Minggu, 22 September 2024
makalah jenis jenis layanan BK
MAKALAH BIMBINGAN KONSELING
“Jenis- jenis Layanan Bimbingan Konseling”
DOSEN PEMBIMBING
Freddy Sarman, S.Pd,. M.Pd
NAMA KELOMPOK VII :
1. Eyuski Inanda Sari (RRA1B215038)
2. Nadya Putri (A1C316031)
3. Novita Apriliani (A1C315023)
4. Unduk Natalia Tambunan (A1C316028)
Program Studi Pendidikan Fisika
Jurusan Pendidikan Matematika Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jambi
2017
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami hantarkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas berupa makalah ini pada tanggal yang telah ditentukan. Adapun maksud dan tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk dapat melengkapi atau menyusun segala bentuk materi atau pokok pembahasan yang didapat dari berbagai sumber pustaka serta sumber-sumber lainnya yang menyangkut persoalan atau materi yang kami bahas yaitu mengenai “Jenis-jenis Layanan Bimbingan Konseling”.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam membuat makalah ini. Satu harapan yang kami inginkan semoga makalah ini dapat berguna bagi pembaca dan diri kami sendiri.
Selain itu kami merasa makalah ini masih kurang dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi kesempurnaan bagi makalah ini. Akhir kata, penulis ucapkan terima kasih.
Jambi, April 2018
Tim Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secaraaktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritualkeagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, sertaketerampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.Lebih lanjut, mengenai fungsi pendidikan dinyatakan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan dua batasan di atas, maka pendidikan di Indonesia ini tidak hanya memprioritaskan perkembangan aspek kognitif atau pengetahuan peserta didik, namun juga tetapi perkembangan individu sebagai pribadi yang unik secara utuh.
Oleh karena setiap satuan pendidikan harus memberikan layanan yang dapat memfasilitasi perkembangan pribadi siswa secara optimal berupa bimbingan dan konseling. Pemahaman mengenai apa dan bagaimana layanan bimbingan disekolah mutlak diperlukan oleh pengawas. Hal ini merupakan bagian darikompetensi supervisi manajerial yang harus dilakukannya terhadap setiap sekolahyang berada dalam lingkup binaannya. Pendidikan sebagai salah satu bentuk lingkungan bertanggung jawab dalam memberikan asuhan terhadap proses perkembangan individu. Bimbingan dan konseling akan merupakan bantuan individu di dalam memperoleh penyesuaian diri sesuai dengan tingkat perkembangannya. Dalam konsepsi tentang tugas perkembangan (developmental task) dikatakan bahwa setiap periode tertentu terdapat sejumlah tugas-tugas perkembangan yang harus diselesaikan.
Perkembangan bimbingan dan konseling di Indonesia tidak terlepas dari perkembangan di negara asalnya yaitu Amerika Serikat. Bermula dari banyaknya pakar pendidikan yang menamatkan studinya di negeri Paman Sam itu kembali ke Indonesia dengan membawa konsep-konsep bimbingan dan konseling yang baru. Hal itu terjadi sekitar tahun 60-an. Tidak dapat dibantah bahwa pakar pendidikan itu telah menggunakan dasar-dasar pemikiran yang diambil dari pustakaan Amerika Serikat. Khususnya mengenai pandangan mengenai anak didik yaitu bahwa anak didik mempunyai potensi untuk berkembang karena itu pendidikan memberikan situasi kondusif bagi perkembangan potensi tersebut cara optimal.
Suatu kegiatan bimbingan dan konseling disebut layanan apabila kegiatan tersebut dilakukan melalui kontak langsung dengan sasaran layanan (klien), dan secara langsung berkenaan dengan permasalahan ataupun kepentingan tertentu yang dirasakan oleh sasaran layanan itu.
Jenis-jenis layanan pada dasarnya merupakan operasionalisasi dari konsep bimbingan dan konseling dalam rangka memenuhi berbagai asas, prinsip, fungsi dan tujuan bimbingan dan konseling. Dalam perspektif kebijakan pendidikan nasional saat ini terdapat tujuh jenis layanan. Namun sangat mungkin ke depannya akan semakin berkembang, baik dalam jenis layanan maupun kegiatan pendukung. Para ahli bimbingan di Indonesia saat ini sudah mulai meluncurkan dua jenis layanan baru yaitu layanan konsultasi dan layanan mediasi. Namun, kedua jenis layanan ini belum dijadikan sebagai kebijakan formal dalam sistem pendidikan disekolah. Berbagai jenis layanan tersebut perlu dilakukan sebagai wujud nyata penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sasaran layanan, yaitu peserta didik (klien).
