadap peserta didik dalamrangka upaya pengembangan seluruh potensi secara optimal
3.2 Saran
Bimbingan dan konseling sangat penting untuk membantu siswa agar siswa mampu menghadapi dan memecahkan masalah yang dihadapi sehingga dapat mencapai tujuan belajar dan tujuan hidup yang dicita-citakan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin M.1996.Teori-Teori Konseliang Umum dan Agama.Jakarta:PT Golden Terayon Press
Dewa Ketut Sukardi.1988.Bimbingan dan Konseling.Jakarta:Bina Aksara
Mcleod John.2006.Pengantar Konseling Teori Studi Kasus.Jakarta:Kencana Prenada Media
Prayitno, Erman Amti.2004.Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling.Jakarta:Rineka Cipta
Yusuf, Syamsu. 2010. Landasan bimbimngan dan konseling.Bandung:PT remaja Rosdakarya
Langganan:
Komentar (Atom)