1.2 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui definisi layanan bimbingan dan konseling
2. Mengetahui tujuan layanan bimbingan dan konseling
3. Memahami jenis-jenis layanan bimbingan dan konseling
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Layanan Bimbingan dan Konseling
Para ahli mendefinisikan layanan bimbingan itu dengan cara yang bervariasi, namun selalu menunjukkan kepada hakikat, tujuan, dan prosedur yangserupa, yang secara ringkasnya dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Layanan bimbingan (guidance services) merupakan bantuan yang diberikan kepada individu
2. Layanan bimbingan bertujuan agar yang bersangkutan dapat mencapai taraf perkembangan dan kebahagian secara optimal
3. Dengan layanan bimbingan, kita dapat menjalani proses pengenalan, pemahaman, penerimaan, pengarahan, perwujudan,serta penyesuaian diri, baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Layanan bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang diberikan kepada siswa secara terus menerus agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, sehingga siswa sanggup mengarahkan dirinya sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Dengan adanya bimbingan dan konseling diharapkan dapat memberikan solus ibagi peserta didik di sekolah. Agar peserta didik menjadi lebih baik dari segi perilakunya.
Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di Indonesia dalam upaya membantu siswa agar mencapaiperkembangan yang optimal, sesuai dengan potensinya. Oleh karena itu,pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tanggung jawab bersama antara personel sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, konselor, dan pengawas.
2.2 Tujuan Layanan Bimbingan dan Konseling
Berikut ini beberapa tujuan layanan bimbingan konseling :
1. Untuk mengenal diri sendiri dan lingkungannya.
Dengan mengenal diri sendiri dan lingkungannya, diharapkan siswa dapat melihat hubungan dan kemungkinan yang tersedia serta memperkirakan apa yang dapat mereka capai sesuai dengan diri mereka sendiri. Dengan kata lain mereka mampu untuk mengenal kelebihan dan kekurangan mereka.
2. Untuk dapat menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan dinamis.
Maksudnya mereka dapat menerima keterbatasan yang mereka miliki, dengan mengenal keterbatasan diharapkan mereka mampu menerima apa yang ada atau apa adanya yang terdapat pada diri mereka secara positif dan dinamis.
3. Untuk dapat mengambil keputusan sendiri tentang berbagai hal.
Kenyataan menunjukan bahwa seseorang yang dapat menentukan sendiri dari suatu hal tanpa dipaksa oleh pihak lain, akan memberikan kepuasan tersendiri bagi dirinya sendiri.
4. Untuk dapat mengarahkan diri sendiri.
Sejalan dengan tujuan sebelumnya, bimbingan dan konseling menginginkan agar pada akhirnya siswa mampu mengarahkan diri mereka sendiri yang di dasarkan pada keputusan yang mereka ambil sesuai dengan apa yang ada pada diri mereka.
5. Untuk dapat mewujudkan diri sendiri.
Dengan pengenalan diri dan lingkungan, mengambil keputusan sendiri, dan dengan mengarahkan diri sendiri, akirnya di harapkan siswa dapat mewujudkan dirinya sendiri.
2.3 Jenis-jenis Layanan Bimbingan dan Konseling
Suatu kegiatan bimbingan dan konseling disebut layanan apabila kegiatan tersebut dilakukan melalui kontak langsung dengan sasaran layanan (klien), dan secara langsung berkenaan dengan permasalahan ataupun kepentingan tertentu yang dirasakan oleh sasaran layanan itu. Kegiatan yang merupakan layanan itu mengemban fungsi tertentu dan pemenuhan fungsi tersebut serta dampak positif layanan yang dimaksudkan diharapkan dapat secara langsung dirasakan oleh sasaran (klien) yang mendapatkan layanan tersebut.
Berbagai jenis layanan perlu dilakukan sebagai wujud nyata penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sasaran layanan, yaitu peserta didik (klien). Disini kami akan membahas sejumlah layanan dalam bimbingan dan konseling yang ada disekolah diantaranya yaitu:
2.3.1 Layanan Orientasi
Layanan orientasi merupakan layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memahami lingkungan yang baru dimasuki peserta didik, untuk mempermudah dan memperlancar berperannya peserta didik di lingkungan yang baru itu. Pemberian layanan ini bertolak dari anggapan bahwa memasuki lingkungan baru bukanlah hal yang selalu dapat berlangsung dengan mudah dan menyenangkan bagi setiap orang.[1]
Sedangkan menurut Prayitno (2004) orientasi berarti tatapan ke depan kearah dan tentang sesuatu yang baru. Berdasarkan arti ini, layanan orientasi bisa bermakna suatu layanan terhadap siswa baik di sekolah maupun di madrasah yang berkenaan dengan tatapan ke depan ke arah dan tentang sesuatu yang baru.
Situasi atau lingkungan yang baru bagi individu merupakan sesuatu yang “asing”. Dalam kondisi keterasingan, individu akan mengalami kesulitan untuk bersosialisasi. Dalam hal ini layanan orientasi berusaha menjembatani kesenjangan antara individu dengan suasana ataupun objek-objek baru. Layanan ini juga akan mengantarkan individu (siswa) memasuki suasana ataupun objek baru agar ia dapat mengambil manfaat berkenaan dengan situasi atau objek yang baru tersebut.[2]
1. Tujuan dan Fungsi Layanan Orientasi
Layanan ini ditujukan untuk siswa baru dan untuk pihak-pihak lain (terutama orang tua siswa) guna memberikan pemahaman dan penyesuaian diri (terutama penyesuaian siswa) terhadap lingkungan sekolah yang baru dimasukinya.[3] Selain itu Layanan orientasi
bertujuan untuk membantu individu agar mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan atau situasi yang baru.
Secara khusus tujuan layanan orientasi berkenaan dengan fungsi-fungsi tertentu dalam layanan bimbingan dan konseling. Dilihat Dari Fungsi Pemahaman, layanan orientasi bertujuan untuk membantu individu agar memiliki pemahaman tentang berbagai hal yang penting dari suasana yang baru saja dijumpainya. Dilihat dari Fungsi Pencegahan, layanan orientasi bertujuan untuk membantu individu agar terhindar dari hal-hal negatif yang dapat timbul apabila individu tidak memahami situasi atau lingkungannya yang baru. Sedangkan dilihat dari Fungsi Pengembangan, apabila individu mampu menyesuaikan diri secara baik dan mampu memanfaatkan secara konstruktif sumber-sumber yang ada pada situasi yang baru, maka individu akan dapat mengembangkan dan memelihara potensi dirinya.
Hasil yang diharapkan dari layanan orientasi adalah dipermudahnya penyesuaian diri siswa terhadap pola kehidupan sosial, kegiatan belajar, dan kegiatan lain yang mendukung keberhasilan siswa. Demikian juga orang tua siswa, dengan memahami kondisi, situasi, dan tuntutan sekolah anaknya akan dapat memberikan dukungan yang diperlukan bagi keberhasilan belajar anaknya itu.
2. Materi Umum Layanan Orientasi
Untuk lingkungan sekolah, materi layanan orientasi mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Pengenalan lingkungan dan fasilitas sekolah
b. Peraturan dan hak-hak serta kewajiban siswa
c. Organisasi dan wadah-wadah yang dapat membantu dan meningkatkan hubungan sosial siswa
d. Peranan kegiatan bimbingan karier
e. Penyelenggaraan pengajaran
f. Kurikulum yang ada
g. Staf pengajar dan tata usaha
h. Peranan layanan bimbingan dan konseling dalam membantu segala jenis masalah dan kesulitan siswa.
2.3.2 Layanan Informasi
Layanan informasi yaitu layanan Bimbingan dan Konseling yang memungkinkan peserta didik (klien) menerima dan memahami berbagai informasi (seperti informasi pendidikan dan informasi jabatan) yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dan pengambilan keputusan untuk kepentingan peserta didik (klien). Klien tidak hanya peserta didik tetapi bisa juga orang tua atau wali.
Ada tiga alasan utama mengapa pemberian informasi perlu diselenggarakan yaitu:
1. Membekali individu dengan berbagai pengetahuan tentang lingkungan yang diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi berkenaan dengan lingkungan sekitar, pendidikan, jabatan, maupun sosial budaya.
2. Memungkinkan individu dapat menentukan arah hidupnya
3. Setiap individu adalah unik
Adapun tujuan dari layanan informasi adalah untuk membekali individu dengan berbagai pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai hal yang berguna untuk mengenal diri, merencanakan, dan mengembangkan pola kehidupan sebagai pelajar, anggota keluarga dan masyarakat. Pemahaman yang diperoleh melalui layanan informasi, digunakan sebagai bahan acuan dalam meningkatkan kegiatan dan prestasi belajar, mengembangkan cita-cita, menyelenggarakan kehidupan sehari-hari, dan dalam mengambil keputusan.
Materi yang dapat yang diangkat melalui layanan informasi ada berbagai macam, yaitu meliputi :
1. Bidang Pengembangan Pribadi
Suatu kegiatan pemberian informasi tentang tugas-tugas perkembangan yang berkaitan dengan kemampuan dan perkembangan pribadi individu ( peserta didik). Perkembangan pribadi berupa sikap belajar disekolah. Seperti kepatuhan terhadap tata tertib disekolah mulai dari seragam, masuk kelas, kebersihan kelas, dll.
Meliputi kegiatan pemberian informasi tentang:
a. Tugas-tugas perkembangan tentang kemampuan dan perkembangan pribadi
b. Perlunya pengembangan kebiasaan dan sikap dalam keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan YME
c. Usaha yang dapat dilakukan dalam mengenal bakat, bakat, minat serta bentuk-bentuk penyaluran dan pengembangannya
d. Perlunya hidup sehat dan upaya pelaksanaan
e. Usaha yang dapat dilakukan melalui Bimbingan dan Konseling dalam membantu peserta didik dalam menghadapi masa peralihan dari masa remaja awal kemasa remaja yang penuh tantangan.
2. Bidang Pengembangan Sosial
Suatu layanan yang diberikan kepada individu dengan tujuan pemantapan kemampuan, bertingkah laku dan berhubungan sosial.
Layanan informasi dalam bidang bimbingan sosial, meliputi :
a. Tugas perkembangan masa remaja tentang pengembangan hubungan sosial
b. Cara bertingkah laku, sopan santun
c. Tata krama pergaulan dengan teman sebaya
d. Suasana dan tata krama kehidupan dalam berkeluarga
e. Hak dan kewajiban warga negara
f. Pengenalan dan manfaat lingkungan yang lebih luas.
3. Bidang Pengembangan Kegiatan Belajar
Suatu layanan info yang diberikan untuk pemantapan sikap, dan kebiasaan belajar yang efektif dan efisien serta produktif, baik dalam mencari informasi dari berbagai sumber belajar, bersikap terhadap guru, mengembangkan keterampilan belajar, mengerjakan tugas-tugas pelajaran dan menjalani program penilaian hasil belajar.
Pengembangan kegiatan belajar meliputi:
a. Tugas-tugas perkembangan masa remaja berkenaan dengan pengembangan diri,keterampilan,ilmu pengetahuan,teknologi dan kesenian.
b. Perlunya pengembangan sikap dan kebiasaan belajar yang baik,aktif dan terprogram,baik belajar mandiri maupun kelompok.
c. Cara belajar diperpustakaan,meringkas buku,membuat catatan dan mengulang pelajaran
d. Kemungkinan timbulnya berbagai masalah belajar dan upaya pengetasannya
e. Pengajaran perbaikan dan pengayaan
4. Bidang Persiapan Karir
Suatu layanan pemantapan informasi karir pada peserta didik untuk mempersiapkan diri dalam merencakan, dan memilih karir yang sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan yang dimiliki individu. Layanan informasi marupakan salah satu jenis layanan dalam bimbingan konseling di sekolah yang amat penting guna membantu siswa agar dapat terhindar dari berbagai masalah yang dapat mengganggu terhadap pencapaian perkembangan siswa, baik yang berhubungan dengan diri pribadi, sosial, belajar ataupun kariernya., Melalui layanan informasi diharapkan para siswa dapat menerima dan memahami berbagai informasi, yang dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk kepentingan siswa itu sendiri.
Kesulitan-kesulitan untuk mengambil keputusan karier akan dapat dihindari manakala siswa memiliki sejumlah informasi yang memadai tentang hal-hal yang berhubungan dengan dunia kariernya. Untuk itulah, mereka seyogyanya dapat dibimbing guna memperoleh pemahaman yang memadai tentang berbagai kondisi dan karakteristik dirinya, baik tentang bakat, minat, cita-cita, berbagai kekuatan serta kelemahan yang ada dalam dirinya. Dalam hal ini, tentunya tidak cukup hanya sekedar memahami diri. Namun juga harus disertai dengan pemahaman akan kondisi yang ada dilingkungannya, seperti kondisi sosio-kultural, pasar kerja, persyaratan, jenis dan prospek pekerjaan, serta hal-hal lainnya yang bertautan dengan dunia kerja. Sehingga pada gilirannya siswa dapat mengambil keputusan yang terbaik tentang kepastian rencana karier yang akan ditempuhnya kelak.
Ada dua hal yang harus diperhatikan dalam pemberian layanan informasi, yaitu:
a. Materi layanan informasi
Materi informasi yang diberikan kepada siswa hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan dan permasalahan siswa, sehingga benar-benar dapat dirasakan lebih bermanfaat dan memiliki makna (meaningful). Pemilihan dan penetuan jenis materi informasi yang tidak didasarkan kepada kebutuhan dan masalah siswa akan cenderung tidak memiliki daya tarik, sehingga siswa akan menjadi kurang partisipatif dan kooperatif dalam mengikuti kegiatan layanan. Materi informasi yang lengkap dan akurat akan sangat membantu siswa untuk lebih tepat dalam mempertimbangkan dan memutuskan pilihan kariernya.
Beberapa jenis materi informasi tentang karier yang mungkin dibutuhkan siswa, diantaranya:
a. Tugas perkembangan masa remaja tentang kemampuan dan perkembangan karier.
b. Perkembangan dan prospek karier di masyarakat
c. Kursus-kursus dalam rangka pengembangan karier.
d. Langkah-langkah dalam memasuki pekerjaan, jenis pekerjaan, ciri-ciri pekerjaan.
e. Syarat-syarat pekerjaan yang dapat dimasuki setelah tamat SMA.
f. Kemungkinan permasalahan dalam pilihan pekerjaan, karier, dan tuntutan pendidikan yang lebih tinggi, dan sebagainya.
b. Teknik Layanan Informasi
Disamping konselor dituntut untuk banyak memahami berbagai informasi yang akan dibutuhkansiswa, juga seyogyanya dapat menguasai berbagai teknik penyampaiannya secara variatif dan menyenangkan. Tanpa didukung kekayaan informasi dan keterampilan penyampaian, layanan informasi dikhawatirkan menjadi tidak memiliki daya tarik di hadapan siswa.
Penyampaian informasi bisa dilakukan oleh konselor itu sendiri melalui teknik ekspositorik. Selain itu, dapat juga dilakukan dengan cara meminta bantuan dari pihak lain sebagai nara sumber, misalkan dengan mengundang “tokoh karier”. Upaya pemanfatan nara sumber memiliki keunggulan tersendiri, yakni informasi yang diberikan cenderung bersifat nyata, berdasarkan hasil pengalamannya.
2.3.3. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan penempatan dan penyaluran yaitu layanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat (misalnya penempatan dan penyaluran di dalam kelas, kelompok belajar, jurusan atau program studi, program latihan, magang, kegiatan kurikuler atau ekstra kurikuler) sesuai dengan potensi, bakat dan minat, serta kondisi pribadinya.[6]Sedangkan menurut Winkel, 1991 dalam buku bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah mengatakan bahwa layanan penempatan adalah usaha-usaha membantu siswa merencanakan masa depannya selama masih di sekolah dan madrasah dan sesudah tamat, memilih program studi lanjutan sebagai persiapan untuk kelak memangku jabatan tertentu.
Individu dalam proses perkembangannya sering dihadapkan pada kondisi yang satu sisi serasi atau (kondusif) mendukung perkembangannya dan disisi lain kurang serasi atau kurang mendukung (mismatch). Kondisi mismatch berpotensi menimbulkan masalah pada individu (siswa). Oleh sebab itu, layanan penempatan dan penyaluran diupayakan untuk membantu individu yang mengalami mismatch. Layanan ini berusaha meminimalisasi kondisi mismatch yang terjadi pada individu sehingga individu dapat mengembangkan potensi dirinya secara optimal. Di tempat yang cocok dan serasi serta kondusif diharapkan individu dapat mengembangkan diri secara optimal. Layanan penempatan dan penyaluran ini mempunyai kedudukan yang penting dalam pendidikan sebagai fungsi pencegahan dan pemeliharaan.Layanan Penempatan dan Penyaluran bermanfaat untuk Membantu siswa agar mampu menempatkan, menyalurkan dan merealisasikan dirinya pada keadaan posisi yang tepat. Menyalurkan segala kemampuan, bakat dan minat yang dimiliki siswa sehingga siswa dapat berkembang secara optimal dan memperoleh kepuasaan. Memberikan kemudahan bagi guru dalam pengelolaan kelas dan program pengajaran. Layanan penempatan dan penyaluran harus dilaksanakan secara obyektif dan rasional oleh karena itu perlu kegiatan pendukung berupa aplikasi instrumen dan pengumpulan data.
Adapun bentuk-bentuk layanan Penempatan dan Penyaluran adalah sebagai berikut:
1. Penempatan Dalam Kelas
Layanan penempatan di dalam kelas itu merupakan jenis layanan yang paling sederhana dan mudah dibandingkan dengan penempatan dan penyaluran yang lainnya. Namun demikian, penyelenggaraannya tidak boleh diabaikan. Penempatan siswa di dalam kelas adalah menempatkan siswa ke dalam kelas yang sesuai dengan dirinya. Bentuk penempatan dalam kelas dapat berupa menempatkan siswa berdasarkan kemampuan akademis, menempatkan siswa dalam kelompok belajar, menempatkan siswa dalam kelompok tugas, dan menempatkan siswa dalam posisi tempat duduk. Menurut Purwoko (2008: 60) keuntungan penempatan dalam kelas adalah sebagai berikut: Bagi siswa, penempatan kelas yang tepat memberikan penyesuaian dan pemeliharaan terhadap kondisi diri siswa baik fisik, mental, maupun sosial. Bagi guru, penempatan kelas yang tepat memungkinkan pengelolaan kelas yang kondusif yang akan mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Dengan penempatan tempat duduk yang sesuai dengan kondisi siswa, maka kemungkinan terjadinya hambatan-hamabatan dalam pelaksanaan pembelajaran dikelas dapat lebih diminimalisir.
2. Kelompok Belajar
Bagaimana agar siswa yang kurang pintar juga dapat mengikuti proses belajar dengan baik. Pembentukan kelompok belajar ini mempunyai dua tujuan pokok. Pertama, untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk maju sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Kedua, untuk wadah belajar bersama.Dalam penempatan kelompok belajar ini guru BK harus mengetahui mana saja siswa yang memiliki prestasi yang baik, maupun siswa yang kurang berprestasi. Jika sudah diketahui maka tugas guru BK selanjutnya adalah membagi semua siswa dalam beberapa kelompok belajar yang terdiri dari siswa yang memiliki kemampuan yang tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan yang rendah. Agar semua siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik, konselor harus mengarahkan kepada siswa yang berkemampuan baik agar menjadi tutor atau pembimbing teman-temannya yang memiliki kemampuan kurang.
3. Penempatan dan Penyaluran Dalam Kegiatan Ekstakurikuler
Penyaluran siswa kedalam kegiatan kokurikuler atau pun ekstrakurikuler secara tepat dan benar akan sangat membantu dalam menunjang ketercapaian kegiatan intrakurikuler. Selain itu, penempatan yang tepat akan membantu siswa dalam pengembangan bakat dan minatnya. Siswa yang mempunyai bakat dan minat bisa menyalurkannya pada kegiatan ekstrakurikuler. Prosedur dari pelaksanaan dari penempatan pada kegiatan ekstrakurikuler ini adalah Melancarkan angket pilihan
kegiatan ekstra kurikuler. Menganalisis angket tersebut Melaksanakan penempatan sesuai dengan kegiatan ekstrakurikuler yang diinginkan. Kegiatan ini mengikuti prosedur berikut: Mempelajari catatan kumulatif dan melancarkan angket pemilihan program atau jurusan. Menganalisis angket yang sudah di lancarkan. Menyediakan informasi yang mungkin diperlukan oleh siswa, membantu memecahkan masalah yang mungkin timbul sehubungan dengan pemilihan program siswa.
4. Penempatan dan Penyaluran Jurusan yang Tepat Untuk Siswa
Setiap siswa di hadapkan pada pemilihan program studi seperti penjurusan IPA, IPS, Bahasa bagi mereka yang duduk di bangku SMA. Atau penjurusan untuk anak SMK. Terkadang, dari banyaknya jurusan yang ditawarkan sekolah membuat siswa kesulitan untuk memilih jurusan yang sekiranya cocok bagi dirinya. Maka dari itu, merupakan tugas guru pembimbing untuk memberikan bantuan kepada siswa. Pemberian bantuan itu harus diawali dengan menyajikan informasi pendidikan dan jabatan yang cukup luas. Informasi tersebut hendaknya dapat mengarahkan siswa untuk memahami tujuan, isi (kurikulum), sifat, kesempatan-kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan kesempatan kerja setelah tamat dari jurusan yang dimaksud. Selain itu, diadakan konsultasi pribadi guna lebih mempermudah siswa yang bersangkutan.
5. Pendidikan Lanjutan
Penempatan dan penyaluran ke dalam pendidikan lanjutan Sudah menjadi tugas konselor untuk membekali para siswanya yang akan keluar dari sekolah yang bersangkutan. Dan tentunya konselor harus benar-benar membuat rencana yang sistematis untuk memberikan bantuan dalam pengembangan dan penyusunan rencana berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tentang kekuatan dan kelemahan siswa dari segi-segi yang amat menentukan keberhasilan studi pada program pendidikan lanjutan tersebut, terutama segi kemampuan dasar, bakat, dan minat, serta kemampuan keuangan. Dalam pelaksanaan layanan penempatan siswa ke sekolah sambungan adalah sebagai berikut: Menyelidiki bakat, minat, kemampuan siswa,Menyediakan informasi lanjutan studi, Membantu siswa yang memerlukan bantuan sehubungan dengan kesulitannya dalam memilih lanjutan studi yang diinginkan.
6. Bidang Perkerjaan
Penempatan dan penyaluran ke dalam pekerjaan atau jabatan di samping penempatan dalam pendidikan lanjutan, sekolah juga harus membantu para siswa yang akan memasuki dunia kerja. Meskipun di sekeliling siswa tersedia banyak lapangan kerja namun tidak semua lapangan kerja itu cocok dan mudah untuk dimasuki. Sebagaimana halnya dalam dunia pendidikan, setiap bidang pekerjaan itu memiliki sifat dan ciri-ciri tersendiri. Oleh karena itu, diperlukan informasi pekerjaan.
Layanan penempatan dan penyaluran ini akan mencapai sukses jika mendapat dukungan yang kuat dari guru dan orang tua siswa. Apalagi trio “guru-konselor-orang tua” kompak dan matang dalam menangani layanan penempatan dan penyaluran demi kebahagiaan anak, sangat dapat diharapkan perkembangan anak berada pada jalur yang tepat. Walaupun masih menjadi kontroversi akan tetapi karakteristik kepribadian seseorang dipengaruhi oleh urutan kelahiran. Anak yang lahir sulung atau anak pertama cenderung lebih teliti, mempunyai ambisi, dan agresif dibandingkan dengan adik-adiknya. Anak tengah sering menjadi mediator dan pecinta damai. Anak bungsu cenderung paling kreatif dan biasanya menarik. Anak tunggal atau si anak semata wayang biasanya sering merasa terbebani dengan harapan yang tinggi dari orangtua mereka terhadap diri mereka sendiri. Mereka lebih percaya diri, supel, dan memiliki imajinasi yang tinggi. Karakteristik yang berbeda-beda pada individu dipengaruhi oleh perilaku orangtuanya berdasarkan urutan kelahiran.
2.3.4 Layanan Penguasaan Konten
Layanan penguasaan konten merupakan layanan yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu yang dimaksudkan untuk memungkiankan siswa memahami serta mengembangkan sikap dan kebiasaaan belajar yang baik, terutama kompetensi dan atau kebiasaan yang berguna dalam kehidupan di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Tujuan layanan konten yaitu agar siswa mengusai aspek-aspek konten (kemampuan atau kompetensi) tenu secara terintegrasi. Dengan penguasaan konten, individu (siswa) diharapkan mampu memenuhi kebutuhannya serta mengatasi masalah-masalah yang dialaminya. Oleh sebab itu, layanan konten juga bermakna suatu bantuan kepada individu (siswa) agar menguasai konten tersebut diatas secara terintegrasi.
Dalam perkembangan dan kehidupannya, setiap siswa perlu menguasai berbagai kemampauan atau kompetensi. Dengan kemampuan atau kompetensi itulah siswa hidup dan berkembang. Umumnya kemampuan atau kompetensi tertentu harus dipelajari. Dengan perkataan lain kepemilikan kemampuan atau kompetensi tertentu oleh siswa harus melalui proses belajar. Dalam rangka ini, sekolah harus bisa memenuhi kebutuhan belajar siswa.
A. Tujuan Layanan Penguasaan Konten
Menurut Prayitno (2004:2) tujuan umum layanan penguasaan konten yaitu agar siswa menguasai aspek-aspek konten (kemampuan atau kompetensi) tertentu secara terintegrasi. Dengan penguasaan konten (kemampuan atau kompetensi) oleh siswa, akan berguna untuk menambah wawasan dan pemahaman, mengarahkan penilaian dan sikap, menguasai cara-cara tertentu dalam rangka memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah-masalahnya. Dengan penguasaaan konten yang dimaksud itu pesrta didik yang bersangkutan lebih mampu menjalani kehidupanya secara efektif.
Tujuan khusus layanan penguasaan konten dapat dilihat pertama dari kepentingan peserta didik mempelajarinya, dan kedua isi konten itu sendiri.
Tujuan khusus layanan penguasaan konten terkait dengan fungsi-fungsi konseling menurut Prayitno (2004: 3) fungsi-fungsi tersebut adalah sebagai berikut:
1) Fungsi pemahaman
Guru pembimbing dan peserta didik perlu menekankan aspek-aspek pemahaman dari konten yang menjadi fokus layanan penguasaan konten.
2) Fungsi pencegahan
Fungsi pencegahan dapat menjadi muatan layanan penguasaan konten memang terarah kepada terhindar kannya individu/ atau peserta didik dari mengalami masalah tertentu.
3) Fungsi pengentasan
Fungsi pengentasan akan menjadi arah layanan apabila penguasaan konten memang untuk mengatasi masalah yang sedang dialami klien.
4) Fungsi Pengembangan dan pemeliharaan.
Penguasaan konten dapat secara langsung maupun tidak langsung mengembangkan disatu sisi, dan disisi lain memelihara potensi individu atau peserta didik.
5) Fungsi advokasi
Pengusaan konten yang tepat dan terarah memungkinkan individu membela diri sendiri terhadap ancaman ataupun pelanggaran atas hak-haknya.
Dalam menyelenggarakan layanan penguasaan konten guru pembimbing perlu menekankan secara jelas dan spesifik fungsi-fungsi konseling mana yang menjadi arah layanannya dengan konten khusus yang menjadi fokus kegiatanya.
B. Isi Layanan Penguasaan Konten
Konten merupakan isi layanan ini dapat merupakan satu unit materi yang menjadi pokok bahasan atau materi latihan yang dikembangkan oleh guru bimbingan konseling , kemudian diikuti oleh sejumlah siswa. Isi layanan penguasaan konten dapat mencakup :
1) Pengembangan kehidupan pribadi
2) Pengembangan kemampuan hubungan social
3) Pengembangan kegiatan belajar
4) Pengembangan dan perencanaan karir
5) Pengembangan kehidupan berkeluarga
6) Pengembangan bermasyarakat
7) Pengembangan beragama
Berkenaan dengan semua bidang pelayanan diatas dapat diambil dan dikembangkan berbagai hal yang kemudian dikemas menjadi topic atau pokok bahasan, bahan latihan dan atau kegiatan lain.
B. Pelaksanaan Layanan Penguasaan Konten
Layanan penguasaan konten terfokus pada dikuasinya konten tertentu oleh siswa yang memperoleh siswa yang memperoleh layanan. Oleh karena itu layanan penguasaan konten direncanaan, dilaksanakan, serta dievaluasi secara tertib dan akurat.
1. Perencanaan.
a. Menetapkan subjek (siswa) yang diberi yang diberi layanan.
b. Menetapkan dan menyiapkan konten yang akan dipelajari secara terperinci.
c. Menetapkan proses dan langkah-langkah layanan.
d. Menetapkan dan menyiapkan fasilitas layanan, termasuk media yang diperlukan.
e. Menyiapkan kelengkapan admidtrasi.
2. Pelaksanaan, yang mencakup:
a. Pelaksanaan kegiatan layanan melalui pengorganisasian proses pembelajaran penguasaan konten.
b. Menginplementasikan high touch dan high tech dalam proses pemberian layanan.
3. Penilaian terhadap layanan penguasaan konten diorientasikan kepada diperolehnya kelima dimensi belajar (tahu, bisa, mau, biasa, dan iklas) terkait dengan konten yang dipelajari. Dalam implementasinya penilaian terhadap layanan konten dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu : (a) penilaian sesegera yang dilakukan menjelang diakhirinya setiap kegiatan layanan; (b) penilaian jangka pendek; yang dilaksanakan beberapa waktu setealah kegiatan layanan berakhir (c) evaluasi atau penilaian jangka panjang yang dilaksanakan setelah semua program layanan selesai dilaksanakan. Waktunya relatif, tergantung luas dan sempitnya program layanan.
4. Tindak lanjut yang mencakup penetapan jenis dan arah tindak lanjut, mengkomunikasikan rencana tindak lanjut kepada siswa dan pihak-pihak lain yang terkait dan melaksanakan rencana tindak lanjut.
5. Laporan yang mencakup penyusunan laporan pelaksanaan layanan penguasaan konten, menyampaikan laporan kepada pihak-pihak terkait (khususnya kepala sekolah) sebagai penanggung jawab utama layanan bimbingan dan konseling di sekolah. Serta mendokumentasikan laporan layanan.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Layanan bimbingan dan konseling merupakan proses pemberian bantuan yang diberikan kepada siswa secara terus menerus agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri dan siswa dapat mencapai perkembangan yang optimal,sesuai dengan potensinya sehingga siswa sanggup mengarahkan dirinya sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Sejalan dengan visi tersebut, maka misi bimbingan dan konseling harus membantu memudahkan siswa mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya seoptimal mungkin, sehingga terwujud siswa yang tangguh menghadapi masa kini dan masa mendatang.
Layanan bimbingan dan konseling merupakan bagian yang integral dari keseluruhan proses pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tanggung jawab bersama antara personel sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, konselor, dan pengawas. Kegiatan bimbingan dan konseling mencakup banyak aspek dan saling kait mengkait,sehingga tidak memungkinkan jika layanan bimbingan dan konseling hanya menjadi tanggung jawab konselor saja
3.2 Saran
Sebaiknya kita sebagai calon pendidik yang langsung bersinggungan ataupun berinteraksi dengan peserta didik, diharuskan untuk menguasai dan memahami ilmu tentang bimbingan dan konseling meskipun bukan bertindak sebagai guru BK. Dan untuk calon/guru BK harus sebisa mungkin menjadi teman curhat dan tempat berkonsultasi peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Gazda, G.M. 1978. Group Counseling: A Developmental Approach, Boston: Allyn and Bacon.
Prayitno, 1987. Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor, Jakarta: P2LPTK.
Setyaningsih, Kris. 2009. Bimbingan Dan Konseling, Palembang.
Sukardi, Dewa Ketut. 2000. Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Jakarta: Rineka Cipta
Supriatna, Mamat. 2011. Bimbingan dan konseling berbasis kompetensi (orientasi dasar pengembangan profesi konselor), Jakarta: Rajawali Press.
Suryana, Ermis. 2009. Bimbingan dan Konseling di Sekolah, Palembang: Grafika Telindo Press.
Tohirin, 2008. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi), Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar